Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Menghadapi Raja Pengemis ll


__ADS_3

Akan tetapi dasar Siok Lan itu bandel, berani dan tidak mengenal takut, bahkan dia mengulas senyumnya.


"Ah, rupanya raja pengemis yang muncul sendiri, kebetulan sekali kita berjumpa.Anda tadi bilang hendak menegurku, ha...ha...ha...! boleh saja. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku pun ingin sekali menegurmu atas kelakuan anak buahmu yang tidak patut. Pelayan ku ini menjadi saksi akan kekurangajaran para pengikutmu dan orang-orangmu itupun kebetulan hadir." ucap Siok Lan yang tanpa rasa takut sama sekali.


Sampai di sini Siok Lan menudingkan telunjuknya ke arah Ang Kun, Ang Ci dan Ang Sun yang berdiri tak bergerak, mata mereka mendelik marah.


"Betul seperti yang dikatakan tuan muda majikanku!" seru Xiao Yu dengan suaranya lantang dan ia tidak perduli pada tiga orang tokoh pengemis itu dan si ketua atau raja pengemis itu sendiri.


Namun pandangannya penuh kewaspadaan, maklumlah jika tiga orang tokoh pengemis itu tentu sudah mengerti bahwa dia adalah searang berkepandaian tinggi dan tentu sudah melapor kepada ketua mereka kalau dialah yang


"melindungi" Siok Lan secara diam-diam.


"Aku menjadi saksi hidup ! Aku berani sumpah demi apapun juga bahwa dalam urusan antara majikanku dan para tokoh perkumpulan pengemis sabuk sutra merah, bahwa tuan mudaku tidak bersalah seujung rambut sekali pun! ketua harap mengambil pertimbangan yang adil. Pertama-tama, anak buahmu yang seorang itu telah menghadang tuan mudaku dan dengan paksa hendak minta sumbangan, yang kemudian ditolak oleh majikanku sehingga terjadi bentrokan. Kemudian kedua orang yang lebih besar itu, datang pula selagi majikanku sedang makan. Coba ketua katakan apa kesalahan majikanku? Kalau kalian tidak mengganggunya, tentu tidak akan terjadi bentrokan!" ucap Xiao Yu yang menuding ke arah Ang Ci dan Ang Sun.


"Ha....ha.....ha.... ! Omonganmu tepat namun jelas membela sebelah pihak! Seorang gagah akan berpemandangan luas menilai persoalan nya, bukan hanya yang berada di depan hidung saja.


Majikan kamu ini adalah cucu seorang Siok Lee, pejuang dan penentang pemerintah penjajah, maka sudah sepatutnya kalau anak buahku minta sumbangan kepada majikan kamu ini. Karena sumbangan-sumbangan itu bukan untuk diri kami pribadi melainkan untuk pembiayaan perjuangan melawan pemerintah Mongol. Akan tetapi majikan kamu ini tidak menyumbang malah menghina, mengandalkan perlindungan dan sembunyi. Ha.....ha....ha....!" ucap Raja pengemis itu dengan diselingi tertawa.


"Setelah sekarang bertemu dengan aku sendiri, apakah majikan kamu ini akan lari ketakutan?" lanjut tanya raja pengemis itu dengan sedikit mengejek.


"Dasar tua bangka yang sombong!"


Tiba tiba Siok Lan berseru keras dan mencabut pedang nya,


"Jangan asal terbuka saja mulutmu ! Siapa takut kepadamu. Kalau tidak terima dan mendendam kepadaku, hayo ini aku sudah berada di sini. Kau mau apa!" lanjut seru Siok Lan yang dalam posisi siap melawan setiap serangan yang akan dia hadapi.


Raja pengemis atau Ang Han itu pun tertawa, akan tetapi matanya mengerling ke arah Xiao Yu.

__ADS_1


"Setidaknya hari ini akan kupaksa orang mengaku dirinya itu siapa! pendekar Bayangan Dewa, mari kita main-main sebentar dengan pedangmu. Bukankah itu pedang perak? Tentu ada pula Jarum perak! Itulah kepandaian yang dibanggakan Siok Lee. Apakah anda telah mewarisi kepandaian itu seluruhnya?" tanya Ang Han yang menatap Siok Lan secara tajam. Kemudian kakek itu melangkah maju, tangan kanannya menampar ke arah Siok Lan.


