Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Masih berseteru dengan Sumpit


__ADS_3

"Awas tuan! Aku sudah menyerang satu kali tinggal empat kali!" seru Siok Lan dan sepasang sumpitnya bergerak, bukan langsung menjepit seperti tadi, melainkan dengan gerakan menggunting dari atas ke bawah meluncur ke depan dan digerakkan dengan membentuk lingkaran.


Siok Lan tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk mengelak seperti tadi. Menghadapi serangan ini, mulut Bhok An masih saj tersenyum, akan tetapi pergelangan tangannya bergerak sepasang sumpitnya juga membentuk lingkaran. Kemudian sumpit itu digetarkan dan dengan daging masih terjepit sumpitnya itu mengangkas dengan keras sekali dari atas ke bawah.


"Trik..... Trik......!"


Biarpun yang beradu hanya sumpit dengan sumpit namun menerbitkan suara keras dan kembali tangan Siok Lan tergetar hebat. Masih untung bahwa ia tidak sampai melepaskan sepasang sumpitnya dan cepat-cepat menarik tangannya.


Serangan kedua kembali gagal,


Kini mereka sudah bersiap siap kembali, Bhok An dengan siku tetap menekan meja, memegangi sumpitnya melintang dan biarpun sumpit itu kelihatannya dipegang dengan seenaknya, namun kekuatan yang tersalur melalui sumpit menjepit daging adalah amat kuat.


Matanya dengan tajam memandang kepada sumpit lawan, siap menghadapi serangan jurus ketiga. Sampai lama Siok Lan tidak menyerang karena pemuda itu memutar otak untuk dapat kemenangan.


Kembali sumpitnya menyambar. Sumpit-sumpitnya itu kini terbuka, yang satu meluncur dan menotok ke arah jalan darah diantara ibu jari dan telunjuk lawan yang menjepit sumpit, yang sebatang lagi meluncur dan menusuk ke arah daging.


"Bagus!" seru Bhok An kagum karena jurus ini benar indah dan lincah.


Akan tetapi biarpun kelihatannya sumpit lawannya menotok jalan darah, ia maklum bahwa yang dituju adalah tusukan pada daging.


Bhok An adalah seorang yang sudah ulung dengan ilmu menotok, maka ia sudah dapat menduga jurus Siok Lan. Ia memutar perulangan tangannya untuk mengelak dari totokan, dan tiba tiba ia melepaskan jepitan sumpitnya pada daging se waktu sumpit kedua Siok Lan menusuk daging sehinga daging itu terlepas dan jatuh, karena nya terluput dari tusukan Siok Lan.


Sebelum Siok Lan dapat mengatur sumpit untuk merampas, lebih dulu Bhok An sudah menggerakkan sumpitnya cepat sekali menyambar daging yang melayang turun dan kembali daging itu sudah dijepit oleh sumpitnya.


"Masih dua jurus lagi, Tuan!" seru Bhok An dengan mengulas senyumnya.


Kalau saja serangan Siok Lan tidak makin lama semakin lihai sehingga mengejutkan hatinya, tentu Bhok An akan membiarkan saja gadis itu menyerang sampai beberapa jurus sekalipun.


Akan tetapi Bhok An harus mengakui bahwa seranggan serangan Siok Lan makin lama makin ganas dan semakin berbahaya sehingga ia harus berhati-hati sekali biarpun hanya tinggal dua kali atau dua jurus saja serangan yang bakal dilancarkan.

__ADS_1


Siok Lan menggigit bibirnya, kali ini dia memang menghadapi lawan yang berbahaya. Kalau sampai terjadi pertandingan, ia harus berhati-hati menghadapi orang ini.


Kembali ia memutar otak mencari akal sebelum melakukan serangannya yang keempat.


Kali ini ia mau mengadu tenaga dan kalau sampai daging itu kembali terlepas dari sumpit lawan, ia harus mencegah sumpit lawan menyambarnya kembali dan biarlah daging itu terjatuh ke atas meja.


Dengan demikian, biar pun ia tidak beihasil merampasnya, sedikitnya ia telah mampu membuatnya terlepas dari sumpit lawan dan hal ini saja sudah berarti bahwa ia telah menang setengah bagian.


"Lihat serangan!" seru Siok Lan yang kini sepasang sumpitnya digerakkan dengan cepat dan bertenaga kuat karena ia kini mengerahkan tenaga dalamnya, tidak lagi mengandalkan kecepatan melainkan


mengandalkan tenaga.


