Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Dulu Kawan sekarang Lawan


__ADS_3

"Ha! Bagus sekali. Siok Lee sudah tiba!" Seru Ang Han atau Ang Kai ketua perkumpulan pengemis sabuk sutra merah dengan suara lega.


Sejak tadi kakek pengemis ini diam saja dan dia yang merupakan orang kedua dalam pasukan pejuang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi disamping Setan kipas merah.


Diam-diam Ang Han telah memberi isyarat kepada anak buahnya dan sudah siap siap mengeroyok Panglima Thian Sung.


Sebetulnya, sudah agak lama tiga orang sakti ini datang dan melihat ketika pasukan pejuang dikurung oleh barisan besar yang dipimpin sendiri oleh Panglima Thian Sung.


Mereka bertiga kaget dan khawatir, karena tahu akan kelihaian Panglima Thian Sung. Terlebih-lebih lagi Siok Lee yang tidak melihat cucu sekaligus muridnya di antara para pejuang, dan hatinya amat gelisah.


Maka ia lalu melepaskan panah apinya untuk memberi tanda kalau cucunya berada di sekitar tempat itu dapat mengetahui bahwa dia telah datang.


Dan memang betul panah apinya terlihat oleh Siok Lan, akan tetapi waktu itu Siok Lan berada di tempat yang jauh sehingga tidak dapat dengan cepat tiba di situ.


"Wah, kalian bertiga kakek-kakek tua bangka kiranya masih hidup! Ha ...ha...ha...! sungguh lucu sekali dapat berjumpa dengan kawan-kawan lama dalam keadaan seperti ini. Ha ...ha...ha...!" seru Panglima Thian Sung dengan tawa lebarnya.


Siok Lee yang lebih tua daripada semua tokoh yang berada disampingnya menudingkan telunjuk ke arah panglima Thian Sung dan suaranya tegas dan bernada marah.


"Panglima Thian Sung! antara kamu, kami bertiga dan mendiang Xiao Chen dahulu terjalin persahabatan yang erat sebagai temanĀ”-teman seperjuangan melawan orang-orang Mongol, Siapa mengira, Kamu dapat terbujuk dan menjadi kaki tangan kerajaan Mongol, dan kini malah tidak segan-segan menentang para pejuang bangsa sendiri!" seru Siok Lee dengan bersemangat dan teriakannya mengingatkan orang akan sepak terjangnya di waktu muda dahulu.


Bangkitlah semangat para pejuang dan otomatis mereka bergerak, membentuk barisan lingkaran untuk menghadapi musuh yang sudah mengepung mereka.


"Ha...ha...ha...! Siok Lee ternyata nyalimu masih belum lenyap dan kamu tak pernah tua! Ketahuilah, seorang bijaksana harus dapat menyesuaikan diri dengan keadaan, melawan secara membabi buta tanpa perhitungan bukanlah laku seorang bijaksana, melainkan seorang tolol! Aku adalah seorang panglima yang bertanggung jawab dan setia kepada tugas dan kedudukanku. Aku harus membasmi setiap orang pemberontak. Akan tetapi aku masih mengingat bangsa sendiri, maka aku mengajukan usul. Para anak buah pemberontak dapat kuterima menjadi pekerja pekerja kembali dan diampuni dosa-dosa mereka. Akan tetapi pemimpin-pemimpinnya termasuk kamu, Siauw Hu dan bocah tua nakal, harus menyerahkan diri untuk kujadikan tawaran ke kota raja !" seru panglima Thian Sung.


"Hem, apakah kaukira demikian mudah kau akan dapat menangkap kami? Ha...ha...ha...! Dasar panglima anjing bangsa Mongol, cobalah kau tangkap Siauw hu !" kata kakek bocah tua nakal sambil tertawa tawa mengejek


"Bagus! Sekarang biarlah aku menghadapi kalian dengan aturan dunia persilatan! Kalau aku mengerahkan barisanku, tentu kalian semua akan terbasmi habis dan aku tidak menghendaki ini. Sekarang biarlah kita mengadu kepandaian antara para pemimpin pemberontak dengan aku dan para perwira bawahanku. Kalau kalian kalah, anak buah kalian harus menurut menjadi pekerja-pekerja kembali, sebaliknya kalau aku dan teman-temanku kalah, biarlah kalian semua kubiarkan


bebas dan aku tidak akan mengerahkan barisanku." ucap panglima Thian Sung yang memberi usul.

