
Melihat apa yang terjadi, Xiao Yu harus mengakui bahwa kalau tadi Siok Lan mengikuti perkataannya untuk tidak menerima undangan mereka, tentu pelayaran mereka akan mengalami banyak gangguan yang berat.
Siok Lan yang berdiri di kepala perahunya begitu perahu sudah mendekati daratan lalu menggunakan jurus meringankan tubuhnya, melompat ke tepi dengan gerakan yang lincah dan ringan sekali.
Terdengar seruan seruan kagum dari mulut para bajak dan inilah memang yang dikehendaki Siok Lan mendemonstrasikan kepandaian agar membikin kuncup hati para perompak sungai itu.
"Eh, tuan muda! tunggu saya!" seru Xiao Yu yang gugup dan ikut meloncat, akan tetapi loncatannya cupat dan tercebur ke pinggir sungai.
Para perompak itu tertawa dan Siok Lan sangat mendongkol sekali, cepat menghampiri Xiao Yu yang gelagapan dan menyambar tangannya dan menariknya ke atas.
Xiao Yu berdiri dengan pakaian basah kuyup dan menggigil kedinginan. Tentu saja diam-diam ia mengerahkan hawa murninya untuk melawan hawa dingin dan hanya pura-pura melakukan hal ini agar dapat mengelabui mata para perompak.
Namun tanpa Xiao Yu sadari, kalau lekukan tubuhnya sangat terlihat dan menambah rasa curiga Siok Lan.
Namun pemuda itu menyimpannya rapat-rapat, dan kembali bersiap menghadapi para perompak itu.
A bo biarpun seorang tukang perahu berpengalaman namun kini berhadapan dengan para perompak sungai, bergegas menepikan perahunya. Kemudian melompat turun, mengikat tali perahu.
"Tuan pendekar! Tolong lindungi nyawa hamba yang tak berharga ini!" seru tukang perahu A Bo dengan raut wajah pucat pasi.
"Jangan takut, kau ikutlah bersama kami." kata Siok Lan yang berusaha melindungi tukang perahu dari gangguan para perompak itu.
"Hayo lekas buatkan api unggun lebih dulu untuk pelayanku berdiang! Baru kita akan lanjutkan perjalanan mengunjungi ketuamu!" seru Siok Lan berwibawa dan pimpinan perompak ini yang agaknya sudah menerima pesan dari ketuanya untuk bersikap lunak terhadap si bayangan dewa.
Lalu dia memberi aba-aba dan beberapa orang perompak sungai segera membuat api unggun, Xiao Yu menggunakan kesempatan itu untuk mengeringkan pakaian dan menghangatkan badan.
"Kalian tunggu saya di sana, aku mau mandi terlebih dulu. Setelah siap baru aku akan memanggil kalian!" seru Siok Lan pada para perompak yang menghadang perjalanannya itu.
Para perompak itu mengerutkan alisnya yang tebal akan tetapi melihat sikap pemuda yang tidak suka dibantah, ia hanya mengangkat pundak.
__ADS_1
"Tolong tuan Siok Lan tidak berlama-lama karena saya yang akan mendapat marah dari ketua kami." ucap pemimpin perompak itu yang sedikit khawatir.
"Perduli apa! Aku pergi dulu!" seru Siok Lan yang membuat pimpinan perompak itu mengajak anak buahnya menjauh.
"Tuan muda, apakah tidak lebih baik kita lari saja selagi mereka menjauh?" tanya Xiao Yu yang pura-pura takut.
"Apa kau takut? apa kau meragukan kemampuan tuan kamu ini?" tanya Siok Lan yang menatap Xiao Yu dengan penasaran.
"Bukannya saya takut atau meragukan kemampuan tuan muda, akan tetapi saya mengkhawatirkan tuan muda!" jawab Xiao Yu yang terlihat jelas.
"Sudahlah, cerewet benar kau seperti perempuan saja! Yang jelas aku tidak takut!" seru Siok Lan dengan lantang.
"Lekas panaskan air, yang banyak aku ingin mandi!" lanjut perintah Siok Lan, yang tentu saja membuat sibuk Xiao Yu dan A bo memasak air dan terdengar oleh Xiao Yu kalau tukang perahu itu mengomel perlahan.
