
Roy terkejut mendengar suara tembakan beruntun sebanyak tiga kali. Ia yang baru masuk ke dalam gedung dengan menenteng makan malam untuk sang bos langsung berlarian. Tujuannya adalah ruangan Finn.
Dengan napas tersengal-sengal. Roy mendorong pintu secara kasar dan berteriak, “BOS!”
Sepersekian detik kemudian terdiam. Di hadapannya kini bukan hanya ada Finn, tetapi juga Sandra.
Posisi Finn duduk dengan menatap lekat Sandra. Roy melirik ke arah belakang sang bos, terdapat tiga jejak lubang peluru di dinding.
Istri dari sang bos pun tengah bersimpuh di atas lantai. Terlihat kepala Sandra menunduk dan menangis dengan tubuh bergetar hebat. Jangan lupakan pistol di tangan yang masih menggenggam erat.
Tenggorokan Roy rasa tersekat dan ia terkelu. Sang asisten mundur perlahan kemudian keluar ruangan.
Roy tak mau mengganggu sepasang suami-istri yang tengah meluapkan emosi. Ia akan membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya berdua.
Keheningan menyelimuti ruang kerja Finn. Ia dan Sandra masih tetap di posisi semula.
Beberapa saat kemudian secara perlahan, Finn beranjak bangun. Menghampiri Sandra. Ikut bersimpuh. Kemudian, baru saja ingin menyentuh bahu sang istri. Akan tetapi, urung setelah mendengar suara teriakan dari wanita tercinta.
“JANGAN BERANI MENYENTUHKU! BERENGSEK! BAJINGAN!” teriak Sandra mengangkat kepala, menatap lekat Finn. Wajahnya basah oleh air mata.
“Maaf.” Finn menatap Sandra sendu.
“MAAF? SEMUDAH ITU? KAMU INGIN MATI, HAH? KENAPA HARUS MENUNGGUKU MEMBUNUHMU? Kamu jahat.” Di akhir kalimat Sandra berkata lirih. Ia kembali menunduk lemah dan masih dengan tangisan yang sama.
Tak tahan melihat tangisan yang semakin menyayat, Finn memberanikan diri memeluk Sandra. Tak peduli sang istri berontak. Ia semakin mengeratkan pelukan.
“Maaf.”
“Bajingan. Kamu bajingan,” lirih Sandra. Ia sudah berhenti berontak, tetapi masih menangis.
“Maaf. Maaf. Maaf.” Finn menarik semakin dekat tubuh Sandra. Menciumi puncak kepala sang istri.
“Berengsek! Kamu ingin meninggalkanku sendirian di dunia? Kamu tega!” Sandra memukul punggung Finn pelan.
“Kalau kamu sudah tidak menginginkanku. Lantas untuk apa aku hidup.”
“Bodoh! Kenapa tidak memperjuangkanku seperti dulu kamu mengejarku?”
“Aku tidak tahu caranya. Aku hanya takut Ayah Theo kembali sakit kalau memaksakan diri menerjang rumahmu. Aku bukan hanya menyayangimu. Tapi, juga keluargamu.”
Sandra terdiam. Ia mulai membalas pelukan Finn. “Aku merindukanmu.”
“Aku pun sangat merindukanmu, My Bee. Bahkan, setiap hari ruang rindu semakin menganga karena selalu teringat kamu.”
__ADS_1
Hening!
Sepuluh menit kemudian
Sandra sudah berhenti menangis. Namun, Finn masih enggan untuk melepas pelukan. Kerinduan membuatnya tak rela melakukan hal tersebut. Mereka berdua pun membisu sesaat dengan pemikiran masing-masing.
“Katakan semua. Jangan ada yang kamu sembunyikan. Aku benci dipermainkan. Sesakit apa pun aku akan mendengarkan. Jika setelah ini kita pun harus berpisah. Aku terima,” kata-kata dengan nada sedih dari Sandra memecah keheningan.
Finn menggeleng. “Demi Tuhan, Bee. Jangan katakan itu. Aku mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu.” Ia semakin mengeratkan pelukan karena takut kehilangan.
Hening!
Satu jam kemudian
Sepasang suami-istri itu sepakat akan menyelesaikan urusan yang tertunda malam ini juga. Sandra memilih rooftop gedung Field Construction sebagai lokasi pembicaraan serius. Katanya, agar embusan angin malam bisa menerbangkan emosi yang tengah melekat. Sehingga otak menjadi lebih bisa berpikir jernih dan tidak kusut.
Finn dan Sandra duduk di atas lantai dengan bersila. Mereka bersandar pada dinding bangunan gedung dekat pintu. Netra menatap lurus ke depan, hanya sesekali memandang ke arah langit.
“Wanita selingkuhanmu adalah mantan kekasih Tristan. Mereka putus karena perempuan itu berselingkuh dengan pria lain di Ausie. Ia juga memeras uang abangku. Kamu tahu kisah itu, bukan?” Sandra berbicara langsung pada inti.
“Apa? Jadi ...,” Finn terkejut bukan main sehingga tak bisa berkata apa pun lagi. Ia memang tahu betul kisah tersebut dari Sandra. Tapi, sayang tak tahu wajah mantan kekasih Tristan.
