Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Berseteru Dengan Pengemis Sabuk Sutra Merah Tingkat Tiga


__ADS_3

Xiao Yu sebelumnya sudah mendengar tentang perkumpulan pengemis sabuk merah dan dia sudah mengenal pengemis itu. Dan Xiao Yu tidak menghendaki Siok Lan bertengkar dengan pengemis tua itu dan mengharapkan Siok Lan untuk mengalah saja.


Akan tetapi semua tidak digubris dan dianggap oleh Siok Lan, bahwa pelayannya itu takut terhadap si pengemis tua itu. Dan bahkan menambah kemarahan pemuda itu.


"Boleh jadi kaisar akan takut menghadapi perkumpulan pengemis sabuk merah, akan tetapi aku Si Bayangan Dewa tidak gentar menghadapinya! Aku tidak mau memberikan pedang dan kudaku kepadamu, dan hendak kulihat kau mau dan bisa apa!" bentak Siok Lan yang kemudian berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang, sikapnya gagah dan memandang rendah pengemis tua bersabuk sutra merah itu.


"Wah, gawat!" pikir Yu Lee yang tahu bahwa pertandingan takkan bisa dielakkan lagi.


Karena dia sudah mendengar perihal perkumpulan pengemis sabuk merah yang merupakan sebuah perkumpulan pengemis terbesar dan berpengaruh di wilayah itu.


Perkumpulan pengemis Sabuk merah merupakan perkumpulan tokoh-tokoh berjiwa patriot yang mementang kekuasaan kerajaan Goan yang sudah banyak melakukan kekacauan kekacauan dan membunuh para pembesar Mongol.


Perkumpulan ini bergerak membantu para pekerja paksa, dengan diam-diam menjamin makan dan minum mereka, menyogok para petugas agar meringankan beban mereka, atau membunuh para petugas yang terlalu kejam.


Meteka mengumpulkan dana untuk menanggung beban hidup para keluarga yang ditinggalkan suami atau ayah mereka dalam melakukan kerja paksa menggali terusan.


Menurut kabarnya, ketua perkumpulan pengemis sabuk merah ini adalah seorang tokoh dunia persilatan berilmu tinggi, yang bernama Ang Cit kong dan terkenal dengan sebutan ketua Ang atau juga terkenal sebagai Raja pengemis.


Ilmunya amat tinggi dan dalam urutan tingkat ilmu yang diatur rapi dalam perkumpulan, dia adalah seorang yang tingkatnya tertinggi.


Yang tingkatnya ditandai dengan tambalan pada baju mereka. Untuk nomor dua adalah pengemis-pengemis yang tingkatan nomor dua dengan dua tambalan, berikut seterusnya.


Xiao Yu tidak melihat tambalan pada pakaian lusuh pengemis tua yang menghadapi Siok Lan ini, maka ia tidak tahu pengemis ini termasuk tokoh tingkat berapa dalam perkumpulan pengemis sabuk merah, tetapi melihat gerak-geriknya membayangkan bahwa pengemis ini bukanlah orang sembarangan.


"Tuan muda perjalanan kita masih amat jauh, jangan mencari keributan di sini. Lebih baik berikan kuda ini kepadanya dan kita melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Betapapun juga kuda ini sesampainya di Kaifeng toh akan kita tinggalkan."' Bisik Xiao Yu pada Siok Lan.


"Diam kau! Jangan turut campur! Kalau gembel ini minta dengan baik baik, tentu aku tidak begini pelit. Akan tetapi dia punya peraturan, akupun punya peraturan. Kalau orang minta-minta kepadaku dengan baik, akan kuberi hadiah sebanyaknya. Tapi kalau minta dengan paksa, jangankan kudaku, buntut kuda sehelaipun dia tidak boleh ambil!" seru Siok Lan dengan geram.


"Bagus! Jalan ke Kaifeng kelihatan dekat tetapi tidak mudah kau capai dengan sikapmu itu, tuan muda!

__ADS_1


Karena kau melanggar peraturan kami, maka kau baru boleh melanjutkan perjalananmu ke Kaifeng kalau kau sudah dapat mengalahkan aku si pengemis bodoh!" seru pengemis itu yang kemudian menggerakkan tangan kanannya dan terdengar bunyi berdesing dan tercabutlah sebatang pedang dari dalam tongkatnya yang butut tadi.


