Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Mendadak Diserang


__ADS_3

Mereka sama sekali tidak ada yang tahu bahwa menjelang pagi tadi pasukan besar telah bergerak dengan rahasia,


Para pejuang sangat terkejut ketika tiba-tiba terdengar bunyi terompet dan tambur yang hiruk-pikuk di sekeliling hutan kemudian tampak bala tentara Mongol dengan pakaian seragam bersenjata lengkap muncul dari segenap penjuru.


Mereka mengurung tempat itu seperti sebuah dinding tebal, dihitung sepintas lalu tidak akan kurang dari tiga ratus orang.


Ada barisan tombak, ada barisan panah yang sudah tiap, ada pula yang memegang senjata aneh meraka yang membuat khawatir para pejuang, yaitu bola-bola peledak.


Betapa kaget dan paniknya para pejuang, mereka itu adalah orang orang yang sudah siap mempertaruhkan nyawa untuk perjuangan mereka, maka terdengarlah seruan di antara mereka.


"Awaaaas...! Musuh datang....!" seru sebagian para pejuang.


Dan riuhlah mereka itu lari mencari senjata masing masing.


"Tahan semua senjata ! Kalau kalian melawan, kalian akan kami basmi habis!" bentakan ini nyaring sekali sehingga terdengar menggema dan mengandung wibawa besar sehingga banyak kaum pejuang menjadi gentar memandang panglima yang tinggi besar itu.


Biarpun belum pernah mengenalnya, namun para pejuang dapat menduga dia inilah yang bernama Thian Sung, dan memang benar yang berseru tadi adalah Thian Sung.


Biarpun usianya sudah tua, lewat enam puluh tahun, namun tubuhnya yang tinggi besar itu masih kelihatan gagah. Pakaiannya indah, disebelah luar tertutup dengan pakaian perang yang berlapis sisik sisik baja di bagian dada, perut, lengan dan paha.


Sebatang pedang panjang tengantung di pinggang kiri sedangkan di pinggang kanan dan depan dada terdapat kantong kantong senjata rahasianya yang terkenal sekali, yaitu hiang leng piauw semacan sebuah senjata piauw yang memakai kerincingan.


Kalau senjata ini dilontarkan menyerang lawan, akan terdengar bunyi berdencing nyaring makin lama makin keras dan suara ini dapat membuat lawan menjadi panik dan kurang waspada sehingga dapat dirobohkan dengan piauw kedua atau ketiga yang menyusul cepat.


Selain tinggi besar, juga wajah Thian Sung membayangkan kekuatan. Sepasang mata nya yang lebar itu bundar dan biji matanya menjendul keluar, seolah olah mata itu sukar dipejamkan.


Mukanya bundar tampan, kumis nya lebat namun dipotong pendek, demikian pula jenggotnya, hidungnya besar mulutnya lebar.


"Siapa takut padamu!" seru Yang Tek ya sudah tiba disitu bersama Han Wen, diikuti oleh Gui Siang dan Tan Li.


Yang Tek membentak sambil menghampiri Thian Sung dan menyerangnya dengan pukulan tangan kanan ke arah dada panglima tinggi besar itu.


"Ha...ha...ha...!"


Suara tawa parau Thian Sung tidak bergerak dari tempatnya hanya lengan kirinya saja menangkis dan tubuh Yang Tek terlempar ke belakang sampai leibih dari tiga meter.


Han wen menjadi marah dan sudah menerjang pula, diikuti oleh Tan Li dan Gui Siong.

__ADS_1


Mereka bertiga melawan secara beruntun menyerang dengan pukulan-pukulan ampuh, akan tetapi panglima tua itu masih tetap tertawa dan hanya menggerakkan ke dua lengannya menangkis dan beruntun pula tubuh ketiga orang muda ini terlempar seperti halnya Yang Tek tadi.


Namun empat orang muda yang tabah ini tidak menjadi gentar, mereka melompat bangun sambil


mancabut pedang masing-masing.


Juga teman teman mereka sudah bersiap-siap, ketiga pendekar sungai Huang ho yang pada waktu itu sudah berkumpul di situ, Cui hwa dan yang lain, sudah siap untuk melawan mati-matian.


"Harap sabar dan tenang, jangan sembrono." bisik setan kipas merah.


