
Xiao Yu terus memandangi pemuda yang sedang tertidur pulas yang ada dihadapannya dalam posisi memiringkan tubuhnya ke arah dimana Siok Lan tertidur.
Pada keesokan harinya Xiao Yu berhasil menjualkan kuda Siok Lan pada para tamu penginapan dimana mereka menginap, setelah itu mereka pergi ke pangkalan perahu di Sungai Huang ho yang amat besar.
Karena perutnya merasa lapar, Siok Lan lalu mengajak Yu Tian untuk makan di sebuah rumah makan di pinggir sungai.
Cuaca di siang hari sedang panas, mereka mengambil tempat duduk di kursi paling depan, di dekat dengan pintu masuk rumah makan itu.
Sambil duduk meaghadapi meja, mereka dengan mudah bisa melihat keramaian di luar rumah makan, dimana terlihat kesibukan para pedagang, para nelayan dan pengangkutan barang-barang dari dan ke perahu perahu yang banyak terdapat dermaga yang dekat dengan rumah makan dimana mereka berada.
"Tuan muda masakan apakah yang hendak dipesan, akan saya sampaikan kepada pelayan rumah makan?" tanya Xiao Yu seraya menatap wajah tampan majikannya.
"Hemm, apa sajalah! Asal enak, aku tidak tahu masakan apa yang paling enak di sini." jawab Siok Lan seraya melihat para pengunjung rumah makan yang sedang menerima pesanan mereka.
"Saya tahu tuan muda, di Kai feng ini bumbu masakannya rata-rata agak manis, berbeda dengan di selatan. Akan tetapi, yang paling tersohor adalah masakan ikan kakap merah dimasak saus tomat. Bukan main enaknya, gurih dan sedap. Maukah tuan muda mencobanya?" jelas sekaligus tanya Xiao Yu.
"Boleh saja, sesukamulah asal enak. Oiya, jangan lupa arak yang baik dan yang sedang kerasnya." ucap Siap Lan yang memberitahukan pesanannya.
"Baik tuan muda!" ucap Xiao Yu yang kemudian dia memanggil pelayan rumah makan.
Setelah pelayan yang dipanggil datang, Xiao Yu memberitahukan pesananan mereka. Dan tidak lama kemudian pelayan datang membawa nampan besar terisi beberapa macam masakan daging dan sayur, sepiring besar ikan kakap merah yang semua digoreng kering dan dibumbui saus tomat yang kemerahan. Melihat saja sudah menimbulkan selara dan membuat orang menelan liur.
"Ayo makan!" ajak Siok Lan setelah lengkap makanan dan minuman yang dihidangkan pelayang rumah makan, dengan memberi isyarat kepada Xiao Yu.
Dan makan minumlah mereka, biarpun Xiao Yu atau Yu Tian itu dianggap sebagai seorang pelayan oleh Siok Lan namun Pemuda ini tidak terlalu memakai banyak peraturan saat mengajak si pelayan makan bersama.
Kepolosan watak ini makin mengagumkan hati Xiao Yu yang menganggap Siok Lan seorang pemuda yang sangat tampan, paling baik, paling menyenangkan.
"Yu Tian, hayo ambil dagingnya! Masak kamu cuma makan sirip, buntut, kepala dan tulang-tulang saja!" seru Siok Lan yang ternyata memperhatikan porsi makan pelayannya.
__ADS_1
Biarpun berkali kali Siok Lan mendesak, Xiao Yu hanya mengangguk dan tetap tidak mau mengambil daging yang paling gemuk dari ikan kakap di depannya.
Siok Lan mengulas senyumnya dan dia merasa makin lama makin suka ia kepada pelayannya yang ternyata penurut, sopan dan pandai menggembirakan hati, juga agaknya pelayan ini tidak begitu bodoh karena tahu akan tempat-tempat asing.
"Andai saja dia bukan laki-laki?" gumam Siok Lan yang tiba-tiba terlintas dalam benaknya.
Tak berapa lama keduanya selesai makan dan minum, kemudian duduk terhenyak kekenyangan di atas kursi masing-masing.
Tiba-tiba terdengar suara yang kecil tinggi.
"Kasihanilah kami, tuan-tuan yang budiman!"
