
Telapak tangan Siok Lan perlahan hendak menuju ke wajah Xiao Yu, yang tentu saja membuat gadis itu sangat terkejut.
"Grr..... grrr ...!"
Terdengar suara dengkuran dari tukang perahu, dan membuyarkan rasa penasaran pemuda itu.
"Huahahemmm.....!"
Siok Lan menutup mulut dengan jari jari tangan kiri dan ia pura-pura menguap, untuk menutupi perasaannya.
Sementara itu Xiao Yu terus memperhatikan bagaimana orang menguap bisa kelihatan begitu manis. Gadis yang masih hijau dalam soal asmara ini tidak tahu bahwa kalau orang sedang
dilanda asmara, selalu memperhatikan tingkah laku pemuda yang ditaksirnya yang
tentu selalu kelihatan menarik.
"Kalau tuan muda merasa lelah, harap rnengaso." ucap Xiao Yu yang terus mendayung.
"Baiklah! Aku mau tiduran." balas Siok Lan seraya menganggukkan kepalanya dan kemudian Siok Lan berdiri dan melangkah ke arah bilik perahu di tengah, di mana terdapat sebuah gubuk kecil buat tempat berteduh di waktu panas atau hujan.
Akan tetapi baru beberapa langkah, Pemuda itu telah membalikkan tubuhnya memandang ke arah Xiao Yu dari belakang. Seperti ingin memastikan dugaannya.
"Eh,Yu Tian! andai kamu itu seorang perempuan, apa mungkin Xiao Yu lebih cantik dari kamu ya?" ucap Siok Lan yang mengulas senyumnya.
Diserang oleh pertanyaan yang tiba tiba seperti ini serta sama sekali di luar dugaan Xiao Yu.
"Ah tuan muda! mana mungkin saya disamakan nona Xiao Yu?;Tentu saya lebih buruk, jauh lebih buruk!" jawab Xiao Yu yang memalingkan wajahnya.
"Aneh sekali, di bawah sinar bulan purnama jelas tampakku betapa wajah cantik dan sorot matanya bersinar ada pada pelayanku ini?" gumam dalam hati Siok Lan yang semakin penasaran.
"Terima kasih, Yu Tian! Aku makin ingin bertemu dengan Pendekar tanpa gelar itu, yang ada kemungkinan kalau dia tak secantik dirimu jika kamu seorang gadis!" celetuk Siok Lan yang kemudian memasuki ruang gubuk di tengah perahu dan merebahkan diri, menuju ke alam mimpinya.
Tinggal Yu Lee seorang diri, yang tiba tiba merasa sunyi, ia termenung memikirkan ucapan dan sikap terakhir dari pemuda itu.
__ADS_1
Xiao Yu terus mendayung perahu sambil termenung. Tak habis heran ia terhadap diri nya sendiri, kenapa ia mempermainkan seorang pemuda yang belum dikenalnya. Dengan membohonginya serta membiarkan pemuda itu mencari Pendekar tanpa gela ke kota raja, padahal pendekar yang dimaksudkan itu adalah dirinya sendiri.
Kenapa dia tidak berterus terang saja mengaku dan menanyakan apa yang dikehendaki oleh pemuda itu. Kesadarannya memang mendesaknya berbuat begitu, tetapi hatinya tidak mengijinkan.
Xiao Yu merasa ngeri kalau membayangkan jika pemuda itu menantangnya, memusuhinya dan bahkan akan meninggalkannya.
Malam semakin larut, dan tanpa sadar Xiao Yu tertidur karena kecapekan. Dan dinginnya angin yang sangat mencekam.
Tak berapa lama waktu telah berganti pagi, tiba tiba perahu yang ditumpangi Xiao Yu dan Siok Lan berhenti di tengah sungai.
Gadis itu terkejut dan kemudian menengok ke kanan dan kiri sungai itu yang penuh rumput dan alang-alang, dia juga melihat bahwa yang menahan perahunya adalah sebuah tambang yang dipasang melintangi sungai. Dan dibalik alang-alang itu tampak banyak sekali perahu perahu kecil berwarna hitam.
"Eh, kenapa berhenti? Ada...ada apakah?" tanya A bo, si tukang perahu yang terbangun dan seketika dia menduga hal yang tidak baik.
