Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Ulah Setan Kipas Merah


__ADS_3

Pemuda dengan pakaian merah itu terus mencari keberadaan Ling Ling yang menjadi sasarannya.


Pemuda itu menghampiri laki-laki dan wanita setengah baya, yang tak lain adalah orang tua dari Ling Ling.


"Kalian berdua! beritahu pada saya dimanakah putri kalian berada?" tanya setan kipas merah dengan nada sedikit mengancam.


"Ka..kami tidak tahu tuan!" jawab laki-laki tua itu dengan sedikit gemetaran.


"Bohong! apa kalian mau lebih cepat ke neraka?" tanya Setan kipas merah dengan ancaman.


"Ka..kami tidak bohong tuan." ucap wanita tua yang dengan sedikit gugup.


"Oh begitu ya!" seru setan kipas merah yang bersiap melemparkan kipas merahnya.


"A..apa yang akan anda lakukan tuan?" tanya laki-laki tua itu yang mencoba menebak apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu.


"Tentu saja membuat kalian berdua ke neraka!" jawab setan kipas merah dengan kesalnya. Dan dia bersiap mengayunkan kipasnya ke arah orang tua Ling Ling.


"Hentikan!" seru seorang gadis yang dari luar rumah dan dengan tergesa-gesa masuk dan menghadang setan kipas merah yang hendak menyerang sepasang orang tua itu.


"Oh, akhirnya kamu muncul juga!" seru setan kipas merah dengan mengulas senyumnya.


"Jangan kamu bunuh orang tuaku! baiklah aku akan ikut denganmu!" seru Ling Ling yang menatap kedua orang tuanya dengan rasa khawatir.


"Ling'er jangan ikut dia putriku!" ucap ibu Ling Ling yang nampak sangat mengkhawatirkan putrinya.


"Jangan khawatir ibu, doakan ananda ya ibu dan ayah." ucap Ling Ling seraya memeluk kedua orang tuanya satu-persatu.


"Nah dari tadi begini kan lebih baik. Menyerahkan diri dengan suka rela tanpa aku harus mengejar dan mengancam orang tuamu!" seru setan kipas merah dengan senyum sinisnya dan kemudian menotok gadis itu, sehingga Ling Ling tak sadarkan diri.


"Pak, putri kita!" Isak tangis ibunda Ling Ling yang melihat ketidak berdayaan mereka berdua untuk menolong putrinya di tangan setan kipas merah.


"Kita tak bisa berbuat apa-apa lagi Bu!" ucap ayah Ling Ling yang pasrah melihat putri mereka dibawa setan kipas merah.


Kemudian setan kipas merah melangkahkan kakinya menghampiri Ling Ling, lantas melingkarkan tangan kananya ke pinggang Ling Ling.


"Ikutlah denganku, dan jangan lagi kamu memberontak! atau kamu tak akan melihat ibu kamu lagi!" bisik Setan kipas merah yang kemudian menghentakan kakinya dan dengan membawa Ling Ling, setan kipas merah melesat ke arah rumah sepasang Lansia yang kemarin dia datangi.

__ADS_1


Malam semakin larut dan tak ada seorangpun keluar dari rumah masing-masing, Sehingga bayangan merah melintas dengan leluasanya.


Dan berhentilah bayangan merah yang membawa seorang gadis yang memakai pakaian biru itu tepat di depan pintu sebuah rumah yang kemarin didatang si setan kipas merah.


"Aku tak mau membuat tetangga sekitar rumah ini bangun dan curiga, biarlah aku seperti umumnya orang bertamu." gumam dalam hati Setan kipas merah, yang kemudian mengetuk daun pintu yang ada dihadapannya.


"Tokk...tokk....tokk...!"


Tak berapa lama terbukalah pintu dan nampaklah laki-laki yang sudah lanjut usia membukakan pintu.


"Ohw, rupanya kamu jadi kesini ya?" tanya si kakek yang memberi jalan pada setan kipas merah dan juga Ling Ling.


