Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Mengacau dan Mengecoh para prajurit


__ADS_3

Pasukan di sebelah depan sudah memasang obor untuk menerangi jalan dan mulailah mereka memasuki hutan kecil di sebelah depan yang berada di sebelah selatan kota An bun, hanya belasan kilometer jauhnya.


"Apakah tidak berbahaya melanjutkan perlalanan malam malam melalui hutan?" tanya prajurit yang ada disamping perwira pimpinan pasukan.


"Ah, An bun hanya tinggal belasan kilometer lagi dan An bun merupakan markas besar penjagaan yang kuat. Kalau ada pemberontak, tak bakalan mereka berani mampus menyerbu daerah An bun!" kata perwira pimpinan pasukan.


Akan tetapi ketenangan pasukan itu diganggu oleh teriakan Yu Tian.


"Aduh..... aduh.... aduh! hei, kuda nakal! Berhenti..! Aduh celaka! tolong... tahan kuda ini, binatang sialan !" umpat Xiao Yu yang tiba-tiba kuda yang ditunggangi Siok Lan dan Yu Lee itu menyepak nyepak dan meloncat ke depan, menerjang pasukan yang berada di dekatnya dengan nekad sambil meringkik-ringkik kesakitan.


Tak seorangpun tahu begitu juga Siok Lan, ternyata Yu Tian tadi menepuk kaki kuda sampai tulangnya retak dan tentu saja kuda yang kesakitan hebat itu mengamuk menerjang dan merobohkan beberapa orang pasukan kemudian terus lari membalap ke depan.


"Hei kuda gila, . Tolong...!" teriak Xiao Yu, akan tetapi diam-diam ia mengerahkan tenaga pada kedua kakinya menjepit perut kuda, tangannya yang sudah bebas itu menyambar kendali dan membetot kuda sehingga lari menyeleweng ke kiri. Para pasukan yang tadinya terkejut, kini menjadi panik.


"Tawanan lari, Kejar....Tangkap!"


Teriak para prajurit yang riuh dan mereka melakukan pengejaran. Para prajurit yang merasa khawatir kalau kalau tawanan mereka yang penting lolos, segera meloncat dengan cepat lari mengejar.


"Tuan lekas, lekas turun dan lari...!" Yu Tian yang berbisik.


"Tapi bagaimana dengan kamu?" tanya Siok Lan yang khawatir.


"Biarkan saya mengacau dan mengecoh mereka dulu!" seru Yu Tian yang kini mereka sudah menepi di riuhnya para prajurit yang mencari mereka.


Saat ini mereka telah memasuki bagian yang gelap dan lebat, Siok Lan sangsi dan ragu. Pemuda itu terdorong oleh rasa khawatir tantang dirinya hati Xiao Yu menjadi besar sekali.


Perasaan bahagia hebat memenuhi hatinya karena dalam pikirannya pelayannya itu seorang gadis, cinta kasihnya dan tanpa pikir panjang lagi karena dorongan hasrat hati, tiba-tiba Siok Lan merangkul leher Xiao Yu dari belakang, raut wajah Xiao Yu yang saat itu nampak sangat terkejut.

__ADS_1


"Augh...." suara erangan Siok Lan, karena dengan sengaja Xiao Yu menginjakan kakinya pada kaki Siok lan.


Seketika Siok Lan melepaskan pelukannya dan pemuda itu sejenak berjingkrak-jingkrak karena memegang kakinya sakit karena diinjak Xiao Yu.


"Aduh ma'af tuan muda, saya tak sengaja! ma'af sekali lagi saya minta ma'af!" seru Xiao Lan, karena tujuannya dia tak mau berlarut-larut bermesraan padahal sedang dalam situasi genting saat ini.


Tanpa menanti jawaban lagi, Xiao Yu mendorong dan terpaksa Siok Lan meloncat dari atas kuda kalau tidak mau terguling jatuh, dan menghilang di dalam semak-semak hutan yang gelap.