Diam-diam ia merasa geli.
Memang Siok Lan sama sekali tidak tampak takut.
Tak lama kemudian, pemuda itu sudah muncul keluar dari dalam perahu dengan pakaian yang bersih, rambut tersisir rapi dan wajah segar kemerahan tertimpa cahaya matahari pagi yang mulai muncul.
Xiao Yu juga menyempatkan dirinya untuk mandi, dia mencari tempat yang aman untuk dirinya mandi. Karena dia tak mau yang lain tahu kalau dirinya adalah seorang perempuan.
Setelah keduanya selesai mandi, dengan langkah tegap gagah Siok Lan bersama Xiao Yu dan A bo berjalan bersama rombongan para perompak menuju ke markas Huang ho.
Kiranya markas itu tidak begitu dekat dengan sungai, berada di lembah yang tertutup hutan lebat. Di tengah hutan itulah terdapat bangunan bangunan yang menjadi perkampungan para perompak sungai yang dipimpin oleh Tiga Naga dari sungai Huang ho ini.
Kelima rombongan ini memasuki perkampungan perompak kiranya di sini sedang di adakan perayaan dan pertemuan penting. Dua orang kepala sedang menerima tamu dam penghormatan belasan orang tamunya yang terdiri dari orang orang gagah, dan yang sejak kemarin telah berada di sini dan pagi ini telah berkumpul di ruangan besar yang berada di tengah kampung para perompak mengelilingi beberapa buah meja besar yang penuh hidangan dan minuman.
Karena terasa sedap dan lezat baunya, mengepulkan uap yang menyambut hidung Xiao Yu dan membuat perut gadis ini berkeruyuk karena lapar.
__ADS_1
Belasan orang tamu ikut bangkit berdiri ketika pihak tuan rumah bangkit dan melangkah keluar menyambut kedatangan Siok Lan.
Pemuda itu memandang tajam dan melihat bahwa yang menyambutnya adalah dua orang laki laki berusia lima puluhan tahun yang bertubuh kurus-kurus namun jelas memiliki gerakan gesit dan bertenaga.
Ia dapat menduga bahwa tentulah mereka ini yang disebut Huang ho maka ketika mereka mengangkat kedua tangan ke dada, ia pun membalas seperlunya.
"Kami Huang ho, baru-baru ini mendengar dari sahabat-sahabat tentang munculnya seorang pendekar laki-laki muda yang berjuluk Si Bayangan Dewa. Hari ini kebetulan pendekar Bayangan Dewa lewat, tentu kami merasa girang sekali dapat menyambut dan memperkenalkan tuan muda kepada sahabat-sahabat kami yang terdiri dari pada orang-orang gagah yang berjiwa besar!" ucap ketua perompak itu.
Siok Lan menebarkan pandangannya dan ia menilai para tamu dan perompak sungai sebagai golongan kaum hitam di dunia persilatan.
"Beberapa orang perkumpulan pengemis sabuk merah mengemis secara paksa seperti perampok, karena itulah terpaksa aku menghukum mereka. Saya tidak tahu maksud tuan mengundang saya ke sini, apakah hendak membalaskan kekalahan beberapa orang pengemis kasar itu?" ucap dan tanya Siok Lan, yang memang tidak suka bicara berbelit-belit, sikapnya polos, tapi sewaktu-waktu ia bisa bersikap amat nakal menggoda siapa saja.
"Ha....ha....ha....! Siok Lan terlalu curiga, tentu saja kami tidak mencampuri urusan tuan dengan anggota-anggota dari perkumpulan kami!" ucap Sam liong yang tubuhnya paling jangkung, mukanya pucat dan seram.
Karena nama tuan yang amat terkenal dan bisa menandingi ketenaran pendekar tanpa gelar, maka bagaimana kami dapat melewatkan begitu saja tanpa mengundang dan minta sedikit petunjuk untuk menambah pengetahuan!" ucap dan seruketua yang pertama.
"Tuan silakan duduk! Dan kau pelayan dan tukang perahu, pergilah ke belakang. Dimana kalan akan dapat makan minum sepuasnya sampai kenyang!" seru si muka tikus itu kepada Xiao Yu dan A bo.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1