Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Penyamaran yang mulus


__ADS_3

"Aih kekasihku! kau nakal sekali. Betapa kejamnya dirimu melukai bibirku!" ucap Setan kipas merah dengan genitnya, tanpa sadar dia membuka totokkannya pada Ling Ling.


Gadis itu segera mendorong setan kipas merah, dan membuat laki-laki itu terjungkal ke lantai.


"Ugh ...! brukk...!"


Ling Ling tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, gadis itu meloncat bangun terus menyambar sepasang pedang yang tergeletak di atas meja. Dan kemudian menerjang Setan kipas merah, dengan kemarahan meluap-luap menerjang Setan kipas merah.


"Trang....Trang...Trang...!"


Namun semua terjangan gadis itu dapat dibendung dan kini Ling Ling yang mulai terdesak. Karena setan kipas merah telah mengeluarkan kipasnya untuk menangkis serangan pedang gadis itu hanya dengan tangan sebelah kanan dan tangan sebelah kirinya mengambil saputangan merah yang harum ada di saku laki-laki itu.


Ling Ling dengan hati hati terus menyerang serta mengerahkan semua jurus dan tenaganya sekaligus waspada


menjaga diri dari serangan saputangun merah itu, yang sewaktu waktu bisa dikebutkan ke mukanya.


Begitu juga dengan kipas merah yang ada di tangan musuhnya itu benar benar amat lihai, pedangnya tak bisa balas menyerang lagi tapi hanya buat melindungi tubuhnya dari serangan kipas merah.


"Amitabha..!"


Tiba-tiba terdengar seruan dan dari pintu belakang muncul seorang tua yang perutnya gendut sekali. Sebagian perutnya yang di atas terbuka sebab biksu ini memang tidak berbaju sehinngga dada serta separah perutnya itu telanjang. Wajahnya muram dan alisnya sudah putih. Di lengan kanannya biksu ini mencekal sebuah tongkat berkepala naga.


Ciri khas biksu ini adalah muncul sambil mengeluarkan seruan memuja Budha, tetapi orang kedua yang tiba bersamanya sudah mencabut pedang terus menyerbu ke depan.


Orang ini ialah seorang pemuda yang tak kalah tampan dengan Setan kipas merah. Dia berpakaian serba putih berusia sekitar dua pulah tahun, bertubuh tegap dan gagah.


Pedang tunggalnya bergerak cepat sekali dan begitu menyerbu, pedangnya berkelebat menusuk ke arah lambung kanan Setan Kipas Merah.


"Trang....!"


Pedang di tangan pemuda yang memakai baju putih itu membalik lalu ia berseru kaget, sama sekali tidak mengira bahwa Setan kipas merah demikian kuat tangkisanya.


Sementara itu Setan kipas merah mendapat kenyataan bahwa laki-laki baju putih yang baru tiba datang dan menyerangnya ini memiliki jurus yang tak kalah hebatnya dengan dirinya.


Maka dari itu dia bergerak dengan hati-hati lalu meloncat mundur.

__ADS_1


"Kakak Han Wen dan guru! bantu aku membasmi Setan kipas merah ini!" seru Ling Ling yang dengan girang saat melihat munculnya d keua orang itu.


"Adik seperguruan, jangan khawatir lblis ini takkan bisa lolos!" jawab pemuda dengan baju putih sambil menerjang lagi. Lalu disusul oleh Ling ling yang berbesar hati melihat munculnya guru serta kakak seperguruannya.


"Trang.... trang.... trang....!"


Tangkisan kipas merah kali ini amat kerasnya sehingga membuat Ling-Ling maupun pemuda baju putih itu sempat terhuyung-huyung mundur.


Setan kipas merah berdiri dengan kipas merahnya yang melintang di depan dada, wajahnya pucat dan matanya terbelalak ketika memandang , telunjuk tangan kirinya menunjuk ke arah muka bekas lawannya.


"Kau.....Kau..... laki-laki!" seru Setan Kipas Merah yang terkejut saat melihat gadis yang bernama Ling Ling mencuci mukanya dan kemudian mengeluarkan dua bantalan bulat yang ada di dadanya dengan senyum mengejek.


"Ha...ha...ha...! seharusnya kamu itu teliti sebelum membeli! masak jeruk makan jeruk?" celetuk laki-laki yang memakai baju putih.


