Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Kelihaian Lidah tak bertulang


__ADS_3

"Siapa bilang dengan tangan kosong? Siapa bilang pula bersenjata! Tentu saja dua macam pertandingan kan? Pertama dengan tangan kosong, kedua dengan senjata!" seru Xiao Yu yang membantah ucapan Cui Hwa.


"Baik, dengan tangan kosong lebih dulu!" seru Cui Hwa yang sudah dalam posisi bersiap.


"Heeeeiiit, Stop dulu !" seru si tukang perahu yang cepat mundur dengan ketakutan.


"Hei, apa maksud kamu!" balas seru Cui Hwa yang keheranan.


"Pendekar! kenapa kamu gegabah? Aku kan belum menyatakan cara dan pilihanku, kamu sudah tergesa-gesa! Yang kumaksudkan dengan tangan kosong bukan sekali kali untuk memukul orang ! Pendekar, jangan curang!" seru A bo yang takut jika ia dipukul.


Karena itulah A bo berusaha mundur seperti orang hendak melarikan diri. Tapi Xiao Yu dari belakang mendorong punggung nya maju.


"A bo, jangang takut banyak saksi hidup di tempat ini. Kau harus memberi kuliah kepada pendekar itu, agaknya pendekar itu mengira bahwa Tuhan mnciptakan manusia diberi tangan hanya untuk memukul orang saja!" ucap Xiao Yu.


"Dasar pengecut!" umpat Cui Hwa, dengan tangan kiri bertolak pinggang, telunjuk tangan kanan menudingkan ke arah wajah A bo.


"Kalau memang tidak berani, mundur saja dan biarkan majikan kamu yang maju ! Mulutmu yang buruk tadi menantang dengan tangan kosong, kemudian dengan senjata! Apakah engkau hendak menjilat ludah sendiri?" seru Cui Hwa dengan geram.


"Sama sekali tidak pendekar. Aku tetap dengan tantangan saya pada anda.. Pertama dengan tangan kosong, yang saya maksudkan itu kita berdua terjun ke sungai dan menangkap ikan dengan tangan kosong. Siapa lebih cepat dapat menangkap ikan, dialah pemenangnya! Nah siapa bilang peraturan ini tidak adil? Dan yang kedua dengan senjata dayung, kita berlomba memutari sungai melawan arus. Kalau saya kalah saya bersedia berlutut sehari semalam tanpa bergerak disini!" seru A bo dengan wajah seriusnya menjelaskan maksudnya dengan tangan kosong dan bersenjata.


Hal itu tak terlintas dalam pikiran semua orang, dan semuanya tertawa tapi juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh si tukang perahu itu.


Sementara Cui Hwa makin kesal dan ia membanting banting kakinya.


"Bedebah! Siapa sudi main main dengan kamu? Kalau tidak ada kepandaian hayo menggelinding pergi, atau aku kuhancurkan kepalamu!" seru Cui Hwa yang sudah gatal tangannya hendak menerjang si tukang perahu itu.


Melihat hal itu, Yu Tian khawatir dan cepat ia melangkah maju.

__ADS_1


"Eh... tunggu sebentar pendekar Cui! sebagai seorang pendekar wanita yang besar, benarkah tidak malu untuk memukul orang yang tak bersalah? Apalagi orang yang tidak melawan? Pendekar sendiri yang salah sebaliknya paman A bo ini benar, sebab paman A bo tadi menantang pendekar dengan mengadu kepandaian bukan? Nah berenang menangkap ikan dan mendayung perahu tentu saja merupakan kepandaiannya, kepandaian seorang tukang perahu! Masa ia diharuskan mengadu pukulan? Dia bukan tukang pukul! Kalau memang pendekar tidak berani menghadapi tantangannya, bilang saja terus terang dan mengaku kalah, itu baru sikap seorang pendekar. Kalau memang merasa kalah lalu hendak meggunakan kekerasan dan memukul, itu namanya sewenang-wenang seperti perbuatan tukang pukul bayaran yang kasar!" jelas Xiao Yu yang kemudian memandang ke arah para tamu undangan lainnya.


