
Mendengar suara yang halus penuh welas asih ini tangis Setan Kipas Merah semakin mengguguk.
Namun hanya sebentar saja dia telah dapat menguasai dirinya tangisnya terhenti dan ia mengangkat wajahnya dan memandang dua orang biksu tua yang berusia enam puluh tahun lebih, berkepala gundul dan berpakaian serba kuning amat sederhana.
Dari wajahnya membayangkan ketenangan jiwa dan kehalusan budi, telah berdiri di dalam kamar itu memandangnya dan merangkap kedua tangan di depan dada.
"Siapakah tuan ini?" tanya Biksu yang badannya lebih gemuk dengan menggerakkan alis, dan dapat menangkap sikap dan suara yang tinggi hati dari pemuda di depannya.
Namun bibirnya tetap tersenyum ramah, seolah-olah baginya bukan hal aneh menghadapi sikap kasar dan selalu siap memaafkannya.
"Tuan, saya adalah Hui Li Biksu yang memimpin tiga orang biksu lain di kuil Lingyi ini." ucap biksu yang agak kurus yang memperkenalkan dirinya.
Sepasang mata yang jernih dan tajam itu melotot marah.
"Kenapa kalian menolongku? Kenapa...? Aku mau mati saja..! Aku mau mati...!" bentak Siauw hu yang kemudian meracau dengan tak jelas yang akhirnya dia kembali menangis tersedu sedu.
"Amitabha...! Sungguh keliru sekali kalau tuan mengira kalau kematian adalah jalan kebebasan dari pada penderitaan. Tapi kematian hanyalah akibat dari pada dosa dan setelah mati sekalipun kita tidak akan terbebas dari pada akibat perbuatan kita sendiri. Bahkan penderitaannya akan lebih hebat lagi nanti disana. Selagi masih
hidup, masih terdapat jalan bagi kita buat bertobat, menjauhi dosa, hidup dalam kesadaran dan memeluk kebajikan buat menebus semua dosa yang telah kita perbuat." jelas Biksu gemuk yang bernama biksu Sui Lian
"Tuan sadarlah dan dengarkan baik-baik ucapan orang tua seperti kami ini." ucap biksu Hui Li.
Biarpun kata-kata itu amat halus, tetapi bagi setan kipas merah merupakan tetesan-tetesan embun yang amat dingin menembus dada menyayat hati.
"Dapat menebus dosa? Kesadaran? Apa-apa yang kalian maksud dengan kesadaran?" tanya Setan kipas merah yang penasaran.
Biksu Sui Lian dan Hui Li tersenyum, lalu terdengarlah ia bernyanyi dengan suara mereka yang merdu serta nyanyiannya adalah sebuah pelajaran dalam Agama Buddha.
"Apabila seorang selalu sadar
__ADS_1
selalu membangkitkan diri dengan kesadaran bersikap waspada pembuatannya bersih bertindak dengan bijaksana teguh terhadap diri sendiri hidup sesuai dengan ajaran benar maka kemuliaannya bertambah"
Mendengar itu Setan kipas merah amat tertarik. Selama hidup nya, tak pernah ia mendengar atau memperhatikan pelajaran-pelajaran tentang kebatinan dan kata kata sederhana yang didengarnya sekarang adalah seperti sinar terang yang mengusir kegelapan hatinya.
Namun kalau ia teringat akan semua
perbuatannya yang sudah sudah ia jadi ragu-ragu dan menyesal kembali.
"Tapi biksu, aku adalah seorang yang telah banyak berbuat dosa! Ke dua tanganku sudah kotor, penuh lumpur dosa!" kata setan kipas merah yang mengeluh.
Kemudian kedua biksu itu memejamkan kedua matanya dan berusaha untuk menyadarkan seorang manusia yang menyeleweng dalam hidupnya.
Mereka kembali bernyanyi dengan suara yang tergetar penuh perasaan, penuh pengaruh halus yang amat kuat.