"Dasar laki-laki tak tahu malu! Hatimu sudah begitu kotor sehingga matamu buta tak dapat melihat mana wanita mana laki laki!" umpat laki-laki yang merubah dirinya menjadi Ling Ling.


Mendengar ini muka yang pucat dari Setan kipas maut berubah marah sekali, sepasang matanya menjadi muram dan hatinya diliputi kekecewaan besar.


Harus dia akui bahwa ia tadi sempat jatuh cinta Ling Ling dan kalau ia berhasil, ia akan menghentikan petualangan dengan gadis-gadis lainnya dan ingin hidup selamanya di samping gadis yang dicintainya.


Sekarang semua harapan itu buyar seperti asap tertiup angin dan selain rasa kecewa, ia juga merasa malu sekali dan marah.


Serangan setan kipas merah hebat bukan main sehingga dua saudara seperguruan itu cepat memutar senjata untuk menangkisnya.


"Amitabha...! muridku jangan biarkan setan kipas merah ini mengganas!" seru Biksu tua yang merupakan guru kedua pemuda itu dengan tongkatnya yang melayang mengarah ke pertempuran.


Setan Kipas merah kaget bukan main. Disaat dia sedang sibuk dengan serangan kedua saudara seperguruan itu, dan kini tiba-tiba seta kipas merah mendengar desir angin yang demikian dahsyat yang ditimbulkan oleh tongkat panjang yang mengarah padanya,


Dengan cepat setan kipas merah meloncat sambil memutar kipas merahnya.


"Bughh...!"


Ujung tongkat menggebuk ke arah punggungnya, secepat kilat setan kipas merah memiringkan tubuh sambil mengerahkan kipas merahnya ke punggung untuk melawan gebukan itu. Karena jika tidak memiringkan atau mengelaknya, tentu tulang punggungnya bisa patah patah.


Walaupun begitu setan kipas merah masih terlempar dan jatuh bergulingan, ia terus menggulingkan tubuh mendekati pintu, kemudian meloncat bangun sambil memutar kipas merahnya.

__ADS_1


"Gundul keparat! Siapa kau!" bentak setan kipas merah dengan geram.


"Hm, seorang biksu tentunya selamanya anti kejahatan! Agar tak penasaran, saya adalah biksu Ji." balas Biksu itu yang tak lain biksu Ji atau biksu Gila.


"Biksu Gila!" seru setan kipas merah dengan keras dan kaget. Gurunya pernah berpesan agar hati-hati kalau bertemu dua orang, yaitu pertama adalah Biksu Ji si Biksu Gila ini, dan yang kedua adalah Kwe Cheng si bocah tua nakal.


Kini mendengar guru dari kedua pemuda yang menyerangnya adalah biksu Ji, setan kipas merah mulai merasakan bahwa keadaannya amat berbahaya kalau dia terus melanjutkan pertandingan. Apalagi punggungnya sudah terluka, walaupun itu hanya merupakan luka di luar saja.


Sambil meloncat dia mengibaskan kipas merah ya dan membuat angin yang sangat mengerikan. Dan pada saat itu tubuhnya sudah melayang keluar dari pintu.


"Setan kurang ajar! hendak lari ke mana kau!" seru laki-laki yang tadi menyamar sebagai Ling Ling, dan ternyata dia bernama Tan Li yang bersama Kakak seperguruannya itu berusaha mengejar Setan kipas merah.


"Awas.... !"


Seru guru mereka yang sudah melompat maju dan memutar tongkat. Kedua pemuda itu sangat terkejut dan kemudia merebahkan diri.


Sinar hijau menyambar di atas tubuh mereka dan lenyap memasuki dinding. Itulah jarum jarum hijau yang beracun. Beberapa jarum runtuh oleh putaran tongkat Biksu Ji.


"


"Kejar...!" seru Tan Li yang masih geram terhadap Setan kipas merah dan dia meloncat keluar disusul kakak sepeguruannya.


Biksu Ji dan dua orang muridnya itu mengerahkan tenaganya untuk melakukan pengejaran dengan jurus meringankan tubuh yang mereka miliki.


Akan tetapi Setan Kipas Merah sudah menjauh pergi, dan saat ini dia sudah sampai di dermaga. Kemudian pemuda itu meloncat ke dalam sebuah perahu dan mulailah dia mendayung dengan cepat membelah sungai Yang.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


"


__ADS_2