
Karena mereka itu takut kalau kalau si bayangan dewa mengganas dan mengejar mereka, empat orang itu menahan sakit serta terus lari sehingga dalam waktu cepat mereka sudah tidak tampak lagi
"Kau ganas sekali, tuan!" seru Xiao Yu yang masih dalam kondisi menyamar sebagai laki-laki itu menghampiri si bayangan Dewa.
Pemuda itu baru saja memasukkan pedangnya sambil tersenyum puas, membalikkan tubuhnya melihat ke arah Xiao Yu yang masih duduk dengan mata terbelalak, mulutnya lalu cemberut serta pipinya merah.
"Kau ini bekas pelayan macam apa! Tadi bersikap seperti seorang pelayan setia, sekarang ada orang membela nama baik dari kuburan keluarga majikanmu malah kau mencela! Kenapa kau sebut aku ganas?" tanya Si bayangan Dewa yang menatap Xiao Li dengan tajam.
Xiao Yu menjadi merah mukanya, merah sampai ke telinganya. Baru sekali inilah ia dimaki-maki oleh seorang laki-laki, akan tetapi tidak menimbulkan marah di hatinya, hanya menimbulkan rasa malu.
Akan tetapi, di lubuk hatinya ia memang tidak puas melihat keganasan laki-laki itu.
"Aku.... aku merasa ngeri melihat kau membuntungi daun telinga mereka tadi. Setelah mereka kalah, apakah masih perlu dibuntungi daun telinga mereka?" jawab sekaligus tanya Xiao Yu.
"Huhh, kau ini tahu apa! Baru dibuntungi daun telinganya mereka itu masih untung besar! Coba saja kalau bertemu pendekar lain umpamanya Pendekar Tanpa Gelar, tentu mereka itu bukan hanya daun telinganya yang buntung melainkan lehernya!" seru si Bayangan Dewa itu yang membuat Xiao Yu terbelalak saking herannya, mendengar disebutnya nama Pendekar Tanpa Gelar disebutkan.
"Pendekar Tanpa Gelar? Kenalkah tuan kepadanya?" tanya Xiao Yu yang penasaran.
Pemuda itu menggeleng kepala serta bibir nya diliarkan menghina. Perlu apa mengenal seorang perempuan seperti dia. Biar dia seorang pendekar, namanya perempuan pastinya suka menangis. Sungguh merepotkan, tetapi aku memang mencari dia!" ucap pemuda itu.
"Hah, kau ini laki-laki! kenapa tidak suka sama perempuan sih?" tanya Xiao yu yang semakin penasaran.
"Bukannya tidak suka, belum mau saja! ha...ha...ha..!" jawab si bayangan Dewa dengan tawanya yang khas.
"Hah...!" seru Xiao Yu yang terkejut.
"Eh, kau ini pelayan keluarga Xiao, tentu tahu dia. Bukankah Pendekar tanpa gelar yang suka membantu orang yang tertindas itu, cucu satu-satunya keluarga Xiao yang terbebas daripada maut ketika Siauw Bi membasmi keluarga Xiao?" tanya pemuda itu yang membuat Xiao Yu makin heran.
Semuda itu si Bayangan Dewa sudah banyak pengetahuannya, bahkan tahu pula akan keluarganya.
"Memang betul tuan, tapi kenapa tuan mencari nona muda keluarga Xiao?" tanya Xiao Yu yang belum mengatakan siapa dirinya pada pemuda itu.
__ADS_1
"Gadis yang cengeng itu sombong sekali. Dia malang melintang di dunia persilatan tidak memandang mata kepada orang lain, aku hendak mencarinya dan manantangnya bertanding!" jelas Pemuda itu dengan senyum tipisnya.
"Kenapa mau menantangnya? Apa kesalahannya?" tanya Xiao yu yang berusaha mengorek keterangan dari pemuda itu.
"Ihh kau ini cerewet seperti perempuan saja! Dan kau sungguh tidak tahu terima kasih, tahukah kau bahwa kalau tidak ada aku tadi, kau sudah mampus di tangan delapan raja laut timur itu. Dan kuburan majkanmu ini pasti sudah dibongkar, tulangnya dihancurkan! Dan kau sepatah katapun tidak pernah berterima kasih kepadaku!" celetuk pemuda itu.
Xiao Yu cepat-cepat bangkit lalu menjura ke arah pemuda itu.