"Apabila seorang berbuat dosa biarlah ia sadar dan tidak mengulang perbuatan, biarlah ia tidak senang lagi akan kejahatan karena hanya penderitaan menjadi timbunan kejahatan."
Setan kipas merah terisak, hatinya seperti ditusuk-tusuk.
"Apakah tidak lebih baik kalau aku mati saja sekarang agar segera menerima hukuman di neraka serta tidak lagi mengotori dunia!" lanjut ucap Siauw Hu.
Kedua biksu itu menggerakkan alisnya yang sudah setengah putih dan mereka saling pandang.
Mereka sangat terkejut
mendengar ucapan nama setan kipas merah yang namanya telah tersohor sebagai laki-laki yang bersifat seperti setan bahkan iblis itu.
Hampir saja mereka tak percaya bahwa seorang laki-laki muda yang tampan seperti ini bisa menjadi seorang manusia yang berwatak iblis.
Kemudian mereka menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan-pelan.
__ADS_1
"Tidak ada dosa yang betapapun besarnya tak bisa diampuni tuan. Tuan sudah merasa bahwa tuan telah melakukan banyak dosa. Hal ini saja sudah menjadi pertanda baik, karena barang siapa menyadari akan kesalahannya, itu merupakan awal yang baik sekali." ucap biksu Hui Li yang memandang raut wajah Siauw Hu.
"Terus kesadaran akan dosa dan semua kesalahan ini ditingkatkan menjadi sebuah perasaan menyesal akan dosa dosanya kemudian dilanjutkan dengaa perasaan bertaubat. Akan tetapi bertobat dengan mulut saja percuma melainkan harus dengan hati dan diperkuat dengan perbuatan. Hanya dengan perbuatan sajalah manuia dapat membuktikan isi hatinya. Jadi masih belum terlambat bagimu, tuan!" ucap biksu Sui Lian dengan lembut.
Mendengar perkataan dua orang biksu itu, Siauw Hu yang tadinya sudah putus asa, bangkit semangatnya. Ia melompat dari pambaringan menjatuhkan diri berlutut di depan kedua biksu yang bersikap tenang itu.
"Tunjukkanlah jalan bagiku biksu yang baik, tunjukkanlah agar aku dapat kembali menjadi manusia baik-baik agar aku dapat terbebas dari dosa-dosaku." ucap Siauw hu yang menunduk beberapa kali.
"Hanya dengan penebusan tuan. Penyesalan hatimu harus diujudkan dalam perbuatan yang
tegas. Kamu tadi mengatakan bahwa sudah membunuh puluhan orang. Nah mulai detik ini, usahakanlah agar kamu dapat menyelamatkan nyawa orang. Dan mencegah terjadinya pembunuhan pembunuhan sampai kamu dapat menolong nyawa orang yang terancam bahaya maut sebanyak atau melebihi jumlah orang yang pernah kau bunuh." nasehat biksu Hui Li.
"Pupuklah kebaikan sebanyak mungkin, dan kelak kalau di antara kita ada jodoh dan kita dapat bertemu kembali. Kami akan menuntunmu mencari kebebasan dari pada segala penderitaan." ucap biksu Sui Lian yang melanjutkan nasehat biksu Hui Li.
Setan kipas merah termenung, menengadahkan mukanya memandang wajah kedua biksu itu.
Sinar kedukaan mulai menghilang, terganti sinar penuh harapan yang membuat wajahnya yang tampan itu berseri. Seakan akan ada cahaya suci yang keluar dari dalam kedua biksu itu memasuki dirinya, dan mambuatnya sadar dan dapat melihat kebenaran.
Sambil berlutut ia mohon petunjuk-petunjuk lagi dari kedua biksu yang memberi wejangan kepadanya tentang memenangkan diri sendiri, menguasai nafsu dan mencari jalan kebenaran dengan liku liku utama.
Sepekan kemudian Setan kipas merah yang lagi melesat keluar dari kuil Lingyi itu, masih sama bahkan lebih tampan dari pada saat sepekan lalu roboh dan pingsan di depan kuil itu.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...