Bhok An kelihatan kaget sekali dan sekali pandang saja ia sudah menduga akan akal Siok Lan. Kalau ia melayani adu tenaga dengan pemuda yang ia ketahui memiliki kekuatan tenaga dalam hebat ini, tentu daging yang dijepit sumpitnya akan terlempar dan dengan demikian ia sudah akan mendapat malu.


Tiba-tiba Bhok An melontarkan daging yang dijepit itu ke atas, sumpitnya mengelak ke bawah dan terus melakukan tiga kali totokan ke arah tiga jalan darah di sekitar tangan dan pergelangan tangan Siok Lan yang memegang sumpit.


Cepat ia menggerakkan pergelangan tangan memutar sumpitnya membetuk lingkaran yang kuat, menangkis tiga kali totokan lawan. Akan tetapi, ternyata lawan tidak jadi menyerang, sebaliknya sumpit lawan kini lagi lagi sudah menyambar dan menjepit dagingnya yang tadi terpental ke atas dan kini sudah melayang turun lagi.


Karena Siok Lan tertipu dan pemuda itu menjadi mencurahkan perhatian untuk menangkis totokan totokan masa tentu saja ia tak cepat mencegah lawannya menjepit kembali daging itu.


"Tinggal sejurus lagi Tuan!" seru Bhok An tersenyum dan mengacungkan daging dalam jepitan sumpitnya.


Merah wajah Siok Lan hampir putus aa. Orang di depannya benar-benar lihai dan cerdik, semua mata para ramu ditujukan kepada adu kepandaian yang aneh dan lucu ini dan kalau sekali lagi ia tidak mampu merampas daging, betapapun juga ia akan kehilangan muka di tempat itu.


"Tuanku ini tidak mau sungguh-sungguh merampas, kenapa kau orang tua tidak bisa mengerti? Kalau tuan majikanku menghendakinya, maka dalam sejurus saja pasti daging itu dapat dirampasnya." ucap Xiao Yu.


"Ha.... ha.... ha.....! namamu Yu Tian bukan? Eh, Yu Tian kalau benar nonamu sengaja tidak mau merampas, bolehkah aku tahu kenapa tidak mau merampasnya?" ta ya Bhok An seraya mengerling ke arah Xiao Yu.


"Itu karena daging disumpitmu itu bau dan tidak enak !" balas Xiao Yu dengan berseru dan terdengar suara ketawa di sana-sini, tetapi Bhok An tidak marah hanya tersenyum saja.

__ADS_1


Sebalik nya malah Siok Lan menjadi marah dan mendongkol, karena Yu Tian bicara secara asal, apakah mengira bahwa yang hadir itu anak-anak kecil yang mudah saja dibohongi.


"Aku sudah menyerang empat kali, kalau sekali lagi tidak herhasil biarlah aku mengaku kalah !" seru Siok Lan kemudian.


"Tuan pasti berhasil kalau memang mau sungguh-sungguh! Kenapa tidak?" kata Xiao Yu dan seperti tanpa disengaja dengan muka tegang pelayan ini menaruh kedua tangannya di atas meja, di depannya.


Tiba-tiba tampak sinar gembira di wajah Siok Lan. Gerakan Xiao Yu yang seperti tak di sengaja itu mengingatkannya.


Sejak tadi lawannya itu memegang sumpit dengan siku ditekan di atas meja, sehingga dapat tegak dan lebih bertenaga. Sikunya itulah yang menjadi semacam "kaki" dan ia mampu melemahkan dan mampu merampas daging.


Dengan pelan-pelan Xiao Yu menaruh pula tangan kirinya di atas meja.


"Kau benar Yu Tian. Kalau aku mau, tentu sekali serang aku berhasil! Bhok An, kali ini kau harus lebih waspada lah!" seru Siok Lan yang hendak memancing perhatian lawan agar lebih memusatkan perhatian pada sumpitnya yang menjepit daging.


Pancingan ini berhasil karena Bhok An yang mendengar ucapan pelayan dan tuannya tadi, kini benar-benar memusatkan perhatian kepada sumpitnya bertekad untuk mempertahankan daging, sumpitnya menghadapi penyerang yang terakhir.


Siok Lan dengan amat tajam memandang daging disumpit lawan, kemudian sumpitnya sendiri bergerak, dibarengi bentakannya keras


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2