
Selain mewarisi ilmu silat gurunya yang tinggi, juga mewarisi sifatnya yang buruk yaitu kesukaan mengumbar dan melampiaskan nafsu birahi. Bahkan dalam kebiasaan melampiaskan nafsu birahi ini, Siauw Hu lebih ganas dari gurunya.
Gadis yang menarik hatinya, harus ia dapatkan, baik secara halus maupun secara kasar. Dan yang mengerikan, setelah ia merasa bosan, ia lalu membunuh gadis-gadis itu. Hal itu dikarenakan dia enggan membagi cinta kasih gadis itu dengan laki-laki lain juga ia tidak mau dijadikan bahan percakapan gadis-gadis bekas kekasihnya.
Jadi selama mengumbar
nafsunya, Siauw Hu telah membunuh puluhan orang wanita muda dan cantik.
Namun selama masa petualangannya yang mengerikan itu, Setan kipas Merah selalu mendapatkan gadis-gadis cantik tetapi lemah dan hatinya tergerak ketika ia bertemu Yang Tek dan Gui Siong, dua orang gadis cantik serta perkasa murid Kwe Cheng si Bocah tua nakal.
Akan tetapi, alangkah kecewa serta menyesal hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa bukan saja dua orang gadis cantik itu yang tidak sudi melayani nafsunya, bahkan sebaliknya menghina memaki serta memusuhinya.
Kemudian dirinya bertemu Xiao Yu dan kali ini hatinya singguh-sungguh jatuh cinta. Belum pernah selama hidup nya ia jatuh cinta sampai mendalam seperti ketika ia bertemu gadis itu.
Melihat Xiao Yu serta menyaksikan kelihaian gadis itu yang tidak hanya melebihi kepandaiannya bahkan jauh lebih pandai sampai berhasil membunuh gurunya, Siauw Bo,
Hati Setan kipas merah benar-benar terpikat dan di dalam hatinya ia bersumpah bahwa kalau bisa menjadikan gadis itu istrinya. dan dia baru akan merasa puas dan akan berhenti dari petualangannya.
Itulah sebabnya mengapa ketika ia melihat Xiao Yu tertawan oleh gurunya ia menolong gadis itu dan berani menghadapi kemarahan gurunya. Ia sudah mempertaruhkan jiwanya buat menolong gadis itu.
Jika dia mengingat peristiwa yang telah lalu, dimana gurunya terbunuh. Sementara dia sendiri terluka, malah Xiao Yu sengaja memberi ampun serta mengancamnya kalau kelak jalannya masih sesat, maka pemuda yang di cintanya itu akan membunuhnya.
Karena itulah dia merasa telah menerima penghinaan yang hebat sekali serta mengalami penyesalan. Ia merasa malu serta menyesal akan semua perbuatannya yang telah lampau.
Andaikata dia masih seorang pemuda yang bersih, dengan ketampanan dan ilmu silatnya yang tinggi, tentu lebih besar harapan baginya buat memperistri Xiao Yu.
Namun kenyataannya tidak demikian, setan kipas merah merasa semua petualangannya itu sudah membosankan. Tidak memberi kebahagiaan buatnya lagi, dan kini dia menghendaki cinta kasih antara suami isteri yang tulus ikhlas. Dengan membina keluarga, mempunyai keturunan serta hidup sebagai seorang suami dan ayah yang terhormat.
Makin dipikir dan dikenang, makin hancurlah hati setan kipas Merah. Apalagi ketika ia terusir dari Istana Tengah Hutan tempat tinggal gurunya yang dihancurkan oleh musuh-musuhnya itu.
Makin bosanlah ia hidup dan tanpa
__ADS_1
memperdulikan lukanya, ia melarikan diri terus siang malam sampai akhirnya ia mendaki bukit itu tanpa tujuan. Dirinya hanya ingin lari dan lari pergi jauh sekali, menjauhi rasa malu dan kekecewaan hati.
Bulan tertutup awan hitam, keadaan gelap pekat, segelap hati setan kipas merah yang saat ini kakinya tersandung batu dan ia terguling roboh. Kepalanya terasa pecah ketika ia terbanting itu, kemudian diraba dahinya dan ternyata berdarah karena tertumbuk batu gunung tadi.
