Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Menghadapi Raja Pengemis


__ADS_3

"Memang aneh watak majikanku ini.


Sebentar ramah sebentar galak, sebentar senyum sebentar merengut. Kadang bercanda, kadang juga membentak-bentak!" gumam dalam hati Xiao Yu sembari mengulas senyumnya.


"Tuan muda sangat baik sebagai seorang majikan mengajak makan dan minum pelayannya bahkan eh minum dari satu tempat air. Sungguh merupakan kehormatan besar bagi saya." ucap Xiao Yu seraya menundukkan kepalanya.


"Hm apa anehnya begitu saja, kamu tidak punya penyakit batuk dan penyakit menular bukan?" tanya Siok Lan dengan menatap raut wajah Xiao Yu.


"Ah, tidak sama sekali tuan muda." balas Xiao Yu yang merasa aneh dengan pertanyaan Siok Lan.


"Nah, kenapa masih saja ribut? Majikan maupun pelayan apa bedanya, sama-sama manusia." jelas Siok Lan dengan mengulas senyumnya.


"Terima kasih atas pendapat yang mulia ini tuan muda, anda sungguh baik hati." ucap Xiao Yu yang memuji majikannya.


"Sudahlah, sudahlah! Kalau kau memuji-muji terus bisa kuanggap menjilat dan aku akan marah


setengah mati, karena aku paling benci pada seorang penjilat!" bentak Siok Lan dan Xiao Yu tetap mengulas senyumnya, karena sudah tahu watak dari majikannya itu.


Beberapa saat kemudian, Xiao Yu mengetahui adanya orang yang sedang bersembunyi di pohon besar tak jauh dari situ. Demikian pula dengan Siok Lan yang terkejut ketika dari balik pohon itu terdengar suara tertawa.


"He...he...he...., benar sekali. Para penjilat harus dibasmi dari permukaan bumi!"seru suara serak seorang laki-laki yang sudah lanjut usia.


Siok Lan dan Yu Lee menoleh dan ternyata yang muncul dari balik pohon itu adalah seorang pengemis tua, usianya tentu paling sedikit enam puluh tahun, pakaiannya penuh tambalan, akan tetapi kelihatan bersih, juga sepatunya yang sudah berlubang sehingga tampuk ibu jari kakinya itu putih bersih seperti sepatu baru.


Mukanya halus tidak tertutup jenggot atau kumis, akan tetapi sepasang alisnya yang tebal itu sudah putih, juga rambut nya penuh uban. Tubuhnya tinggi kurus dan tangan kirinya memegang sebatang tongkat bambu. Pinggangnya terikat sabuk sutra merah yang lebar dan berbunga, yaitu dibagian depan diikatkan dalam bentuk bunga teratai.


Dandanan yang aneh menggelikan bagi seorang pengemis, namun melihat sabuk merah dan tongkat itu, Xiao Yu penasaran dan memandang penuh perhatian.


Siok Lan masih duduk di atas akar pohon matanya mengerling tajam. Dia dapat mengenal tanda sabuk sutra merah dan tongkat itu, maka kemarahannya bangkit seketika dan ia menduga tentu ini adalah tokoh perkumpulan pengemis sabuk sutra merah yang pernah beradu jurus dengannya.

__ADS_1


"Kembali ada serigala yang menyamar sebagai domba, perampok menyamar sebagai pengemis. Menjemukan sekali!" seru Siok Lan yang kemudian menyambar tempat air tadi lalu mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyambitkan tempat air itu kearah si pengemis tua yang tertawa tadi.


Tempat air itu bentuknya seperti sebuah piring yang dalam atau seperti sebuah panci yang dangkal dan lebar, bentuknya bundar. Karena kini disambitkan dengan keadaan miring dan didorong dengan tenaga dalam yang amat kuat, maka piring itu berputar cepat seperti gasing. Kemudian mengeluarkan suara mengaung keras dan meluncur ke arah si pengemis tua.


Tak boleh dianggap ringan piring terbang seperti ini karena dalam keadaan berputar dan mengandung tenaga kuat seperti itu, pinggiran nya dapat setajam golok dan kalau mengenai leher dapat menyembelih sampai putus.


Maka dari itu serangan Siok Lan ini amatlah bebat.