"Aduh.....dasar kuda gila!" umpat Xiao Yu yang kini membalikkan kudanya membalap dan menapaki para pengejarnya. Tentu saja para prajurit menjadi makin panik ketika tiba-tiba derap kaki kuda yang dikejar itu memekik dan menerjang mereka.


Mereka mencari tempat perlindungan ke belakang pohon pohon. Akan tetapi kuda itu ternyata tidak lewat karena telah membelok pula ke kanan.


Karena hutan itu gelap, maka para perwira dan pasukannya tidak dapat melihat jelas apakah kedua orang tawanan itu masih berada di atas kuda atau tidak.


Mendengar bentakan dan teriakan Xiao Yu, mereka merasa yakin bahwa kedua orang tawanan itu masih di atas kuda. Karena dalam pikiran mereka, kedua tawanan itu terbelenggu erat, mana mungkin bisa lari.


Maka mereka terus mengejar kuda suara teriakan Yu Tian, tanpa tahu bahwa yang berada di atas kuda kini tinggal Yu Tian seorang. Dimana mereka saat ini sudah menjauhi tempat di mana tadi Siok Lan melompat turun.


Karena itulah dia terus mengacau dan mengalihkan perhatian, membawa pasukan jauh dari hutan agar Siok Lan dapat menyelamatkan diri dengan aman.


"Aduh..! tahan kuda ku...!"


Kembali Xiao Yu berteriak dan kini karena pasukan sudah terpencar, mulailah ia terkurung. Ketika kudanya mendekati empat orang prajurit yang siap dengan tombak hendak menusuk roboh kuda yang lewat, kaki tangan Yu Tian bergerak menendang dan robohlah empat orang itu, pingsan dan tombak mereka beterbangan.


Para prajurit pun menyalakan obor, dan betapa terkejut hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa tawanan penting mereka telah lenyap.


Mereka kaget, juga marah. Kalau hanya ada si pelayan, biar seratus kali mampus juga tidak ada halangannya.

__ADS_1


"Hujani anak panah !" seru perwira yang memimpin pasukan itu dengan lantang.


Mulailah kuda itu dihujani anak panah kemanapun juga ia lari. Tentu saja dengan mudahnya Xiao Yu untuk menghindarkan diri dari hujan anak panah ini. Dengan mengelak, mengandalkan ketajaman pendengaran dan dengan sampokan kedua tangan dan kaki, dia membuat semua anak panah mencelat dan tidak mengenai tubuhnya.


Akan tetapi duduk di atas kuda, tak mungkin pula ia melindungi tubuh kuda yang begitu besar.


Tiba tiba kuda itu meringkik keras dan jatuh terjungkal ke depan. Tubuh Yu Tian yang tadinya masih duduk menghadap ke belakang terlempar ke atas dan ia lenyap ke dalam hutan.


Tiba-tiba beberapa orang perajurit memekik dan roboh terguling, tubuh mereka tertancap anak panah. Kemudian terdengar sorak riuh dan diantara sinar obor dan tampak muncul puluhan orang yang menyerbu para pasukan Mongol.


Dari atas pohon besar dan tinggi di mana Yu Tian bersembunyi, dan dia melihat bahwa para penyerbu itu bukan lain adalah tamu-tamu yang pernah ia lihat di tempat tinggal Hoang ho dipimpin oleh A Bhok orang bedua Hoang ho si pelajar yang pandai menggunakan senjata alat tulis.


Dan yang mengagumkan dan juga menggelikan adalah ketika ia melihat seorang wanita baju hijau yang tak lain adalah Cui Hwa dengan menggunakan pedang mengamuk bagaikan seekor singa betina layaknya.


Pedangnya berkelebatan menjadi sinar hijau merupakan serangan maut yang mencengkeram nyawa ke kanan dan kiri.


Dari atas pohon Yu Tian menonton dan menahan ketawanya. Cui Hwa wanita galak yang pernah ribut mulut dan ia permalukan di sarang Huang ho.


Walaupun galak, dia ternyata adalah seorang pejuang wanita, musuh pemerintah penjajah Mongol yang kini mengamuk bersama kawan-kawannya untuk menolong Siok Lan.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2