Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Hadiah dua ekor kuda


__ADS_3

Kemudian Cui Hwa menyambar pedangnya yang terlepas tadi, tanpa berkata sesuatu ia melompat dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu.


"Saya harap Tuan dan nyonya sekalian yang gagah perkasa tidak lagi mengganggu Tuan muda majikanku! Sudah jelas bahwa majikanku berkali-kali dihina oleh Pendekar Cui, tapi tuan mudaku masih mengampuninya. Hal ini saja membuktikan bahwa tuanku bukan mencari permusuhan dengan siapapun juga. Memang nonaku telah bentrok dengan beberapa orang dari perkumpulan pengemis sabuk sutra merah. Akan tetapi hal itu adalah karena kesalahan mereka sendiri yang mengganggu tuanku, dengan meminta sumbangan secara paksa. Karena itu, saya harap Tuan Huang ho dapat berpemandangan luas, tidak memancing keributan yang hanya akan mendatangkan malapetaka bagi tuan dan nyonya sekalian. Dan harap suka mempersilakan Tian mudaku melanjutkan perjalanan dengan aman." ucap Yu Tian sembari menangkupkan telapak tangannya di dadanya, untuk memberi hormat.


Memang ucapan Xiao Yu tadi besar pengaruhnya apalagi karena Huang ho dan para tamu tadi sudah gentar menyaksikan kelihaian Siok Lan.


Mereka semua mengenal siapa Cui Hwa, dan boleh di bilang di antara mereka yang berkumpul di situ, Cui Hwa termasuk orang yang tingkat kepandaiannya paling tinggi.


Namun terbukti wanita perkasa itu mati kutunya menghadapi Siok Lan cucu dan murid dari Siok Lee yang sama sekali tidak boleh dianggap sebagai musuh mereka.


"Maaf....maaf" kata Cu Lin si alis putih sambil menjura ke arah Siok Lan.


"Memang bukan maksud kami untuk memusuhi tuan muda Siok. Hanya karena mendengar bahwa Tuan Siok Lan telah merobohkan beberapa orang sahabat dari perkumpulan Pengemis sabuk merah, maka kami menjadi penasaran dan ingin membuktikan kelihaian tuan Siok Lan. Kini telah terbukti dan memang tian amat lihai, membuat kami jadi kagum. Kamipun percaya bahwa tuan tidak memusuhi perkumpulan pengemis sabuk sutra merah, apalagi memusuhi golongan kami yang menentang penindasan pemerintah penjajah Mongol. Oleh karena itu, biarlah dalam kesempatan ini kami mengharap dan mengundang tuan muda, sudilah membantu perjuangan kami membela rakyat tertindas." ucap Cu Lin yang panjang lebar.


"Terima kasih atas pengertian tuan Cu Lin selaku tuan rumah. Saya dapat menghargai perjuangan tuan sekalian dan saya menjunjung tinggi cita-cita mulia itu. Akan tetapi untuk berjuang langsung bersama tuan sekalian pada waktu ini saya belum mempunyai kesempatan, karena saya ada tugas lain yang amat penting. Oleh karena itu, harap tuan sekalian sudi mema'afkan." ucap Siok Lan dengan sopan.


"Baiklah, kami dapat menghargai urusan pribadi seseorang. Kami persilakan kalau tuan hendak melanjutkan perjalanan, hanya kami


peringatkan agar tuan tidak melanjutkan perjalanan melalui sungai karena di sebelah depan terdapat pasukan pemerintah yang amat kuat, ratusan orang jumlahnya, menjaga di sekitar tepi sungai. . Mulai dari sini, sebaiknya nona mengambil jalan memutar melalui darat, dan untuk itu kami menyediakan dua ekor kuda, harap nona indi menerimanya dengan baik!" ucap Cu Lin yang mencoba memberi solusi.


Kemudian Cu Lin itu memberi tanda pada anak buahnya, dan tak berapa lama anak buahnya itu datang dengan menuntun dua ekor kuda besar dengan perbekalan lengkap. Siok Lan yang berwatak angkuh merasa sungkan menerima hadiah ini, akan tetapi Xiao Yu yang tahu akan pentingnya kuda maju mendahuluinya menyambut dua ekor kuda sebagai layaknya seorang pelayan.


"Aduh, kuda yang bagus! sungguh baik hati, tuan mudaku tentu berterima kasih sekali!" ucap Yu Tian sembari melirik ke arah Siok Lan.


