Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Perlawanan Setan Kipas Merah


__ADS_3

Sementara itu Setan kipas merah tidak memperdulikan kekurang-ajaran itu, karena setan kipas merah sedang memperhatikan percakapan mereka.


Sambil tertawa Han Siang menceritakan kepada bawahannya tentang seorang tawanan mereka yang lepas dan itu menarik bagi Setan kipas merah.


"Ha...ha....ha...! kalian akan melihat sendiri nanti.Tawanan itu adalah pemuda yang gagah perkasa dan cucu dari Siok Lee, dengan julukan Si Bayangan Dewa!" ucap perwira pimpinan pasukan itu.


Kemudian mereka mengatur strategi untuk menangkap kembali Siok Lan dan para pejuang lainnya.


"Bagaimana dengan gerakan dari pemberontak yang dipimpin Huang ho tuan?" tanya salah satu prajurit yang mengingatkan.


"Ha...ha....ha....! memang sengaja kubiarkan saja mereka itu agar kurang waspada. Akan tetapi kalian bersiaplah untuk melakukan penyembelihan karena aku sudah mengatur pasukan untuk penyergapan dan penangkapan agar mereka dihabiskan. Dan kalau nanti sampai dapat menangkap hidup-hidup dua orang gadis pemimpin para pelarian itu, itu bagian saya! ha..ha..!" perintah Han Siang dengan gelak tawanya.


Ketika mereka sedang bercakap-cakap, tiba-tiba datang dua orang penjaga yang langsung melapor kepada Panglima Ban Ciang.


"Pasukan yang disuruh mengumpulkan tenaga ke Utara sudah tiba, mohon keputusan panglima!"


"Wah akhirnya panglima Guang sudah kembali! Cepat suruh dia datang menghadap!" seru Han Siang dengan mengulas senyum merekahnya.


Tak berapa lama panglima Guang datang, seorang laki laki tinggi besar bermuka hitam bersikap kasar sekali dan dengan bangga sambil tertawa memamerkan hasil pekerjaannya kepada atasannya, yaitu selain ribuan orang pekerja paksa, juga lebih dari lima puluh wanita muda yang mereka culik dari tempat sepanjang perjalanan mereka.


"Ha...ha....ha...! kerja yang bagus panglima Guang. Jangan khawatir raja pasti akan memberikan hadiah atas jasamu kali ini, akan ku catat lalu sampaikan ke kota raja. Mari kita lihat sama-sama hasil tangkapan kita, saudara Guang!" seru panglima Han Siang seraya merangkul panglima Guang.


"Ha...ha.....ha...! Semua rekan tentu akan mendapat bagian!" seru panglima Guang sambil tertawa puas.


Para Prajurit pun menjadi gembira sekali karena mereka akan mendapatkan penghibur baru, juga para prajurit rendahan bergembira karena atasan mereka mendapatkan yang baru tentu yang lama akan dilemparkan kepada mereka.


Kemudian panglima Guang bertepuk tangan memberi isyarat kepada anak buahnya.


Tak berapa lama datanglah serombongan gadis-gadis yang cantik-cantik dan pemuda-pemuda lugu dengan isakan tertahan ketika mereka digiring menghadap kedua panglima tersebut.


"Tarr.....tarr....!"


Terdengar suara cambuk yang dibunyikan oleh panglima Guang, karena panglima Guang ini memang seorang ahli bermain cambuk dan permainan cambuknya ini yang telah banyak merenggut nyawa.


Dia mengeluarkan cambuknya


untuk menakut-nakuti para tawanannya.

__ADS_1


"Ayo berbaris dengan rapi, jangan ada yang menangis! kalian harus tersenyum pada kami! Ha...ha....ha...!" seru panglima Guang dengan gelak tawanya.


Sebagian besar gadis-gadis dan pemuda-pemuda dusun yang lugu, dan mereka dengan wajah ketakutan berbaris seperti sekawanan domba digiring ke tempat penyembelihan.


Tiba-tiba panglima Guang melompat ke depan mendekati seorang pemuda yang paling tampan diantara para tawanan lainnya.


"Hei! siapa kau!" seru Panglima Guang dengan menunjuk pada pemuda itu, tapi pemuda itu hanya diam dan menatapnya tajam.


"Kenapa baru sekarang aku melihatmu?" lanjut tanya panglima Guang yang penasaran karena wajah pemuda itu tak seperti pemuda desa umumnya.


