
"Bunuhlah ako kalau kau mampu, aku tidak takut mati! Kalau tidak, kau yang ke neraka!" balas seru Siok Lee dengan geram.
Thian Sung menjadi marah dan sengaja ia melepaskan sebatang senjata lempar dengan pengerahan tenaga khusus, tidak seperti senjata-senjata lempar lain.
Senjata lempar ini sangat luar biasa sekali, menyambar cepat dan terdengarlah Siok Lee mengeluh dan tubuhnya terhuyung-huyun, karena senjata lempar itu telah telah menyerempet pahanya.
Biarpun tidak hebat luka nya, namun membuat kakinya setengah lumpuh karena pengarah racun yang terkandung di ujung senjata lempar itu.
"Ha...ha....ha...! kau masih belum menyerah rupanya! Ingin semua kubunuh termasuk cucumu!" seru Thian Sung yang mengancam.
"Lebih baik kami mati semua daripada menyerah, manusia busuk!" maki Siok Lan sambil menolong kakeknya.
Sementara itu setan kipas merah yang sudah mengobati bahu kirinya meloncat dan berteriak dengan suaranya lantang.
"Jangan kira kami adalah orang orang pengecut seperti kamu! Kami akan melawan sampai titik darah terakhir, dan setelah kami yang sebagai pimpinan tewas jangan mengira kalau anak buah kami akan tunduk begitu saja. Merekapun adalah patriot-patriot sejati, orang-orang gagah yang memilih kematian daripada menjadi abdi penjajah terkutuk!" seru Setan kipas merah dengan geramnya.
Ucapan Setan kipas merah ini rupanya sebagai semangat para pejuang dan disambut sorak-sorak riuh pasukan pejuang yang mengacung-acungkan senjata mereka.
"Kami akan lawan!"
"Kami lawan sampai mati...!"
Yang tadinya para anak buah pasukan pejuang sudah mengendur semangat juangnya, gentar karena menyaksikan pimpinan mereka banyak yang tewas.
Terutama sekali anggota perkumpulan sabuk sutra merah yang kehilangan ketuanya, anak buah Huang ho yang kematian tiga orang pemimpin dan hanya anak buah pimpinan Yang tek, Gui Siong, Han wen dan Tan Li saja, bekas bekerja paksa itulah yang masih bersemangat tinggi.
Saat melihat sikap Siok Lee yang biarpun sudah tua namun masih bersemangat baja, dan sikap si Setan kipas merah yang gagah perkasa kembali bersemangat. Dengan suara bulat mereka bertekad untuk melawan sampai titik darah orang terakhir.
Melihat sikap semua pejuang ini, kemarahan Thian Sung tak dapat ditahan lagi. Dia menggerakkan tangan hendak mengeluarkan perintah membasmi semua pemberontak yang dianggapnya tak tahu diri itu.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang membuatnya terkejut, dan Thian Sung menebarkan pandangannya untuk mencari sesosok pemilik suara perempuan itu.
"Thian Sung! sebagai seorang panglima tinggi seperti kau, apakah tidak malu menjilat ludah yang dikeluarkannya sendiri!"
__ADS_1
Yang menegurnya itu adalah seorang cantik dan gagah, berpakaian serba putih, dan saat ini berdiri menghadap Thian Sung dengan tatap mata yang tajam.
Gadis itu menunjukkan sikap garang, menudingkan sebatang ranting kayu kecil yang yang masih ada dua helai daunnya di ujung ranting.
Thian Sung tidak mengenal gadis ini juga tidak melihat ada diantara para pimpinan pemberontak. Sikap dan pakaian pemuda ini, sepertinya memang biasa saja. Sama sekali tidak menimbulkan kesan pendekar.
Akan tetapi pandang matanya demikian mengerikan, tajam menembus jantung dan penuh keangkeran.
"Hm, siapa kau dan apa artinya ucapan yang lancang tadi!" seru Thian Sung dengan membentak, suara nya mengguntur karena ia marah sekali.
Kalau seorang tokoh besar seperti Siok Lee masih tidak mampu melawannya apa pula pemuda sederhana ini.
Thian Sung merasa bukanlah seorang pengecut dan kejam terhadap bangsa seperti yang ia katakan . Dia merasa tidak senang harus bertanding melawan bekas sahabat seperjuangan dahulu, hatinya sakit karena terpaksa membunuh karena dia mengemban tugas.