"Aaaughh....!"
Ia mengeluh dan merangkak bangun, gelap gulita disekelilingnya. Kepeningan kepalanya menambah kegelapan dihati dan hidupnya.
Setelah pulih kembali dia berlari terus tanpa berhenti keluar masuk hutan, naik turun gunung sampai akhirnya ia tiba di tempat ini yang sama sekali tidak dikenalnya.
Kedua matanya berkunang dan pandangannya gelap. Tiba-tiba tampak sebuah cahaya kecil kelap kelip di dalam kegelapan malam, tidak jauh dari hadapannya.
Setan kipas merah itu bangkit dan berdiri, ia hampir tidak kuat lagi. Dengan terhuyung huyung ia maju ke arah cahaya kecil dan akhirnya ia roboh terguling pingsan di depan pintu sebuah kuil tua, pintu yang terbuka dan dari mana keluar cahaya api tadi, cahaya sebatang lilin yang bernyala di atas meja di ruang dalam.
"Amitabha" kasihan sekali pemuda ini!"
Terdengar suara halus dan seorang biksu keluar, berlutut lalu memanggil beberapa biksu lain. Kemudian beramai ramai para biksu itu menggotong tubuh setan kipas merah dan dibawa masuk ke dalam kuil tua.
Hanya penduduk dusun di sekitar bukit itu yang terkadang mengunjungi kuil untuk minta berkah dan petunjuk dan untuk menyambung hidup, orang biksu ini ini bercocok tanam disamping sumbangan yang didapat dari harta penduduk dusun.
Sampai dua hari dua malam setan kipas merah terbaring dan terserang demam yang hebat. Keadaannya yang terluka parah, saat ini berkat perawatan para biksu yang amat tekun dan penuh kasih, Setan kipas merah dapat sadar dari pingsannya.
Setan kipas merah terkejut ketika sadar dan merasa bahwa ia berbaring di sebuah kamar, pemuda itu menebarkan pandangannya dan melihat kamar yang dia tempati itu sederhana tapi bersih sekali.
Tercium bau asap yang sedap dan harum.
"I..ini di surga apa di neraka kah?" gumam dalam hati setan kipas merah yang penasaran.
Kemudian dia teringat saat dia roboh karena lemas di depan sebuah bangunan seperti kuil, yang terbuka pintunya dan dari pintu itulah cahaya itu menyinari dengan terang.
Teringat pula ia betapa ia menderita luka-luka yang cukup parah ketika ia bertanding melawan Si bocah tua nakal dan juga Biksu Ji, dan pasti dia akhirnya akan roboh binasa di tangan kedua sahabat mendiang pendekar pedang Naga yang lihai itu. Kalau saja tidak muncul Xiao Yu yang menyelamatkannya, mungkin dia sudah menjadi mayat.
__ADS_1
Pemuda itu meraba tubuhnya dan mendapat kenyataan bahwa luka lukanya telah sembuh. Kembali ia ditolong orang yang merawat dan mengobatinya.
"Aku belum mati!" gumam dalam hati Siauw Hu.
Dan karena dia masih belum mati berarti ia masih harus terus menderita, teringat akan sikap Xiao Yu yang tidak membalas cintanya bahkan memperlakukannya dengan sikap yang menyakitkan hati.
Dan tak tertahankan lagi setan kipas Merah menangis.
"Hukk....Hukk....Hukk...!"
"Amitabha! Anda sudah sadar, syukur lah kami sangat khawatir sebelumnya. Tapi kenapa anda
menangis?" tanya salah satu biksu yang menghampiri tubuh Siauw hu yang terbaring di atas tempat tidur.
Sementara itu Siauw Hu menggelengkan kepalanya dan tetap diam tak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
"Di dunia ini tidak ada kedukaan yang tak dapat diatasi dengan pengendalian, tidak ada dosa yang tak dapat ditebus oleh kesadaran. Kalau tuan bersedia, ceritakanlah segala penderitaan tuan kepada kami. Mungkin kami akan dapat membantu meringankan beban itu, walaupun hanya dengan kata-kata dan nasihat!" ucap biksu yang kedua.
Mendengar suara yang halus penuh welas asih ini tangis Setan Kipas merah semakin mengguguk.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1