Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Bersiap melawan si Cambuk Besi,


__ADS_3

"Siok Lan! Bagaimana kamu begitu berani kurang ajar! kau menyebut dia Yu Tian? Apa-apaan ini? Siapa itu Yu Tian ?" tanya Siok Lee yang penasaran.


"Dia pelayanku." jawab Siok Lan apa adanya.


Namun kemudian Siok Lan terheran-heran melihat kakeknya memandangnya dengan mata terbelalak seperti itu.


"Apa? di..dia pelayanmu? Dia....


pelayanmu! Ha....ha....ha... ! Setua ini baru kali ini aku mendengar urusan begini lucu dan gila! ha...ha...ha..!'' seru Siok Lee, dimana Kakek itu tertawa terbahak bahak sehingga mengejutkan semua orang yang memandangnya dengan khawatir, takut kalau kakek itu menjadi gila karena menyesal melihat pihaknya menderita kekalahan.


Tubuhnya bergoyang dan Siok Lan cepat memegang lengan kakeknya.


"Kakek! kakek kenapa?" tanya Siok Lan yang penasaran.


Siok Lee memeluk cucunya dan


menghentikan tertawanya ketika sadar bahwa sikapnya itu mengherankan semua orang.


"Diamlah, dan kau lihat saja. Lihat baik-baik dan kau akan mengerti, cucuku," kata Siok Lee lirih dan Siok Lan menganggukkan kepalanya lalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh kakeknya.


Xiao Yu juga menengok ke arah mereka dan ketika bertemu pandang dengan Siok Lan dan kemudian mengulas senyumnya.


Thian Sung juga mendengar percakapan antara kakek dan cucunya itu.


"Ha..ha..ha..! kiranya kau ini pelayan cucu Siok Lee! Seorang pelayan berani menantangku. Apakah kau sudah gila!" seru Thian Sung yang tertawa terpingkal-pingkal.


"Thian Sung, sudah kukatakan tidak perduli aku siapa, akan tetapi saat ini aku mewakili semua pejuang menghadapimu. Asal saja engkau tidak menjilat ludah sendiri. Kalau kau kalah terhadap aku, kau akan membebaskan semua pejuang yang berada di sini. Benarkah itu?" ucap Xiao Yu.


Thian Sung menjadi penasaran. Dia yang seorang panglima besar, bagaimana ia harus merendahkan diri melawan seorang pelayan.


"Siok Lee, benarkan gadis ini menjadi wakil kalian?" tanya Thian Sung yang masih belum percaya.


"Benar, lawanlah dia kalau kamu memang sakti! kalau kau kalah akan mendapat malu, ha...ha...ha...!" balas Siok Lee dengan tawa khasnya.

__ADS_1


Thian Sung masih penasaran dan menoleh ke arah setan kipas merah yang sejak tadi menundukkan wajahnya karena mendengar percakapan antara Siok lee dan cucunya tentang gadis yang ia kenal dan sukai sebagai Xiao Yu Si Pendekar tanpa gelar, yang pernah menolak cintanya.


"Setan kipas merah juga setuju gadis ini menjadi wakil kalian dan kalau dia kalah dariku, kalian semua akan tunduk akan semua keputusanku!" seru Thian Sung yang menatap Xiao Yu dengan tajam.


"Dia memang wakil tunggal kami, dialah yang kami nantikan sejak tadi." jawab Setan kipas merah dengan yakin.


Siok Lan seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya, ataukah dia yang sudah gila dan telinganya tidak dapat menangkap ucapan orang dengan benar lagi.


Namun Thian Sung masih juga ragu. Ia tidak ingin dipermainkan dan dikatakan pengecut merendahkan diri hanya berani melawan seorang pelayan rendah.


"Pelayan! sebelum aku melawanmu hendak kulihat apakah kau cukup berharga untuk menjadi lawanku!" seru Thian Sung pada Xiao Yu.


Kemudian Ia menoleh ke belakang dan berkata kepada seorang perwira bertubuh kekar yang memegang sebatang cambuk besi.


"Kau wakili aku, hancurkan kepala budak hina ini !" seru Thian Sung dengan menunjuk kearah perwira yang ditunjuknya.


