Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Tujuh belas Tahun Yang Lalu Vll


__ADS_3

Dua belas kali dan semua totokan si kipas emas penebar maut yang amat lihai itu dapat ditangkis oleh si nenek.


Pada totokan terakhir, sambil menangkis, tongkat itu mendadak melanjutkan dengan gerakan mengait dan suling itu telah kena terkait dan terlepas dari tangan Siauw bo. Sebab pada saat mengait ujung tongkat menotok telapak tangan yang memegang suling sehingga si kipas emas penebar Maut itu terpaksa melepaskan kipas emasnya.


Kiranya Siauw Bo melakukan serangan dengan maksud mengalihkan perhatian nenek Gembel Tua Bangka. Karena di detik berikutnya, tangan kanannya sudah dapat merampas kembali kipasnya yang tadi menempel pada ujung tongkat kakek Gembel tua Bangka itu.


"Pintar juga kau!" seru si nenek Gembel tua Bangka itu, dan kemudian tongkatnya bergerak aneh. Dan tiba-tiba...


"Pintar juga kau!" seru si nenek Gembel tua Bangka itu, dan kemudian tongkatnya bergerak aneh. Dan tiba-tiba...


"Plokk!"


Sekali lagi pantat yang besar itu sudah dihajar tongkat lagi. Padahal si kipas emas penebar maut itu sudah melompat cepat untuk menghindar, namun apa yang dilakukannya menjadi sia-sia. Tetap saja pantatnya kena pukulan.


"Huah, ha..ha...ha...! Pantatnya tidak kalah tebal dengan mukanya!" seru seseorang yang tiba-tiba tertawa-tawa.


Dan ternyata suara Bocah tua nakal yang sudah sadar dari pingsannya, dan kini masih rebah sambil menonton pertandingan yang aneh itu.


Mendengar ejekan si Bocah tua nakal itu, kemarahan si kipas emas penebar maut meluap-luap dan mulai menyerang kembali nenek gembel tua Bangka itu untuk ketiga kalinya ia menyerang lagi dengan gerakan kipas emasnya yang melenggak-lenggok seperti ular.


Nenek Gembel tua bangka memang tidak mau mengelak, bahkan kini tongkatnya bergerak secara aneh mengejar bayangan kipas emas itu dan ia sama sekali tidak perduli akan kipas lain menyerbu ke arah kearahnya.


"Tua bangka sombong, mampus kau!" teriak si kipas emas penebar maut itu dengan kegirangan ketika ia melihat bahwa semua jarum rahasianya mengenai sasaran secara tepat sekali.


Namun tiba-tiba terdengar suara...


"Praakkk...!"


"Plookkk...!"

__ADS_1


Suara ini adalah suara pecahnya kipas emas penebar maut disusul pukulan ketiga kalinya pada pinggul yang penuh daging, sehingga saking kaget dan nyeri si suling maut itu menjerit dan loncat menjauh ke belakang.


"Tua bangka kurang ajar! aku mengadu nyawa denganmu hari ini!" seru si suling maut dengan geram. Kemudian mengembangkan kedua tangannya seperti harimau menerkam.


"Perempuan keji. Kamu masih saja berani bertingkah!" seru nenek gembel tua Bangka dengan tangan kirinya bergerak ke depan dan tubuh si kipas emas penebar maut itu terbanting oleh tenaga dahsyat.


"Apa ... apakah saya berhadapan dengan Sa Shuang si Tangan Sinar Sakti?" tanya si Suling maut itu yang penasaran.


"Ha...ha..., aku tak sehebat dulu, yang ada sekarang hanya si Gembel tua bangka Sa Shuang." jawab nenek yang bernama Sa Shuang itu.


"Baiklah kali ini aku mengaku kalah, kelak masih ada waktu untuk mengadakan perhitungan lagi!" seru si kipas emas penebar maut yang kemudian melompat dan terus menghilang ke dalam kesuraman fajar yang mulal menyingsing.


Dari kejauhan terdengar lengking tangis yang makin lama makin menjauh dan akhirnya menghilang.


Bocah tua nakal dan juga Biksu Ji yang telah sadar pula dari pingsannya, kini melangkah maju dan memberi hormat kepada nenek Gembel tua Bangka itu.


"Sudah lama saya mendengar nama besar Sa shuang si Tangan sinar sakti, dan baru sekarang dapat melihat orangnya serta menyaksikan kesaktiannya. Terimalah hormat dari saya Si bocah tua nakal." ucap dari Kwe Cheng seraya menangkupkan tangannya di depan dadanya seraya menundukkan kepalanya.


Nenek Sa Shuang itu menghela napas panjang, mukanya tersembunyi di bawah topinya.