“Selingkuhanmu ....”
Sandra tersenyum sinis. Menatap Finn lekat. Mengembuskan napas secara kasar. “Kalian tidur bersama?”
Finn menggeleng cepat seraya menggenggam tangan Sandra. “Tidak. Aku tidak pernah tidur dengan wanita mana pun selain kamu.”
Sandra terkejut. Ia menyipitkan mata ke arah Finn. Pikirannya traveling. Sang suami yang notabene seorang playboy, bahkan media memberi label sebagai casanova. Lantas, sekarang bilang tak pernah bermain-main di atas ranjang dengan perempuan?
Selang beberapa menit kemudian Sandra tertawa. Di sela tawanya ia berujar, “Finn, oh, Finn. Lelucon macam apa yang baru saja kamu katakan? Sungguh menggelikan. Jangan bilang kalau kamu masih perjaka saat menikahiku?”
“Memang kenyataannya begitu. Aku berkata jujur.”
“Oh, ya?” Sandra masih ragu. Akan tetapi, tak memungkiri ada sejumput rasa senang menjadi yang pertama dan satu-satunya juga.
“Kamu tahu? Aku tak pernah mengatakan hal tersebut karena yakin reaksi orang yang mendengar ... pasti sepertimu. Tak percaya dan tertawa mengingat reputasi burukku. Nasib seorang playboy. Aku bisa apa.” Finn berbicara dengan nada dan wajah serius.
Sandra berhenti tertawa. Sesaat kelu oleh ucapan Finn barusan. Kemudian, ia melepaskan genggaman tangan sang suami dan beranjak bangun. Melangkah menuju pembatas berdinding beton setinggi dada. Berdiri di sana seraya menatap ke bawah.
Finn turut bangun dan mengekor sang istri. Ia berdiri tepat di sebelah Sandra dengan pandangan mengarah ke langit.
“Bukankah media banyak memberitakan mengenai itu? Bahkan, beberapa mantanmu mengatakan hal tersebut.”
__ADS_1
“Mereka hanya membual karena sakit hati aku putus begitu saja.”
“Kenapa tidak pernah mengklarifikasi kepada media agar namamu bersih?”
“Aku bukan pria pengangguran yang punya banyak waktu mengurusi hal tersebut. Lagi pula, apakah mereka akan percaya? Aku malas beradu argumen masalah tak penting.”
“Tak penting? Itu demi nama baikmu.”
“Jika mengetahui orang yang kita ajak berbicara tak mau percaya. Bukankah, hanya akan membuang waktu saja. Namun, lain hal sekarang. Kamu penting bagiku. Saat ini, kamu sedang tidak memercayaiku. Maka, aku akan meyakinkanmu.”
Sandra menoleh. “Ya, buatlah aku yakin jika masih ingin melihat rumah tangga kita tetap berdiri.”
Finn menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Ia menceritakan perihal masalah di club dengan gamblang.
Niat awal hanya mau menyegarkan pikiran, tetapi tiba-tiba Kanaya datang. Finn mengatakan jika hanya mengobrol. Meski sesekali tertawa.
Peristiwa beberapa waktu lalu di Club ...
“Mau bermalam denganku, Tuan Tampan? Aku pastikan kau tak akan melupakan malam ini seumur hidupmu,” ucap sang wanita dengan aksen manja. Tangan pun bergerilya menyentuh lengan Finn sampai ke jemari. Menautkan kedua jari mereka kemudian tersenyum menggoda.
Finn membiarkan kelakuan genit wanita tersebut. Kemudian, tersenyum dengan sorot mata berkabut gairah.
“Menarik.”
Perempuan berpakaian seksi itu tersenyum penuh kemenangan. “Ayo!” Wanita tersebut beranjak bangun dan menarik tangan Finn agar mengikutinya. Masuk ke kamar yang memang tersedia di Club.
Ketika berada di dalam berdua. Wanita itu dengan cepat menarik jas Finn hingga terlepas.
Akan tetapi, saat Finn ingin menutup pintu, tanpa sengaja melihat cincin pernikahannya dengan Sandra. Seketika kewarasan kembali.
Tanpa menoleh lagi ke arah wanita itu, Finn keluar dari kamar. Panggilan perempuan tersebut pun tak digubris.
Finn melangkah dengan cepat. Saat itu pun langsung meninggalkan Club. Ia langsung menaiki taksi biru. Kemudian, meminta kepada sopir agar mengantarnya ke Liam Group.
Begitu tiba, langsung masuk gedung. Menaiki lift menuju ruangannya di lantai 20.
Lalu, memasuki ruangan dengan gusar. Ia mengambil satu botol alkohol di lemari kaca.
Finn berteriak. Meneriakkan nama Sandra. Kemudian, menenggak minuman tersebut.
Finn membuka sepatu dan kaus kakinya. Lantas, masuk ke dalam ruang istirahat. Ia kembali menenggak minuman hingga tandas dan membuangnya ke lantai. Lalu, menelungkupkan diri di atas kasur.
Di tengah pengaruh alkohol, Finn terus menceracau memanggil nama Sandra. Mengatakan cinta. Hingga akhirnya terlelap.
__ADS_1
Lanjut gak, nih?