
Untung didahului oleh Han wen yang merobohkan lawan itu dengan pedangnya.
Jika sampai diserang lawannya dari arah belakang dalam jarak dekat, maka sangatlah berbahaya. Akan tetapi keterkejutan Yang Tek tidaklah seterkejut ketika ia mendengar pengakuan Han Wen.
Han wen memutar pedangnya. Jantungnya berdebar tidak karuan dan tiba-tiba terlintas dalam bayangan setahun yang lalu. Dimana dalam batinnya telah terikat dengan Xiao Yu si pendekar tanpa gelar.
Walaupun Xiao Yu sama sekali tidak pernah memperdulikan dia dan adik seperguruannya. Dan dia kini akan membuka hati kepada Yang Tek, gadis yang lincah dan perkasa ini.
Demikian pula Yang Tek, gadi itu bingung menjawab isi hati pemuda dihadapannya itu.
Saat ini Han Wen mengamuk hebat, karena gejolak dalam dirinya.
"Kak Han Wen, apakah kamu marah padaku karena aku belum menjawab isi hati kamu?" tanya Yang Tek seraya membalas serangan lawannya.
"Tidak, sama sekali tidak marah pada kamu!" ucap Han Wen yang masih mengamuk dengan sisa-sisa tenaganya.
"Lantas kenapa kak Han Wen seperti ini?" tanya Yang Tek yang penasaran.
"Aku...aku cinta padamu. Tapi aku harus melebur cintaku pada seseorang!" jawab Han Wen yang terus menyerang lawannya.
"Trang....Trang.....Trang....!"
"Aaarrgh...!"
Seorang lawan tertembus pedang Han Wen sampai ke punggung. Pemuda itu melompat ke belakang menarik pedangnya menghadapi pengeroyokan empat orang lainnya.
"Kalau masih menyukai gadis lain, kenapa mengungkapkannya padaku? kamu harus melupakan gadis itu kak!" tanya dan seru Yang Tek yang sedikit kesal.
"Tidak bisa! Ah, tidak mungkin!" seru Han Wen. yang tidak bisa berkata-kata lagi.
Wajah Yan Tek pucat dan muram, karena dia baru saja diberi setangkai mawar dan habis itu dihempaskan kembali.
__ADS_1
Yang Tek tambah mengamuk yang makin hebat. Sehingga membuat pihak lawan menjadi makin panik, dan banyak jatuh korban dipihak lawan dan tak lama kemudian setelah dua orang perwira penjaga itu roboh di tangan Han Wen dan Yang Tek.
Kemudian sisa dari para penjaga itu lalu melarikan diri meninggalkan gardu penjagaan, meninggalkan pula banyak senjata dan ransum yang kemudian dirampas oleh pasukan penyerbu. Selain itu juga meninggalkan pula belasan wanita hasil culikan yang kemudian dibebaskan oleh Yang Tek dan Gui Siong.
Sebelum fajar muncul, pasukan ini lenyap dan hanya ada belasan orang terluka ringan, telah menghilang dari tempat itu sehingga ketika datang ratusan serdadu penolong pihak penjaga, tempat itu sudah menjadi sunyi dan gardu-gardu telah dibakar, mayat para penjaga berserakan.
Setelah penyerbuan raut wajah Yang Tek kelihatan muram dan sayu mencerminkan kekecewaan dalam hatinya.
Sementara Han Wen merasa tak enak hati, karena terlanjur mengungkapkan isi hatinya. Padahal dirinya masih ada rasa pada gadis lain.
Karena kedua orang ini adalah orang orang pendiam, maka mereka itu menahan derita korban asmara gagal ini di dalam batin saja.
Berbeda keadaan mereka dengan Gui Siong dan Tan Li. Beberapa hari setelah penyerbuan yang berhasil itu, pada malam harinya yang terang benderang karena bulan purnama muncul sejak sore, kebetulan Gui Siong dan Li Ceng berada berdua saja di dalam hutan yang menjadi tempat persembunyian mereka.
Hampir semua pasukan sudah beristirahat, kecuali mereka yang menjaga, dan kedua orang muda yang bertugas mengawasi penjagaan ini bertemu di bagian yang terbuka sehingga sinar bulan sepenuhnya menyinari mereka.