__ADS_1


''Nah, itu barulah ucapan seorang gagah. Thian Sung kiranya kamu masih ingat akan sopan santun dunia persilatan. Nah, sekarang aku Ang Han ketua perkumpulan pengemis sabuk sutra merah yang akan menjadi pelopor melawanmu. Lihat pedangku!" seru kakek yang berpakaian pengemis itu meloncat maju.


Tongkatnya bergerak dan kemudian tongkat itu sudah berubah menjadi pedang. Sementara otu gerakannya cepat sekali dan pedangnya mengeluarkan angin berkesiutan.


Memang kakek ini terkenal denga ilmu pedang Angin dan dengan ilmu pedang inilah maka perkumpulan pengemis sabuk sutra merah menjadi terkenal.


Tingkat Kepandaian Ang Han sudah amat tinggi dan kiranya hanya setan kipas merah-lah seorang diantara para pejuang yang dapat mengimbangi kepandaiannya.


"Wirr....!"


"Trang....!"


Pedang angin yang amat cepat gerakannya dari Ang Han tiba-tiba telah tertangkis oleh pedang panjang di tangan Thian sung dan begitu api muncrat ke kanan


kiri akibat benturan kedua pedang itu tampak Thian Sung mundur dua langkah, akan tetapi ketua itu terhuyung dan mukanya berubah agak pucat.


"Ha...ha...ha...! Raja Pengemis memang tidak bernama kosong belaka !" seru panglima Thian Sung.


Para pejuang agak segan untuk melakukan pengeroyokan, terutama sekali Siok Lee yang sudah memiliki nama besar sebagai seorang tokoh pedang yang bertingkat tinggi.


Turun tangan mengeroyok berarti mencoreng muka sendiri dan merendahkan derajat mencemarkan nama sendiri.


Akan tetapi, hati dan pendirian bocah tua nakal dan Biksu Ji tidaklah sekeras Siok Lee. Mereka berdua ini dulu pernah berjuang di bawah pimpinan Thian Sung dan sudah maklum betapa tinggi ilmu panglima itu, maka kini menyaksikan Ang Han bertanding dan dalam beberapa jurus saja sudah tertindih dan tertekan.


Kemudian mereka berseru keras dan meloncat maju, Biksu Ji menggerakkan tongkat andalannya di tangannya dan senjata ini sudah mengaung-ngaung seperti seekor naga mengamuk.


Adapun Bocah tua nakal sambil tertawa tawa, sudah mencabut pedangnya dan tampaklah segulung sinar pedang berkilauan menyambar-nyambar.


"Ha...ha...ha... bagus sekali ! Bocah tua nakal puluhan tahun yang lalu kita berteman dan saat ini kita berlawanan. Memang hidup harus berganti-ganti, banyak bumbu baru gembira! Ha...ha...ha...!"

__ADS_1


Pada saat tiga orang kakek itu mengeroyok Thian Sung, sesosok bayangan berkelebat memasuki tempat itu dengan cara seperti tiga orang kakek tadi, yaitu melompat dari pohon.


Bayangan itu bukan lain adalah Siok Lan yang segera menghampiri Siok Lee.


"Kakek!"


Sejenak pandang mata kakek ini berseri dan ia menggandeng tangan cucunya, lalu ia memandang lagi ke arah pertandingan dengan mata mengandung kekhawatiran.


"Kakek mari kita bantu mereka!" seru Siok Lan dengan semangat.


"Stttt.... jangan sembrono Siok Lan. Kamu tidak boleh sembarangan turun tangan, takkan ada gunanya!" bisik Siok Lee.


Siok Lan memandang bengong dan melihat betapa panglima tinggi besar itu biarpun dikeroyok tiga namun ternyata pedangnya hebat bukan main.


Tubuhnya yang tinggi besar itu berdiri kokoh kuat seperti menara besi, pedangnya bergerak dengan tenaga yang menggetar-getar, terasa sampai jauh angin sambaran pedangnya dan betapapun juga akan lihainya tiga orang kakek yang mengeroyoknya, namun tidak pernah senjata tiga orang ini dapat menyentuh.


Tiap kali tertangkis pedang di tangan Thian Sung bahkan tongkat Biksu Ji yang berat disertai tenaganya yang kuat sekalipun terpental dan hampir terlepas dari pegangan.


"Kakek, tiga orang kakek itu takkan menang, kenapa kakek tidak membantu mereka?" tanya Siok Lee dengan berbisik.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2