Apa lagi dia melihat rumput dan alang-alang yang merintangi jalannya perahu. Mendadak tubuh tukang perahu itu menggigil dan ia cepat mengambil dayung dari tangan Xiao Yu.
"Harap segera bangunkan tuan Siok Lan! Katakan kalau ada perompak sungai!" seru A bo yang nampak sangat khawatir.
Pada saat itu dari tepi sungai meluncur sebuah perahu hitam yang amat cepat dan tampaklah tiga orang di atas perahu itu, yang seorang memegang obor, yang kedua mendayung serta yang ketiga berdiri di kepala perahu, yaitu seorang laki-laki tinggi besar dan sebatang golok besar tergantung di pinggang nya.
Setelah perahu ini mendekat, laki-laki tinggi besar itu memegangi tambang dan perahu terhenti, itu saja sudah membuktikan bahwa laki laki itu mempunyai tenaga yang kuat.
"Sam Hong mengundang Siok Lan untuk datang berkunjung!" seru suara laki-laki tinggi besar itu dengan parau dan keras sekali.
Xiao Yu yang hendak membangunkan majikannya yang saat ini berada di gubuk tengah perahu, sudah dapat menduga bahwa yang berseru itu tentulah kepala perompak itu.
Selagi ia hendak bersikap pura pura gugup dan memanggil Siok Lan tampak berkelebat bayangan pemuda itu yang tiba-tiba sudah berdiri di sisinya.
"Akulah Siok Lan dan selamanya aku tidak bergaul dengan bangsa perompak seperti kalian! Apakah tujuan kalian menahan perahuku di tengah sungai?" seru dan tanya Siok Lan yang menatap ketiga perompak itu dengan tajam.
"Kami telah mendengar nama besar
Siok Lan yang katanya akan lewat di sini. Oleh karena itu, hari ini kami ingin menjamu tuan pendekar untuk mengunjungi markasnya di lembah sungai kalau memang tuan memiliki keberanian!" seru laki-laki tinggi besar itu yang otomatis merupakan sebuah tantangan buat Si bayangan Dewa.
__ADS_1
Undangan macam ini tentu saja sukar ditolak tanpa menimbulkan kesan bahwa yang di undang takut. Akan tetapi Xiao Yu tidak ingin melihat majikannya itu mendapat kesulitan, dia berusaha membatalkan undangan itu.
"Tuan-tuan yang baik. Majikanku sedang melakukan perjalanan jauh, bagaimana mungkin memenuhi undangan kalian? Harap kalian mau memaafkan kami dan memberi kesempatan perahu kami untuk lewat. Biarlah lain kali saja majikanku dapat memenuhi undakan kalian." ucap Xiao Yu yang berusaha untuk tetap tenang.
"Baiklah, kuterima undangan kalian!
Jangan kira bahwa Siok Lan takut pergi ke sarang tiga ekor naga Huang ho!" seru Siok Lan yang tentu saja membuat Xiao Yu sangat terkejut.
"A..apa! sungguh nekat!" gerutu dalam hati Xiao Yu yang sedikit mendengus kesal.
"Eh tukang perahu hayo dayung ke pinggir!" bentak Siok Lan tanpa memperdulikan ucapan pelayannya tadi.
Xiao Yu menghela napas panjang, dia telah melakukan sebuah kesalahan besar membohongi Siok Lan dan membiarkan dirinya
terlibat dalam watak pemuda yang ugal-ugalan dan tidak pernah mau kalah ini.
"Apa boleh buat, aku harus menanggung akibat daripada kebohongan dan kelemahan hati ku sendiri!" gumam dalam hati Xiao Yu yang ada sedikit rasa penyesalannya.
Begitu perahu itu didayung ke pinggir, muncullah beberapa buah perahu kecil dari sebelah kanan dan kiri perahu yang Siok Lan dan Xiao Yu tumpangi.
Melihat apa yang terjadi, Xiao Yu harus mengakui bahwa kalau tadi Siok Lan mengikuti perkataannya untuk tidak menerima undangan mereka, tentu pelayaran mereka akan mengalami banyak gangguan yang berat.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1