Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Si Bayangan Dewa dan Delapan Raja Timur Laut ll


__ADS_3

"Menjijikkan!" pemuda tampan itu yang berseru dengan marah dan ia hanya menggeser kaki miringkan tubuh saja, gerakan ini cukup membuat si mata satu menubruk tempat kosong.


Dan sebelum si mata satu dapat memperbaiki posisi tubuhnya yang terhuyung ke depan, tiba-tiba saja tubuh pemuda itu berkelebat, meloncat ke atas serta dengan gerakan indah sekali kaki nya telah menendang dari atas, ujung sepatunya membuat gerakan menotok yang tepat sekali mengenai jalan darah di tengkuk si mata satu.


"Klokkk!"


Tubuh orang yang gerakannya gesit dan ringan sekali itu sudah melayang turun kembali ke atas tanah dan berdiri sambil bertolak pinggang.


Sementara itu si mata satu tiba tiba saja ia meringis lalu menangis. Tak dapat menahan lagi ia, air matanya bercucuran, dan matanya yang masih baik, sedangkan matanya yang sudah rusak hanya bergerak gerak, demikian mengguguk ia menangis sampai hidungnyapun mengeluarkan air.


Pemandangan ini aneh dan lucu sekali akan letapi Xiao Yu yang tahu diam-diam menjadi kagum.Pemuda itu ternyata memiliki tenaga dalam yang mengagumkan dan tingkat kepandaiannya rata-rata setingkat kepandaian dua orang murid perempuan Bocah tua nakal.


Akan tetapi pemuda ini memiliki tenaga dalam yang tinggi dan sifat ugal ugalan, nakal sekali dan suka mempermainkan orang. Buktinya menghadapi si mata satu yang tentu akan mudah ia robohkan itu tadi ia bersusah payah meloncat hanya untuk dapat menotok jalan darah di tengkuk yang mengakibatkan si mata satu itu menangis di luar kehendaknya, dan itupan ia lakukan dengan meloncat, rupanya pemuda itu tidak sudi melakukan totokan dengan tangan melainkan dengan ujung sepatu.


Kiranya dalam detlk terakhir tadi ketika golok menyambar, pemuda itu meloncat ke depan lalu membalikkan tubuh, tangannya bergerak melepas sebatang jarum yang dengan tepat menancap mata kanan lawan bahkan terus masuk dalam sekali. Dan kakinya menendang ke arah pergelangan tangan sehingga golok lawan terpental.


Pemuda itu berdiri sambil bertolak pinggang tersenyum mengejek kepada si mata satu yang kini merintih-rintih dan cepat ditolong oleh saudara saudaranya. Akan tetapi jarum itu menancap terlalu dalam, tidak tampak lagi dan sukarlah menolong nyawa orang itu karena jarum menyelinap memasuki otak dalam kepala.


"Dasar jahanam, kau harus mengganti nyawa!" bentak si mata merah ketika melihat saudaranya itu berkelojotan seperti ayam disembelih.


Tujuh orang itu kini sudah merebahkan tubuh si mata satu ke atas tanah, mereka mencabut golok dan pedang dan mengurung pemuda itu yang masih tersenyum senyum.


"Ahaa, baru sekarang kalian tidak memandang rendah dan hendak maju mengeroyokku. Bagus.. bagus, baik begitu agar aku tidak perlu membuang banyak waktu. Majulah bersama dan matilah bersama. Dunia akan menjadi lebih bersih dan lebih tenteram kalau kalian mampus!" seru si Bayangan Dewa itu dengan lantangnya.

__ADS_1


Xiao Yu kembali memperhatikan jalannya pertandingan, boleh jadi tingkat kepandaian tujuh orang itu lebih rendah akan tetapi kalau mereka maju mengeroyok dan kalau pemuda itu masih bersikap sembrono seperti tadi, pastinya ada bahayanya juga.


Maka dari itu Xiao Yu duduk di atas tanah, dekat gundukan tanah kuburan keluarganya, menonton dan tangannya mempermainkan tanah tanah kering. Ia melihat betapa tujuh orang laki laki kasar itu mengurung pemuda itu, senjata mereka berkilauan saking tajamnya.