Xiao Yu dan juga Siok Lan menengok dan berubahlah wajah mereka. Xiao Yu merasa kaget serta khawatir saat melihatnya, tapi sebaliknya dengan Siok Lan yang sangat marah saat melihat sumber suara itu.
Kiranya yang mengucapkan kata kata tadi adalah dua orang pengemis berusia enam puluhan tahuan, pakaian mereda butut dan terdapat satu tambalan di pakaian mereka serta pinggang mereka memakai sabuk sutera merah.
Siok Lan marah, akan tetapi ia menekan kemarahannya dan masih enak-enak duduk di tempatnya.
"Apa tujuan kalian kemari?" tanya Siok Lan yang hanya melirik acuh pada kedua pengemis dengan sabuk sutra merah itu.
"Saya bernama Ang Ci dan bersama saudaraku ini Ang Sui kami telah mendengar dari Ang Kun
tentang kemurahan hati tuan yang suka sekali memberi sedekah dan sumbangan kepada orang-orang miskin seperti kami. Karena itu kami sengaja datang untuk mohon kasihan dan sedekah dari tuan muda." jawab pengemis yang tertua yang mempunyai tahi lalat besar di pelipis sebelah kiri, berkat sambil bersandar pada tongkat dan mengangkat mangkok tempurung kelapanya ke arah Siok Lan.
Siok Lan tadinya sudah marah sekali, akan tetapi dasar wataknya memang jenaka dan gembira, ia melihat kelucuannya dan tertawa geli.
"Aihhh, kiranya kalian merupakan sebuah keluarga besar yang mempunyai nama keturunan Ang ya? Lucu sekali, he...he...he...!" ucap Siok Lan yang tertawa terkekeh
"Kami memang dari keluarga besar Ang dan hal ini sama sekali tidak ada lucunya. Harap tuan muda sebagai cucu pendekar Siok yang suka berpemandangan jauh, agar tidak mengecewakan orang yang menjadi kakek dan guru!" seru pengemis kedua yang mukanya merah itu.
__ADS_1
"Gembel busuk! kenapa sampai bawa-bawa nama kakekku? Kalian inilah yang berpemandangan cupat. Orang minta sedekah harus mempunyai tata susila, harus sopan dan dengan sukarela mengharapkan bantuan orang, bukannya melakukan paksaan, sungguh pekerjaan yang hina dan rendah melebihi perampok. Aku tidak mau memberi apa apa, kalian mau apa?!" seru Siok Lan yang tak dapat menahan
kemarahannya kemudian dia bangkit dari kursinya dan menatap tajam kedua pengemis dengan sabuk merah itu.
Ucapan Siok Lan yang dilakukan dalam keadaan marah itu menimbulkan keributan dan menarik perhatian orang sehingga para pengunjung rumah makan itu yang menghentikan aktifitas mereka untuk melihat keributan apa yang terjadi di rumah makan itu.
Namun mereka semua itu tampak kaget ketika melihat bahwa yang dimarahi gadis cantik itu adalah dua orang pengemis tua yang bersabuk sutera merah.
Karena bagi mereka, sabuk sutera merah ini merupakan tanda pengenal yang sudah mereka kenal dan takuti.
Siapakah yang tidak mengenal perkumpulan pengemis sabuk merah yang gagah perkasa dan berani menantang pemerintah dan yang telah banyak bekerja membantu para pekerja paksa pembuat terusan air.
Dan sekarang ada seorang laki-laki muda yang berani marah-marah terhadap mereka.
" Tuan justru mengingat nama besar kakek anda, kami masih bersikap mengalah kepada anda. Akan tetapi harus tuan muda ketahui bahwa Siok Lee sendiri tidak akan berani bersikap seperti tuan muda terhadap kami. Karena itu kami pun akan menghabiskan urusan ini asalkan tuan muda mau menyumbangkan pedang tuan muda kepada kami!" ucap Ang Ci yang bertahi lalat di pelipis kirinya itu dengan tersenyum, dengan suaranya masih tenang. Tinggi kecil suaranya, seperti suara wanita.
"Tuan muda berikanlah saja pedang anda, nanti tuan muda dapat membeli lagi pedang yang lebih bagus dari pedang itu!" bisik Xiao Yu yang tak mau ada keributan lagi.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1