Siok Lan mengerling tajam ke arah pelayannya, akan tetapi karena pelayannya sudah terlanjur menerima ia lalu mengangkat kedua tangan menghaturkan terima kasih.


"Terima kasih dan saya harap tuan sekalian suka membiarkan tukang perahuku kembali dengan aman. Sekarang saya mohon diri dan selamat tinggal!" ucap Siok Lan yang kemudian dengan gerakan ringan sekali, Siok Lan meloncat naik ke punggung seekor kuda yang sudah disediakan.

__ADS_1


Kemudian menganggukkan kepalanya dan membedal kudanya meninggalkan tempat itu, Sampai lupa dengan pelayannya.


"Eh, tuan muda tunggu saya!" teriak Yu Tian dan dengan susah payah "memanjat" naik ke punggung kuda yang kedua.


"Sahabat Yu Tian yang baik, selamat jalan!" ucap salam lerpisahan A bo yang memegang lengan Yu Tian.


"Selamat tinggal, paman Abouw!" balas Yu Tian atau Xiao Yu, kemudian dia membedal kudanya dan menyusul majikannya yang telah lebih dulu melaju meninggalkan tempat pertemuan itu.


Beberapa menit kemudian, Xiao Yu bisa menyusul Siok Lan yang rela menunggunya setelah beberapa meter menjauh dari tempat pertemuan.


"Akhirnya, saya bisa menyusul tuan muda!" seru Xiao Yu yang pura-pura bangga. Sementara itu Siok Lan hanya bisa tersenyum, mendengar apa yang dikatakan oleh pelayannya itu.


"Yu Tian, ada satu hal saya ingin sekali tahu." ucap Siok Lan yang saat ini berjalan sejajar dengan Xiao Yu.


"Apa itu tuan muda?" tanya Xiao Yu yang penasaran.


"Satu lagi Yu Tian!" seru Siap Lan yang nampak penasaran sekali dengan pelayannya itu.


"Apa lagi tuan?" tanya Xiao Yu dengan menahan kendali kuda.


"Apakah kamu itu benar-benar seorang laki-laki tulen?" tanya Siok Lan yang tentu saja membuat jantung Xiao Yu seakan-akan berhenti.


"Tentu saja saya laki-laki! kenapa tuan bertanya seperti itu?" jawab sekaligus tanya Xiao Yu yang penasaran.


"Nanti kalau ada sungai, kita mandi bersama!" jawab Siok Lan yang kemudian membedal kudanya tanpa menghiraukan pelayannya yang masih ada dibelakang.


Sementara itu Xiao Yu masih terkejut akan jawaban Siok Lan. Jika dia tidak mau, dia bingung dalam mencari alasannya. Dan jika dia mau, pastinya rahasianya akan terbongkar.

__ADS_1


Siok Lan pasti akan tahu kalau dia adalah seorang gadis dan pastinya dia akan tahu kalau dirinya adalah Xiao Yu, keturunan terakhir keluarga Xiao.


Tak terasa Xiao Yu tertinggal jauh dari Siok Lan, kemudian dia membalap dan mengejar Siok Lan yang sudah melarikan kudanya jauh di depan.


...****...


Sementara itu Tan Li yang merupakan putera tunggal si pemilik toko pakaian di kota Ang keng, bersama Han wen adalah seorang pemuda yatim piatu yang telah tamat belajar dari guru mereka.


Han wen ikut bersama adik seperguruannya ke kota Ang keng. Dan tidak ada peristiwa penting terjadi selama kurang lebih setahun, ketika Han wen tinggal bersama di rumah keluarga Tan di Ang keng itu.


Kemudian dua orang pemuda ini mendengar akan sepak terjang Pendekar tanpa gelar yang menggemparkan dunia persilatan. Selain hal itu, mereka juga mendengar akan kekejaman penindasan yang dilakukan oleh pemerintah penjajah terhadap rakyat yang diharuskan bekerja paksa membuat saluran atau terusan.


Dalam kesempatan ini para pembesar menggunakan wewenang mereka dan kekuatan mereka untuk memancing di air keruh, melakukan pemerasan dan perampasan secara keji.


Tergeraklah hati dua orang pemuda pendekar ini, selain karena guru mereka, Biksu Ji yang dahulunya juga seorang pejuang besar dan juga penentang pemerintah yang keji.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2