"Adik Gui Siong, ada satu hal yang sudah lama sekali menjadi ganjalan di hatiku, tapi aku masih ragu untuk mengungkapkannya!" ucap Tan Li yang memandang wajah cantik Gui Siong.
"Kalau ada ganjalan hati, kenapa tidak lekas dikeluarkan? Jangan biarkan ganjalan hati itu merusak jantung dan paru-paru. Jadi apa sih ganjalan hatimu, kakak Tan?" tanya Gui Siong yang penasaran.
"Aku khawatir akan ada orang yang marah besar kalau sampai aku berani mengatakan ganjalan ini, adik Gui!":jawab Tan Li yang semakin ragu-ragu.
Gui Siong memandang Tan Li dengan mata bening terbelalak, alis hitam panjang terangkat. Sementara Tan Li terpesona pada Gui Siong, betapa cantiknya gadis ini kalau sudah memandangnya seperti itu.
Tan Li tidak percaya kepada kekuatan sendiri dengan cepat dia mengalihkan pandangan, kini Tan Li menengadah menatap rembulan.
"Aihh, kakak Tan ini lucu dan aneh. Siapakah orangnya yang akan marah?" tanya Gui Siong yang penasaran.
"Engkaulah orangnya." jawab Tan Libyang tanpa bergerak dari posisinya.
''Eh, Jangan bergurau, kakak Tan. Kenapa juga aku harus marah?" tanya Gui Siong yang terus memandang ke arah pemuda itu yang masih memandangi rembulan.
__ADS_1
"Benarkah kamu tidak akan marah, adik Gui?" tanya Tan Li yang memastikannya.
"Tidak, kenapa juga harus marah? Aku berjanji takkan marah. Apa sih ganjalan aneh itu?" tanya Gui Siong yang penasaran.
"Biarlah aku berterus terang, memang tidak baik menyimpan ganjalan hati dan kaupun boleh marah padaku, memang aku yang tak tahu diri. Adik Gui semenjak pertemuan kita setahun lebih yang lalu, ketika menyerbu Istana Tengah Hutan sarang setan kipas merah dan gurunya, aku....... aku telah menaruh hati padamu. Bahkan suhu sendiri mengusulkan agar aku dan kak Han wen dapat berjodoh dengan kamu dan juga Adik Yang Tek. Tapi ditengah rasa cintaku pada kamu, ada rasa lain yang mengganggu saat aku bersama pendekar Xiao Yu. Anehnya rasa itu sama persis. Nah, inilah ganjalan hatiku!" jelas Tan Li yang tentu saja membuat wajah Gui Siong yang semula berseri menjadi merah, saat mendengar pernyataan dari Tan Li.
Menurut suara hati Gui Siong, pemuda itu telah bertepuk sebelah tangan. Pemuda yang begini tampan, halus, gagah perkasa, yang sudah lama menjatuhkan hati padanya, tetapi dia juga mencintai pendekar tanpa gelar itu.
Gui Siong menghela napas panjang. Dan memandang ke arah rembulan.
Mendengar gadis itu menghela napas dan tidak menjawab, Tan Li mengerutkan keningnya dan menoleh dengan wajah pucat, ia sudah siap menanti akibat yang paling buruk yaitu dimaki-maki oleh Gui siong karena dianggap kurang ajar.
Tan Li menoleh dan melihat gadis itu menunduk, wajah yang cantik dan tersinar cahaya rembulan itu murung dan muram.
"Maafkan aku adik Gui, sungguh aku tak tahu diri dan..." ucap Tan Li yang tak berani melanjutkan ucapannya.
"Bukan begitu, kakak. Aku tidak marah, juga aku harus bersyukur dan berterima kasih karena kakak Tan menaruh perhatian kepada diriku, tapi kenapa harus ada dia diantara cinta kita?" ucap GUI Siong dengan berkaca-kaca.
"Kalau begitu kamu....!" ucap Tan Li yang sangat terkejut, karena ternyata gadis yang ada dihadapannya ada rasa padanya.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1