Siok Lan tahu akankehebatan lawannya, maka iapun berlaku hati hati dan miringkan tubuh mengelak sambil menggeser kaki. Tangan lewat di atas pundaknya, anginnya bersiut. Tapi ujung lengan baju itu masih meluncur akan menotok lehernya.


"Ahh.....!" seru Siok Lan membelakangkan tubuhnya dan sinar perak pedangnya menyambar ke arah lengan kakek itu.


Kakek itu memutar tubuh, tongkatnya di gerakkan menangkis dan tubuh Siok Lan terhuyung huyung ke belakang sampai delapan langkah. Ia merasa seperti tubuhnya didorong tenaga tersembunyi yang dahsyat.


Walaupun tahu kakek tua itu sakti dan bertenaga dalam yang hebat, sedikitpun Siok Lan tidak memperlihatkan rasa takut.


Pemuda itu memasang kuda-kuda, kemudian ia meloncat ke depan, menelan jarak delapan langkah tadi dalam sekali lompat, padangnya meluncur dan menerjang lawan amat cepat dan kuatnya.


"Ha...ha....ha....! rupanya sedikit sekali jurus yang kamu warisi, tapi semangat kamu memang seperti semangat Siok Lee !" seru Kakek itu tertawa sambil miringkan tubuhnya sehingga terjangan Siok Lan yang dahsyat itu mengenai angin.


Kembali kakek itu menampar dengan lengan kanannya yang dibuka lebar-lebar. Angin sambaran hebat ini menambah tenaga dorong dari serangan. Siok Lan yang tidak mengenai sasaran sehingga kembali pemuda itu terhuyung ka depan.


"Ha...ha....! pedang perak yang hebat!" teriak kakek itu, dengan lengan bajunya mengebut dan segera jarum dapat dikebutnya runtuh Siok Lan sudah menerjang lagi, kini mainkan jurus pedang Kun lun yang amat indah dan hebat.


Kakek itu tidak berani memandang rendah, berkali kali mulutnya memuji dan menggunakan tenaga dalamnya untuk mengelak ke sana ke mari dibantu tongkatnya yang kadang-kadang mendorong atau menangkis.


"Bagus....! Bagus..! Sayang pemainnya amat sembrono dan keras kepala!" seru raja pengemis itu yang berulang kali memuji ilmu padangnya dan mencela orangnya, membuat Siok Lan makin marah dan memperhebat terjangannya yang selalu mengenai tempat kosong, bahkan beberapa kali ia terhuyung.


Siok Lan terkejut sekali dan tahulah dia bahwa sekali ini ia tentu akan menderita kekalahan terhadap kakek yang amat lihai ini. Akan tetapi ia menggertak gigi dan maju terus, malah kini ia mengeluarkan jurus-jurus nekad untuk mengadu nyawa.


"Hei...!bocah ganas. Apakah kamu masih juga tidak mau menyerah dan mengakui keunggulan aku sebagai orang yang lebih tua! Kakekmu sendiri belum tentu dapat mengalahkan aku!" seruvraja pengemis itu dengan sombongnya.


"Tua bangka busuk! Siapa sudi menyerah! Robobkan aku kalau kau mampu!" bentak Siok Lan dengan berani menantang.

__ADS_1


"Hemm, bocah sombong!" balas Kakek itu dengan gemas sambil menangkis pedang Siok Lan sehingga pemuda itu terdorong mundur.


"Banyak cerewet !" bentak Siok Lan sembari menyerang dan menusukkan pedangnya ke arah kakek itu.


Ang Han tidak mengelak, melainkan menggerakkan tongkatnya menangkis dengan menggunakan tenaga yang amat aneh dan


pedang itu masih di tangan Siok Lan.


Namun telah membalik dan menusuk ke arah Siok Lan sendiri.


"Ahh....!"


Seru Siok Lan yang kemudian dengan cepat mengelak dan memusnahkan tenaga menarik tangannya. Tapibpedang itu ujungnya sudah menyambar ujung bajunya sehingga berlubang.


Ternyata kakek itu tidak mengeluarkan ancaman kosong. Namun Siok Lan masih belum sadar dan kembali ia menubruk, kini pedangnya membabat leher. Sekali lagi kakek itu menangkis dan pedang itu membalik dan menyambar leher Siok Lan sendiri yang kini sudah siap-siap, sehingga dapat mengelak sambutan pedang yang dipegang oleh tangannya sendiri.


"Tuan muda lebih baik menyerah!" kata Xiao yu yang tiba-tiba. Karena dia tahu bahayanya.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2