Pemuda itu tak lain adalah setan kipas merah yang menyelinap mendekati puluhan pemuda desa yang itu, dengan niat hendak mendekati Panglima Han Siang dan menyerangnya secara tiba tiba.


Karena menurutnya, jika berhasil membunuh seorang Han Siang saja, merupakan keuntungan besar karena panglima ini adalah kepala dari semua barisan di An bun.


Tak disangka sebelum setan kipas merah mendekati Panglima Han Siang, ketahuan oleh panglima Guang yang menegurnya dan kemudian mendekatinya dengan cambuk di tangan.


"Tarr.....tarrr.....!"


Cambuk panglima Guang berbunyi keras dan berubah menjadi segulung sinar hitam yang menyambar-nyambar dari atas.


Tiba-tiba ujung cambuk itu telah melibat tubuh setan kipas merah dan membuat kedua lengannya terikat. Hal ini membuktikan betapa ampuhnya cambuk ini dan betapa pandainya panglima Guang dalam bermain cambuk.


"Hei kamu ikut bersamaku lebih dahulu!" seru panglima Guang dengan menarik gagang cambuknya sehingga tubuh Siauw Hu tertarik keluar dari barisan pemuda-pemuda lugu itu.


"Eh, Saudara Guang! hendak kau bawa ke mana dia?" tanya Panglima Han Siang yang menatap dengan rasa penasaran.


"Maaf saudara Han!. Saya tidak berani melepaskan pemuda ini sebelum memeriksanya. Dia mencurigakan, siapa tahu akan mendatangkan bahaya. Kalau sudah saya periksa dan ternyata tidak apa apa tentu akan saya antarkan kepada saudara Han!" jawab Panglima Guang seraya memberi hormat.


Panglima Han Siang menganggukan kepalanya tanda menyetujui maksud panglima Guan. Kemudian panglima Guang menarik cambuknya.


"Ayo, kau ikut aku sebentar" seru panglima Guang dengan kasar.


"Aku di pilih panglima Han, kenapa kamu menghalangi? Dasar tak tahu malu !" seru setan kipas merah dengan mencoba untuk membantah.


Tapi perwira tinggi besar itu sudah menyeret cambuknya sehingga setan kipas merah terpaksa menggerakkan kaki mengikutinya.


Tak perduli dengan suara tertawa oleh para perwira iain yang menyaksikan adegan ini dengan senangnya.

__ADS_1


"Kalau dia mata-mata, serahkan kepadaku saja!" teriak salah satu prajurit.


.


"Ha...ha...ha...! jangan kalian mimpi! Kalau dia tidak berdosa, tentu panglima Han yang akan memilikinya. Tapi kalau dia ternyata seorang mata-mata musuh, maka aku sendiri sudah tahu bagaimana caranya menghukum seorang mata-mata!" seru panglima Guang dengan senyum lebarnya.


Setan kipas merah menahan kemarahannya sambil menanti kesempatan baik karena dia tidak sembarangan menuruti perasaannya, maka ia sengaja terhuyung huyung ketika ditarik memasuki sebuah ruangan.


Kemudian panglima Guang itu menutup dan mengunci pintu ruangan itu dari dalam.


"Cepat katakan siapa kamu!" seru Panglima Guang dengan geramnya.


Setan kipas merah hanya diam dan pura-pura tertunduk ketakutan.


"Apakah kamu itu mata-mata kaum pemberontak yang dikirim mereka dan sengaja menyelundup masuk ke An Bun, hah!" lanjut seru Panglima Guang sambil menggerakkan gagang cambuknya dan tubuh yang tadinya terbelit cambuk, kini terputar di dalam kamar lalu roboh berlutut di atas lantai.


"Ayo cepatlah mengaku!" teriak panglima Guang dan kembali menggerakkan cambuknya.


"Tarr...tarr....tarr...!"


Ujung cambuk melecut-lecut ke arah tubuh Setan kipas merah. Pemuda itu malah sengaja menggerak-gerakkan tubuhnya seperti tidak disengaja.


Setan kipas merah tiba-tiba menubruk dan merangkul panglima Guang. Dan tanpa disadari oleh panglima Guang, kalau setan kipas merah telah menotok jalan darah di leher panglima Guang.


Hal itu membuat panglima Guang tak dapat mengeluarkan sedikitpun suara dan akhirnya roboh diatas lantai, kemudian setan kipas merah merampas cambuk milik panglima Guang.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2