Dengan pandang mata yang tajam Setan kipas merah fff menyapu keadaan musuh dan risaulah hatinya.


Benar-_benar mnsuh amat lihai dapat melakukan pengepungan secara diamdiam dan tahu tahu mereka semua telah terkurung rapat.


Jumlah musuh sedikitnya tiga kali lebih banyak dan keadaan sungguh mengkhawatirkan.


Jalan satu satunya harus dapat membekuk atau merobohkan para pemimpinnya, terutama panglima tinggi besar itu sendiri, untuk melumpuhkan semangat para perajurit musuh.


Maka diam-diam ia mengerahkan tenaganya, tangan kanan menggenggam ujung kipas dengan erat dan secara tiba-tiba tubuhnya telah menyambar dengan kecepatan luar sekali ke arah Panglima Thian Sung.


Semua orang dari pihak musuh maupun pihak pejuang terkejut.


"Trang.... trang...trang!"


"Weess....!"


Tiga kali terdengar suara nyaring ketika kipas dan pedang di tangan Thian Sung bertemu cepat sekali, disusul muncratnya bunga api kemudian tahu-tahu tubuh Setan kipas merah terlempar ke belakang sampai lima meter lebih, dan ketika turun ke atas tanah.


Laki-laki tampan dan sudah insyaf itu terhuyung dan mukanya berubah memerah.


Dalam satu gebrakan saja ternyatalah bahwa setan kipas merah bukanlah tandingan panglima yang kosen itu..


"Ha...ha...ha...!"


Panglima Thian sung tertawa bergelak. Gerakan kakek ini amat mengagumkan karena orang tidak dapat mengikuti kecepatannya mencabut dan menyarungkan kembali pedangnya dalam menghadapi terjangan setan kipas merah. tadi.


Seperti tidak pernah mencabut pedang, begitu cepatnya pedang itu kembali ke sarung pedang yang tengantung di pinggang kirimya.

__ADS_1


"Ha,...ha...ha....! pasti kamu yang disebut setan kipas merah yang telah membunuh Panglima Han Siang. Hm, dengan kepandaian seperti itu saja, jangan harap kau akan dapat membunuhku! Kalau aku mau, apa sukarnya menumpas kalian kaum pemberontak ini! Kalau aku menghendaki, tidak seorangpun diantara kalian yang dapat lolos hidup hidup !"


"Ha...ha...ha...!"


Kembali panglima Thian Sung


tertawa, suara ketawanya keras penuh nada mengejek.


Setan kipas merah yang maklum akan kehebatan kepandaian panglima tinggi besar ini, menoleh ke kanan kiri mencari cari Pendekar tanpa gelar.


"Ah, dia tidak berada di sini! telah pergi!" gumam setan kipas merah.


Yang Tek dan Gui Siong saling pandang. Mereka berdua maklum siapa yang dimaksudkan setan kipas merah karena mereka pun tahu bahwa untuk menghadapi lawan selihai Panglima Thian Sung ini, mereka hanya dapat mengandalkan Pendekar tanpa gelar.


Akan tetapi, Pendekar itu tidak tampak mata hidungnya dan kedua orang pemuda ini merasa menyesal sekali karena mereka dapat menduga bahwa pendekar itu tentu pergi karena urusan semalam, karena telah mereka tantang bertanding sampai mati.


Karena penyesaalan ini, kedua orang muda itu maju dan hampir berbareng membentak ke arah musuh.


"Kami berdua tidak takut! Hayo bunuhlah kalau mau bunuh !" seru Yang Tek yang mewakili Gui siong.


Han wen dan Tan Li sudah mendengar penuturan kekasih masing-masing akan peristiwa semalam maka keduanya kini mengerti betapa besar penyesalan hati kekasih mereka.


Mereka saling pandang dan diam-diam mereka sadar bahwa kesalahan kedua orang pemuda terhadap Pendekar tanpa gelar itu adalah kesalahan yang menjadi akibat dari sikap mereka berdua, dari sikap mereka berdua, dari pada kebodohan mereka berdua sehingga membuat dua orang pemuda yang mencinta mereka itu berlaku nekad seperti itu.


Kini melihat kekasih mereka nekad menghadapi musuh yang amat tangguh, mereka berkuda dengan cepat maju dan menyambung.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2