"Ah, maafkan aku tuan. Aku menghaturkan banyak terima kasih atas pertolonganmu tadi sehingga sampai detik ini, aku masih hidup dan kuburan ini tidak dibongkar orang." ucap Xiao yu yang berusaha untuk sopan.
"Cih! Beginikah sopan santun seorang bekas pelayan, keluarga Xiao! Hm jika keluarga Xiao masih hidup dan melihat sikapmu ini, tentu kau akan digampar dan nantinya dipecat dengan tidak hormat tanpa mendapat pesangon!'' seru pemuda itu dengan geram.
"Oh, iya aku kan masih menyamar sebagai laki-laki dan sebagai pelayan keluarga Kakek!" gumam dalam hati Xiao Yu yang teringat bahwa kini sedang bermain sebagai pelayan, maka untuk menyesuaikan diri ia berlutut, mengangguk-angguk dan minta maaf serta menghaturkan terima kasih.
"Nah, begitu baru tahu peraturan dan sopan santun namanya. Eh, pelayan, kau ketahuilah bahwa antara majikanmu yang tua Xiao Chen dan kakekku terdapat persahabatan maka engkau harus menganggap aku sebagai seorang tuan muda
majikan pula. Akupun menganggap kau sebagai pelayan keluargaku sendiri, maka aku tadi tidak ragu ragu untuk menolongmu. Dan sekarang, aku berbalik ingin minta pertolongan darimu." ucap Si pemuda itu yang menjelaskan dirinya.
Pemuda itu lalu duduk di atas sebuah batu di depan gundukan tanah kuburan. Sikapnya dan duduknya juga bebas.
"Kau duduklah dan dengarkan aku !" seru pemuda itu seraya memandang wajah Xiao Yu yang penuh perhatian kemudian ia mengerutkan alisnya.
"Kau tentu masih kecil ketika keluarga Xiao dibasmi musuhnya. Selama belasan tahun itu, kau menjadi apa dan berada di mana?" tanya pemuda itu yang tiba-tiba, membuat Xiao Yu gugup.
Sejenak Xiao Yu tidak mampu menjawab, hanya memandang wajah yang semakin lama makin tampan baginya itu.
"Eh, kau memandang apa?" Bentak pemuda itu yang merasa risih karena dipandang begitu aneh oleh pelayan laki-laki yang ada dihadapannya itu.
"Anu...eh...anu, memandang tuan muda." jawab Xiao yu yang gugup.
"Kau mau kurang ajar, ya? kita kan sama-sama laki-laki!" seru Pemuda itu dengan geramnya.
__ADS_1
"Eh, tidak sama sekali. Bagaimana saya berani. Dan kalau tidak memandang kepada nona, bagaimana saya dapat diajak bicara?" ucap Xiao Yu yang membuat alasan yang sekenanya saja.
Pemuda itu menggera- gerakkan alisnya, menimbang nimbang lalu tersenyum.
"Betul juga kau. Kukira tadi pandang matamu kurang ajar, seperti pandangan mata penyuka laki-laki." ucap Si bayangan Dewa dengan mengulas senyumnya.
"Eh, saya ma'af saja bukan tipe penyuka sesama jenis! saya masih normal kok! ha....ha...!" ucap Xiao Yu dengan mengulas senyumnya.
"Ohya kau belum menjawab pertanyaanku!" seru si pemuda itu yang penasaran.
"Oh, selama ini saya menjadi petani di dusun, tuan muda. Hari ini kebetulan hari ulang tahun kematian keluarga majikan saya. Dan karena teringat akan budi mereka terhadap orang tua saya dan saya, maka saya datang untuk sekedar memberi hormat." jelas Xiao Yu yang tentu saja dia sedang berbohong.
"Hemm, bagus. Kau mengenal budi. Apakah kau bisa membaca taukah buta huruf?" tanya pemuda itu yang memandang Xiao Yu dengan penasaran.
"Eh! Sedikit-sedikit saya bisa nona." Pertanyaan aneh aneh, pikir Yu Lee yang seraya menganggukkan kepalanya.
"Baik, aku tidak senang kalau kau buta huruf, akan menambah kebodohanmu dan tentu akan menjengkelkan saja!" seru si Bayangan Dewa dengan sedikit kesal.
"Oiya, tadi kau bilang tadi bahwa kau pelayan keluarga Xiao, jadi tentunya tahu akan Pendekar tanpa gelar itu. Apakah benar begitu?" lanjut tanya Pemuda itu dengan rasa penasarannya.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1