"He...he...he..., sungguh ganas cucu Siok Lee ini!" seru Kakek itu sambil terkekeh dan tetap saja tenang saat menghadapi serangan piring terbang itu.


Ketika piring itu menyambar ke arahnya, ia sama sekali tidak membuat gerakan mengelak. Hanya memandang sambil terkekeh seperti seorang dewasa mentertawai seorang anak anak nakal.


"Sung....!"


Piring itu menyambar ke arah leher si Kakek itu, kemudian kakek itu mengangkat tangan kanan ke depan, dengan perlahan jari tangan telunjuk menyentil ke arah piring terbang.


"Nguuuuuung!"


Piring dari panci itu begitu kena disentil telunjuk kanan kakek pengemis berbunyi nyaring lalu berputar lebih cepat daripada tadi, akan tetapi kini meluncur ke atas mengeluarkan suara mengaung yang jauh lebih nyaring daripada ketika disambitkan Siok Lan.


Piring terbang itu melayang cepat dan jauh sekali ke atas sampai akhirnya lenyap dari pandangan mata, entah jatuh di mana.


Akan tetapi agaknya benda itu dijadikan sebagai isyarat rahasia oleh kakek pengemis, karena tiba tiba bermunculanlah sedikitnya tiga puluh orang pengemis bersabuk sutra merah dari semua penjuru dan mereka berdiri dan mengepung tempat itu dari jarak jauh.


Bahkan di antara mereka sudah ada yang "merawat" dua ekor kuda tunggangan Siok Lan dan Xiao Yu.


Siok Lan meloncat bangun diikuti oleh Xiao Yu yang bangkit juga dengan tenang.


"Wah, memang tidak salah dugaanku, perkumpulan pengemis sabuk sutra merah! kalian hanyalah sekumpulan perampok yang menyamar sebagai pengemis kelaparan! Sungguh hal ini amat memalukan golongan perampok dan kaum pengemis yang tulen!" seru Siok Lan seraya menatap satu persatu orang-orang yang bersabuk sutra merah itu.

__ADS_1


Dan orang-orang yang bersabuk sutra merah itu sebagian marah berasdengan mengeluarkan kata-kata umpatan.


Kemudian kakek pengemis itu mengangkat tongkatnya ke atas kepala dan suara hiruk pikuk para pengemis yang muncul dan marah mendengar ucapan Siok Lan, mendadak diam dan keadaan menjadi sunyi.


Jelas bahwa semua pengemis, di mana tampak juga An Kun, Ang Ci dan Ang Sun. Yang merupakan tokoh-tokoh penting perkumpulan pengemis sabuk sutra merah, dan mereka amat mematuhi kakek itu.


Hal itu membuat Xiao Yu menduga tadi bahwa kakek itu agaknya adalah ketua dari perkumpulan pengemis sabuk sutra merah yang terkenal dengan julukan Raja Pengemis, Ang Han.


Karena itulah Xiao Yu memandang penuh kekhawatiran karena maklum bahwa menghadapi tokoh perkumpulan Pengemis sabuk sutra tingkat tiga juga Siok Lan belum tentu dapat menang, apa lagi menandingi ketuanya.


"Hai pemuda yang bermulut besar!" seru Kakek ketua itu yang menatap Siok Lan dengan tajam.


"Sesungguhnya tidaklah pantas bagi aku sebagai ketua perkumpulan pengemis sabuk sutra merah, untuk berurusan dengan bocah seperti kamu! Semestinya aku menemui kakekmu untuk menegur cucunya! Akan tetapi karena sudah dua kali kamu menghina para anggotaku, sudah sepatutnya pula aku menegur langsung kepadamu agar kamu tidak memandang rendah kami orang-orang perkumpulan pengemis sabuk sutra merah!" seru si Raja pengemis itu dengan geram.


Siok Lan mendengar bahwa kakek ini adalah ketua perkumpulan pengemis sabuk sutra merah itu menjadi terkejut, karena ia sudah mendengar dari kakeknya tentang kelihaian raja Pengemis ini.


Akan tetapi dasar Siok Lan itu bandel, berani dan tidak mengenal takut, bahkan dia mengulas senyumnya.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2