"Para tamu yang terhormat dan mulia, kalau perkataan saya tadi ada yang keliru harap betulkan!" seru Xiao Yu yang tentu saja membuat


semua tamu menjadi geli dan juga kagum akan kelihaian mulut pelayan Siok Lan ini. Karena karang ada orang berani main-main terhadap Cui Hwa,


"Betul-betul..!" teriak para tamu yang membuat kedua mata Cui Hwa sampai menjadi merah.


Wanita itu tidak tahu apakah ia harus menangis atau tertawa. Ingin ia sekali pukul menghancurkan kepala pelayan itu, tapi kalau ia melakukan hal ini tentulah namanya akan menjadi tercemar sebagai seorang pejuang yang gagah.


"Biarlah aku mengaku kalah terhadap tukang perahu. Tapi sekarang aku mau menantang kamu hai pelayan hina! Aku memaki kamu sebagai pengecut rendah, seorang penakut yang hanya berlindung kepada lidah tak bertulang! Engkau laki-laki tidak berharga, aku tantang kepadamu untuk bertandirig mengadu ilmu silat!" seru Cui Hwa yang tampak sekali kekesalannya.


"Boleh ! Dengan tangan kosong !" seru Yu Tian dengan percaya diri.


"Memang lidahku tidak bertulang Seperti lidah semua orang, akan tetapi agaknya lidahmu bertulang pendekar! Pantas saja begitu tegang dan kaku, suka memaki orang. Memang aku tidak berharga, tidak ada harganya. Kalau memang anda berharga berapakah harga anda pendekar? Tentu tidak mahal karena bekas bopeng itu?" ucap Yu Tian yangvtentu saja membuat semua tamu tertawa, tapi membuat Cui Hwa semakin marah dan menatap Yu Tian dengan amarahnya.


Sementara itu, dengan alis berdiri Cui Hwa seperti hendak menelan pelayan itu, sedangkan para tamu menjadi tegang.


Ucapan pelayan itu benar-benar amat menghina dan mereka kini akan maklum bahwa tentu Cui Hwa hari ini akan melakukan pembunuhan.


"Mundurlah Yu Tian, biarkan aku


menghadapinya," kata Siok Lan suaranya penuh kekhawatiran.


Melihat sikap dan mendengar suara majikannya itu, jantung Yu Tian berdebar tidak karuan saking girangnya. Dia menganggap kalau majikannya sangat mengkhawatirkannya.


"Harap tuan muda jangan khawatir,

__ADS_1


biarpun saya tidak pandai Silat akan tetapi pandai mengelak dengan akal. Nanti setelah saya memberi pelajaran, baru tuan muda memberi peljaran padanya!" seru Yu Tian dengan yakin.


"Memberi pelajaran?" Siok Lan bertanya dengan mata terbelalak, agaknya takut kalau pelayannya telah menjadi miring otaknya.


Karena Siok Lan tahu bahwa Cui Hwa sangat lihai, sedangkan dia sendiri belum tentu akan mendapat kemenangan kalau melawan wanita itu, apalagi Yu Tian yang tidak pandai silat. Tentunya dalam segebrakan saja pelayannya akan terpukul sampai mati.


"Ha...ha...ha...! tuan muda, pendekar ini mengingatkan saya akan bibi saya di dusun. Bibi saya itu pantatnya amat besar dan sering kali bibi yang gemuk itu mengejar dan hendak memukuli saya. Hal ini membuat saya menjadi pembenci pantat besar dan selalu ingin memukul kalau melihat orang yang berpinggul besar seperti pendekar ini." ucap Yu Tian sekenanya yang diucapkan secara keras, hingga semuanya mendengar apa yang dia ucapankan.


"Yu Tian!" seru Siok Lan khawatir sekali karena ucapan pelayannya itu sudah keterlaluan.


Sementara itu Cui Hwa Hwa sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Serasa hendak meledak kepala dan dadanya yang terasa panas, apalagi mendengar betapa para tamu berusaha keras membendung suara ketawa yang hendak terbahak keluar.


"Hei, siapakah yang akan maju! majikan ataukah pelayannya! Jangan kasak-kusuk seperti sepasang kekasih di sini!" seru Cui Hwa dengan kesal.


Mendengar ejekan ini, merahlah raut wajah Siok Lan dan dengan terpaksa dia mundur karena percuma saja dirinya membujuk Yu Tian, si pelayannya itu.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2