Pemuda itu masih berdiri santai di tengah, senyumnya mengejek, matanya mengerling ke kanan ke kiri mengikuti gerakan mereka, tangan kiri mendekati saku baju di mana tersimpan jarum jarumnya, tangan kanan meraba pedang yang tergantung di pinggang.


Pemuda tampan dan gagah perkasa tampaknya, dan hati Xiao Yu makin terpikat dan kagum. Banyak sudah ia bertemu dengan pemuda-pemuda tampan bahkan pernah dirayu seorang laki-laki tampan seperti setan kipas merah, pernah pula melihat dua orang pemuda tampan, murid Biksu Ji yang selain gagah perkasa juga muda remaja dan tampan sekali.


Namun, belum pernah ia merasa hatinya begetar seperti saat ini pada pemuda itu yang lincah jenaka dan ugal-ugalan yang mengaku berjuluk si Bayangan Dewa itu.


Si mata merah berseru keras dan ini merupakan aba aba agaknya bagi saudara-saudara nya karena serentak mereka bertujuh itu maju menerjang dengan senjata mereka mengeroyok pemuda itu, kembali Xiao Yu yang kagum dalam hati nya.


Pemuda itu benar-benar memiliki tenaga dalam yang hebat. Tubuhnya yang ramping itu bergerak cepat sekali, melebihi daripada kecepatan gerakan senjata lawan berkelebatan ke kanan kiri, seolah olah gerakan seekor burung walet, menyelinap diantara sambaran senjata, mengelak ke kanan kiri, menyepak pergelangan tangan lawan dan di lain saat tangan kanannya indah memegang sebatang pedang yang berkilauan putih dan ternyata pedangnya itu adalah pedang perak seperti juga jarum jarum nya.


Xiao Yu menyaksikan ilmu pedang Kun lun yang amat indah dan cepat. Ia mengenal ilmu pedang ini dan diam diam ia harus mengakui bahwa pemuda itu telah mendapat latihan serta didikan seorang tokoh Kun lun yang pandai.


Dari gerakannya indah seperti orang menari, cepat seperti kilat menyambar. Hatinya kembali lega


sebab jangankan baru dikeroyok tujuh orang itu, biar ditambah tujuh orang lagi, ia tidak perlu mengkhawatirkan keadaan pemuda itu.


Benar saja dugaannya, terdengar suara berkerontangan serta teriakan mengaduh ketika pemuda itu memutar pedang dan membalas serangan. Kemana saja pedangnya berkelebat, pasti senjata lain terpental terta darah muncrat.


Juga tangan kirinya bergerak dan sinar sinar putih jarumnya meluncur ke sana sini. Teriakan mengaduh makin riuh disusul robohnya tujuh orang itu yang mengaduh aduh.

__ADS_1


Pedang di tangan pemuda itu lalu berkelebat menyambar ke arah delapan orang yang sudah roboh. Xaio Yu kaget sekali dan mencela di dalam haranya ketika melihat betapa pedang itu telah menyambar serta dalam sekejap mata telah membuntungi delapan buah telinga para perompak raja timur laut itu.


"Masih tidak lekas pergi dari sini, Menanti si bayangan Dewa memenggal leher kalian ya!" bentak pemuda itu mengancam sambil memutar mutar pedangnya.


Walaupun pedang itu telah membuntungi delapan buah daun telinga serta melukai pundak, lengan dan paha, tetapi sedikit pun tidak terkena darah. Tapi keadaan delapan orang itu amat menyedihkan.


Semua terluka serta si mata satu tadi masih berkelojotan dalam sekarat. Tiga orang lagi menderita luka berat dan juga berkelojotan.


Empat orang yang juga lerluka, masih bisa bergerak. Mereka ini sambil merintih rintih lalu membantu saudara saudaranya yang tak bisa berjalan sendiri, masing-masing memondong


seorang kawan kemudian tanpa pamit mereka pergi dari tempat itu setelah memungut delapan buah daun telinga yang buntung.


Karena mereka itu takut kalau kalau si bayangan dewa mengganas dan mengejar mereka, empat orang itu menahan sakit serta terus lari sehingga dalam waktu cepat mereka sudah tidak tampak lagi.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2