"Tutup mulutmu dan tutup pintunya!" seru setan kipas merah yang terus melangkah menuju ke ruang tamu.


Sementara itu si kakek setelah menutup pintu rumahnya, melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu dan melihat Setan kipas merah yang mendudukkan Ling Ling di kursi yang telah tersedia.


Laki-laki itu memandang gadis yang dibawanya dengan sumringah dan takjub akan kecantikannya, sampai tak sadar dia membelai dengan lembut rambut Ling Ling.


"Hm, anak muda! kamar yang sudah kami persiapkan ada di ujung sana!" ucap si kakek saat menghampiri Setan kipas Merah, dan kemudian menunjuk ke arah ruangan yang ada di sudut rumahnya.


Tiba di depan pintu kamar itu, si kakek membukakan pintu dan setan kipas merah pun masuk melalui pintu tersebut.


"Kalau tidak ada yang diperlukan lagi, saya permisi anak muda!" ucap si kakek yang hendak membalikkan tubuhnya.


"Tunggu!" seru setan kipas merah yang menatap ke arah si kakek. Dan si kakek dengan terpaksa menoleh ke arah setan kipas merah.


"Apa yang bisa saya bantu?" tanya si kakek yang penasaran.


"Kalian punya arak tidak? kalau punya, bisa sediakan kemari bersama makanannya!" perintah setan kipas merah.


"Maaf anak muda, kami hanya orang tua yang miskin. Kami tak menyediakan arak dan untuk makanan harus menunggu esok hari kami mengambil sayuran dari kebun." jelas si kakek yang sedikit gemetaran.


"Sial! ya sudah pergi sana! dan jangan ganggu kami!" seru Setan kipas merah yang membanting pintu kamar itu.


"Brakk...!"


Hampir saja si kakek melompat karena suara pintu yang ditutup dengan keras oleh setan kipas merah.

__ADS_1


Si kakek itu mengusap dadanya dengan menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan seraya melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.


Sementara itu setan kipas merah yang masih dalam kondisi membopong Ling Ling. Setelah menurunkan Ling Ling di atas tempat tidur, segera setan kipas merah menutup dan mengunci pintu kamar tersebut.


Setan kipas merah membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menghampiri Ling Ling yang masih terbaring dalam kondisi tertotok diatas tempat tidur.


"Hm, kamu cantik dan menawan sekali, wajahmu yang halus dan ah..bibirmu itu! rasanya ingin hissap sekarang juga!" ucap lirih setan kipas merah seraya mengusap dengan lembut wajah dan lanjut ke bibir Ling Ling.


Gadis yang dalam kondisi tertotok itu hanya bisa membelalakan kedua matanya, dan hanya bisa pasrah karena dia tak bisa berbuat apa-apa.


Setan kipas merah perlahan mendekatkan bibirnya ke dahi, lanjut kedua pipi mulus Ling Ling dan kemudian melummat dengan perlahan bibir mungil Ling Ling.


Rasa mual naik dari perut gadis itu dan dia berusaha meronta, tapi hal itu sia-sia saja. Sebab totokan itu membuatnya sungguh tak berdaya. itu


Setan kipas merah itu kemudian naik ke atas tempat tidur, dan dia seperti orang gila atau mabok terus menciumi mulut Ling ling.


Saking marah dan muaknya, Ling Ling lalu membuka mulut tetapi bukan buat membalas ciuman mesra itu, melainkan buat menggigit bibir Setan kipas Merah yang sekarang ini posisinya sedang mendekapnya.


"Auwh....!" Setan kipas Merah kesakitan dan terpaksa melepaskan bibirnya dari bibir Ling Ling dan sambil duduk disamping tubuh Ling Ling.


Dirabanya bibir yang berdarah itu, matanya melotot, akan tetapi ia tersenyum. Mukanya merah serta pandangan matanya bersinar-sinar.


"Aih kekasihku! kau nakal sekali. Betapa kejamnya dirimu melukai bibirku!" ucap Setan kipas merah dengan genitnya.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


"

__ADS_1


__ADS_2