"Biarpun baru sekarang bertemu tuan berdua, namun sepak terjang kalian disamping Xiao Chen sudah lama saya dengar. Perjuangan kita boleh gagal seperti sudah ditakdirkan Tuhan, namun selama semangat kita masih hidup dan menurun kepada anak cucu dan murid kita!" ucap nenek Sa Shuang yang menghela napas lagi dan memandang ke arah peti mati Xiao chen.


"Xiao Chen banyak jasanya terhadap rakyat dan negara, sayang ia terlampau banyak menanam permusuhan pribadi. Kalian berdua sudah berusaha sekuat tenaga menyelamatkan keluarganya, tidak percuma Xiao Chen bersahabat dengan kalian. Biarlah saya menghabiskan sisa usia yang tak seberapa lama lagi ini untuk memberi bimbingan cucunya yang tinggal seorang ini. Xiao Yu! hayo ikut bersamaku!" lanjut seru si nenek Sa Shuang seraya mengulurkan tangan kiri dan entah bagaimana, tubuh Xiao Yu melayang dan berada dalam pondongannya.


Kemudian, sekali nenek itu menggerakkan kakinya tubuhnya sudah lenyap dari depan Biksu Ji dan juga Bocah tua nakal.


"Ha...ha...ha... ! Tua bangka Xiao Chen, biarpun kehilangan semua keluarganya namun benar-benar masih bernasib baik. Seorang cucunya, yang tinggal satu-satunya telah menjadi murid Sa Shuang!" seru Bocah tua nakal yang tertawa lega.


"Sahabat, bagaimana kau masih bisa mengatakan sahabat kita Xiao chen bernasib baik, kalau semua anak cucunya dibasmi seperti ini?" tanya Biksu Ji seraya mengeluarkan obat untuk ditelan dan kemudian memusnahkan hawa beracun akibat totokan suling maut itu.

__ADS_1


Dia juga memberikan sebutir obat untuk sahabatnya si bocah tua nakal.


"Biksu gila betapa dia tidak bahagia,


Bayangkan saja dengan kamu dan saya. Secuil daging setetes darahpun diluar tubuh kita tidak punya. Sedangkan tua bangka Xiao masih mempunyai saorang cucu yang biarpun seorang gadis, akan tetapi menjadi murid Sa Shuang." jelas Bocah tua nakal sambil mengulas senyum tipis.


"Ha...ha...ha...! benar juga. Dan belasan tahun lagi kalau kita tidak sudah mampu, mata kita menyaksikan sepak terjang seorang pendekar muda yang sakti akan membasmi setiap kejahatan, walaupun dia seorang perempuan!" sahut Biksu Ji yang juga tertawa saat memahami maksud dari sahabatnya Si Bocah tua nakal.


"Hm, tapi sayang dia perempuan!" ucap si bocah tua nakal yang mengernyitkan kedua alisnya.


"Amitabha..! sahabatku, kamu terlalu memandang rendah anak itu. Tidakkah jelas nampak sifat baik ada pada anak itu? Sinar matanya tajam berpengaruh, nyalinya lebih besar dari pada kita, berani dia menyerang Siauw Bo! Kelak tentu Siauw bo takkan dapat banyak tingkah lagi di depannya!" penjelasan biksu Ji.


"Ah, dasar Sa Shuang! yang bekerja kepalang tanggung. Iblis macam itu.


kenapa tidak dibunuh saja?" gerutu si Bocah tua nakal yang sedikit kesal.


"Sahabatku, hal begitu saja mengapa kau masih mangherankan. Han Wen adalah seorang Pendekar Suci yang tingkatannya sudah amat tinggi. Mana dia sudi mengotori tangannya dengan pembunuhan, apalagi membunuh seorang yang dia anggap hanya seorang iblis cilik seperti Siauw Bo itu." jelas Biksu Ji sembari menatap sahabatnya Si Bocah tua nakal.


"Ha...ha...ha....! Kamu dan dia terlalu banyak pakai aturan, Biksu Gila! Hari ini kita berdua mendapat kenyataan bahwa kepandaian kita sama sekali tidak ada harga. Tapi beda dengan Sa Shuang yang masih ingin menurunkan kepandaiannya kepada seorang murid apakah kita harus bersikap kikir dan membawa kepandaian kita yang tidak seberapa ini bersama ke dalam neraka?" tanya si Bocah tua nakal yang memikirkan masa depan mereka.


"Amithaba! Harap Sahabat Kwe jangan bicara tentang neraka. Mengerikan ! Akan tetapi pendapatmu itu benar. Saya juga pikir lebih baik mengundurkan diri dan memilih murid-murid yang baik untuk meneruskan kepandaian dan perjuangan kita, tentunya dalam membela kaum lemah dan juga keadilan bersama." ucap Biksu Ji, setelah dia memikirkan ucapan sahabatnya Si Bocah tua nakal.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2