Perwira bertubuh kekar itu adalah seorang tokoh pengawal istana, saorang ahli silat yang bertenaga besar dan senjata nya itu, sebatang cambuk besi dengan hebatnya.


Xiao Yu yang tahu senjatanya, yaitu sebatang ranting berani menghadapi segala macam senjata keras, kecuali cambuk yang lemas, karena ranting itu akan terbabat putus oleh cambuk yang lemas sifat nya. Maka ia lalu menyelipkan rantingnya di pinggang.


"Baiklah Thian Sung, aku akan menghadapi pembantu mu ini dengan tangan kosong!" seru Thian Sung seraya bertolak pinggang.


"Oh, dasar sombong!" seru perwira yang membawa cambuk besi itu.


Xiao Yu tidak menjawabnya, dan dia mengulas senyumnya saja karena hal ini memang yang diharapkan Xiao Yu agar tidak diketahui orang, akan rahasia kelemahan senjatanya yang amat sederhana ini.


Siok Lan menjadi pucat, menganggap bahwa Yu Tian benar-benar sudah gila.


Perwira bertubuh kekar itu marah sekali, merasa dipandang rendah dan dihina. Maka sambil berseru keras ia mengerang maju sambil menggerakkan cambuknya.


"Tar tar tar...!"


Cambuk besi itu melecut-lecut dan ujungnya menari-nari di atas kepala Xiao Yu, seolah-olah mengancam hendak menghancurkan kepala gadis itu, yang tampak tenang saja itu.

__ADS_1


Melihat gadis itu tenang saja menghadapi ancaman ujung cambuknya, si perwira kekar itu, dia semakin marah dan dengan bentakan keras ia kini benar+benar menyerang.


Ujung cambuknya menyambar ke arah jalan darah di leher Xiao Yu setelah meledak dengan suara nyaring.


Namun dengan amat mudanya Xiao Yu mengelak. Ujung cambuk terus menyambar-nyambar dan terjadilah pemandangan yang membuat Siok Lan terkejut.


Pelayannya itu kini bergerak-gerak indah sekali, indah dan cepatnya sampai membuat mata nya kabur dan kepalanya pening. Itulah jurus meringankan tubuh yang jarang ia saksikan.


Tubuh Xiao Yu itu seolah berubah menjadi asap, begitu ringannya ia bergerak, seolah ujung cambuk yang menyambar nyambar itu lebih dulu membuat tubuhnya melayang sebelum tiba sehingga tak pernah satu kalipun ujung cambuk dapat menyentuh bajunya yang putih kasar.


"Benarkah itu Yu Tian, pelayanku?" gumam dalam hati Siok Lan yang merasa bahwa selama ini dia seperti orang buta, tidak melihat bahwa pelayannya itu sesungguhnya memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada dia sendiri.


"Tapi kenapa dia menyamar sebagai seorang laki-laki?" Siok Lan masih bergumam dalam hatinya dengan penuh rasa penasarannya.


Siok Lan terpaksa harus menghentikan keheranannya karena ia amat tertarik menonton pertandingan itu. Xiao Yu yang tadinya berloncatan menghindarkan diri dari sambaran sambaran cambuk, kini tiba-tiba berdiri tegak dengan kedua kaki di pentang lebar dan kedua tangan bertolak pinggang, menanti datangnya serangan musuh.


Perwira kekar itu berseru girang dan juga beringas, cambuknya menyambar ke arah tubuh Xiao Yu. Gadis ini tadi memang sengaja mengelak terus untuk mengenal dasar gerakan ilmu cambuk lawan.


Kini ia sudah dapat mengukur dan mengenal, maka ia berdiri tegak menanti datangnya cambuk. Begitu ujung cambuk sudah dekat dengan kulit dadanya tangan kanannya meraih dan ujung cambuk itu telah ditangkapnya dengan mudah.


Perwira itu marah menarik cambuk besinya dengan sekuat tenaga untuk merampas kembali senjatanya, namun sia-sia belaka. Ujung cambuk baja itu tak dapat terlepas dari genggaman tangannya Xiao Yu.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2