"Namaku tidak menjadi soal, akan tetapi perlu kau ketahui bahwa aku adalah seorang di antara para pejuang. Ucapanku tadi tidak lancang, karena sesungguhnya amat memalukan kalau seorang panglima seperti engkau menjilat ludah sendiri. Bukankah kau janjikan kebebasan apabila kau kalah dalam pertandingan. Nah, pertandingan belum juga habis engkau sudah hendak mengerahkan pasukan untuk membasmi kaum pemberontak!" seru pendekar wanita yang tak lain adalah Xiao Yu yang tak lagi menyamar sebagai Yu Tian, yang seorang laki-laki si pelayan Siok Lan.
"Apa kau bilang? belum habis? Eh, anak kemarin sore dengarkan kata-kataku. Semua pimpinan pemberontak sudah ku kalahkan. Siapa lagi yang masih berani melawan aku? Hayo, siapa lagi orangnya di antara para pemberontak yang berani menghadapi pedang dan senjata lemparku! Siapa berani bertanding dengan panglima besar Thian Sung!" seru Thian Sung dengan sombongnya.
"Yu Tian! eh, kau seorang perempuan!" seru Siok Lan yang terkejut saat kenal suara pelayannya dan sangat terkejut saat melihat sesosok tubuh yang ada dihadapannya itu.
Siok Lan sangat terkejut dan tak percaya. Gadis yang ada dihadapannya saat ini adalah pelayannya yang selama ini dia kenal sebagai seorang laki-laki.
Karena terkejutnya, tanpa disadarinya lagi ia sudah meloncat dan lari meninggalkan kakeknya, untuk menghampiri Xiao Yu dan memegang lengan gadis itu .
"Yu Tian, apakah ini benar kamu?" tanya Siok Lan yangbterus memandang Xiao Yu.
"Iya, nanti akan saya jelaskan! sekarang saya akan melawan dia!" jawab sekaligus seru Xiao Yu seraya menunjuk ke arah Thian Sung.
"Banyak jalan kematian, mengapa memilih mati konyol ! Dia bukan lawanmu. Biarlah aku yang menggantikan mu! Hayo, Thian Sung kau lawan aku saja !" seru Siok Lan yang kini menghadap ke arah Thian Sung.
Pemuda itu dengan sikap gagah mencabut pedangnya, Xiao Yu tersenyum dan memegang kedua lengan pemuda itu.
"Kakak Siok Lan, harap kau mundur, tenang saja pelayanmu ini tidak akan begitu saja dibunuh orang!" ucap Xiao Yu dengan suara halus dan penuh perasaan.
__ADS_1
Siok Lan hendak meronta akan tetapi alangkah heran dan kagetnya ketika ia merasa betapa kedua lengannya sama sekali tidak dapat digerakkan dalam genggaman tangan bekas pelayannya itu.
Ia penasaran dan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya di tubuhnya disalurkan ke arah kedua lengan. Namun sia-sia, sedikit pun ia tidak dapat bergeming.
Dengan keheranan Siok Lan mengangkat wajahnya, menatap wajah pelayannya yang ternyata seorang gadis itu yang tersenyum senyum kepadanya.
"Siok Lan!"
Panggilan ini datang dari mulut kakek Siok Lan.
"Kakekmu sedang memanggil, kau kesanalah dan tenangkan hatimu, tuan muda eh kakak Siok Lan!" ucap Xiao Yu yang lirih, namun bisa didengar oleh Siok Lan.
Semua peristiwa ini demikian mengherankan dan mengejutkan hati Siok Lan. Ia merasa seperti dalam mimpi. Yu Tian ternyata seorang gadis sesuai dengan yang dia impikan.
Siok Lan melihat Xiao Yu kini menantang untuk bertanding pada Thian Sung yang demikian lihai sehingga kakeknya sendiripun tidak mampu mengalahkannya.
Seperti dalam mimpi, mendengar dan melihat Yu Tian yang seorang gadis itu. Kemudian Siok Lan berjalan perlahan menghampiri kakeknya.
Siok Lee yang pahanya terluka itu sudah ditolong oleh Setan kipas merah yang menaruhkan obat dan membalutnya . Kini kakeknya sudah bangkit berdiri memandang cucunya dengan mata terbelalak dan segera ia menegur Siok Lan begitu pemuda itu datang dekat.
"Siok Lan! Bagaimana kamu begitu berani kurang ajar! kau menyebut dia Yu Tian? Apa-apaan ini? Siapa itu Yu Tian ?" tanya Siok Lee yang penasaran.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1