Kiranya tongkat itu merupakan sebuah sarung pedang sehingga pedangnya sendiri tersembunyi. Gagang dari tongkat itu adalah gagang sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.


Tiba-tiba tersibak pakaian luar pengemis itu dan terlihat pakaian bagian dalamnya tambalan yang menempel di pakaian itu sebanyak tiga kotak.


"Wah ternyata seorang tokoh perkumpulan pengemis sabuk merah tingkat tiga." gumam dalam hati Xiao Yu.


Melihat akan terjadi keributan, Xiao Yu menarik kuda Siok Lan itu ke pinggir, kemudian mengikatkan kendali kuda pada sebatang pohon. Sedangkan dia sendiri berdiri untuk menonton pertandingan itu, bersiap untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah yang membawa maut itu.


Sementara itu, melihat si pengemis mencabut sebatang pedang dari tongkatnya, Siok Lan makin marah.


"Sing....!"


Tangannya mencabut pedang dan telunjuk kirinya menuding, ke arah pengemis tua itu.


Tanpa menanti jawaban pengemis itu Siok Lan sudah menerjang maju dengan pedangnya. Gerakan pemuda itu memang amat cekatan dan pedangnya yang menyambar itupun cepat laksana kilat, tiba-tiba sudah meluncur ke arah dada pengemis tua itu.


"Bagus!" teriak si pengemis yang juga sudah menggerakkan pedang, menangkis dari kiri dengan ujung pedang digetarkan.


"Tang....tang.....tang.........!"


Pedang yang bertemu di udara itu mengeluarkan bunyi nyaring, terutama sekali pedang perak di tangan Siok Lan, sehingga menimbulkan nyeri pada telinga.


Siok Lan terkejut karena ada getaran yang kuat menyelinap dari pedangnya memasuki lengan, membuat lengannya tergetar dan kesemutan.


Jelas bahwa hal ini membuktikan betapa kuat tenaga dalam pada lawannya. Namun ia tidak gentar dan mempercepat gerakannya, tiba-tiba tubuhnya sudah menyambar lagi dengan gerakan pedangnya membabat kaki disusul tendangan kak kiri ke arah lambung lawan.


"Aiihhh......!"

__ADS_1


Pengemis itu berseru kaget. Begitu cepatnya gerakan Si Bayanga Dewa itu sehingga sukar diikuti pandangan mata.


Dengan tiba-tiba ujung pedang pemuda itu sudah dekat dengan kaki si pengemis tua itu. Kemudian dengan cepat pengemis itu meloncat ke atas dan ketika kaki Siok Lan menyambar lambung dengan tendangan kuat, membacok ke arah kaki pemuda itu dari atas.


Siok Lan tahu akan bahayanya, dengan cepat ia menarik kembali kaki kirinya dan kembali pedangnya membabat dengan bacokan ke arah leher begitu tubuh lawan sudah turun kembali.


Hal ini dapat pula dielakkan oleh si pengemis yang berjongkok dan berbareng dari bawah menusukkan pedangnya ke arah perut Siok Lan.


Pemuda perkasa ini cepat menekuk siku menangkis totokan lawan dengan pedang. Kembali kedua pedang beradu menimbulkan suara yang nyaring.


Selanjutnya dalam waktu singkat dua orang itu telah terlibat dalam pertandingan yang seru dan mati matian. Dua buah pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi dua gulung sinar pedang. Akan tetapi biarpun kedua pedang itu sama sama menjadi sinar putih pedang perak di tangan Siok Lan lebih cemerlang sinarnya, merupakan gulungan sinar perak yang memanjang dan lincah menyambar ke sana- kemari. Sehingga gulungan sinar lawan terkurung, terdesak dan terhimpit.


Xiao Yu yang berdiri menonton, setelah pertandingan lewat tiga puluh jurus, maklum bahwa ilmu pedang Siok Lan jauh lebih menang dalam hal variasi dan gerak tipu, terutama sekali menang dalam kecepatan.


Hal ini tak dapat ditutup oleh kemenangan pengemis itu dalam kekuatan tenaga dalam dan ia tahu bahwa kalau dilanjutkan, tidak sampai sepuluh jurus lagi kakek pengemis itu tentu akan menjadi korban pedang yang berada di tangan pemuda yang ganas itu.


Xiao Yu bingung dan hendak mencari akal untuk mencegah hal ini. Tiba-tiba dia terkejut.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2