Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Lagi-lagi melawan Pengemis sabuk Sutra Merah


__ADS_3

"Tuan muda berikanlah saja pedang anda, nanti tuan muda dapat membeli lagi pedang yang lebih bagus dari pedang itu!" bisik Xiao Yu yang tak mau ada keributan lagi.


Karena Xiao Yu tahu bahwa biarpun Siok Lan berada di pihak yang benar, namun pemuda ini telah melanggar sopan santun dan peraturan dunia persilatan dengan tidak mengindahkan perjuangan perkumpulan pengemis sabuk merah.


Maka saat mendengar bahwa dua orang pengemis itu mau menghabiskan perkara, karena Siok Lan yang tidak mau memberikan pedangnya. Dimana dalam peraturan mereka, dapat dianggap sebagai tanda mengaku kalah menganggap bahwa hal itu cukup patut. Siok Lan masih muda, dan mengaku kalah terhadap dua orang tokoh perkumpulan pengemis sabuk merah yang usianya jauh lebih tua, bukanlah hal yang memalukan.


Tapi tidak bagi Siok Lan, karena dia merasa kalau dirinya dipihak yang benar.


"Apa? Menyerahkan pedang kesayanganku ini begitu saja? Cih, akubtak sudi!" bentak Siok Lan yang sudah melompat maju.


"Sriiiing....!"


Siok Lan mencabut pedang nya dan tampaklah sinar berkilauan dibarengi bunyi berdesing yang nyaring.


"Gembel tua! Pedang merupakan pelindung dan andalan seorang pendekar, jadi aku tidak akan memberikannya kepada siapa juga dan kalau sanggup merampasnya dari tanganku ambil lah!" seru Siok Lan dengan melintangkan pedang perak di depan dadanya.


Hal ini merupakan sebuah tantangan. Xiao Yu yang mengetahui akan terjadi lagi pertandingan yang takkan dapat dielakkan, menjadi makin khawatir dan secara diam-diam ia mempersiapkan diri untuk mencari jalan keluar tanpa diketahui Siok Lan.


"Ha...ha...ha..., apa sukarnya merampas pedang itu!" seru Ang Ci denga tawa lebarnya.


Kemudian seperti dikomando saja, kedua orang pengemis itu mengangkat tongkat mereka dan menggerakkan tongkat ke arah Siok Lan.


Siok Lan yang sudah marah, ingin membabat habis tongkat itu dengan pedangnya untuk membuat malu dua orang pengemis itu.


PedangSiok Lan berkelebat dan membacok dua batang tongkat yang diangkat dan bergerak ke arahnya itu.


"Plakkk!"


Pedangnya menempel pada dua tongkat dan tak dapat ditarik kembali.


Betapapun pemuda tampan itu mengerahkan tenaga untuk membetot pedangnya, namun pedangnya seperti telah berakar pada dua tongkat, lengket dan tak dapat digerakkan sama sekali.

__ADS_1


"Wah-wah tuan-tuan sekalian, kami tidak punya apa-apa. Makanan sudah habis hanya tinggal duri-duri ikan, kalau tuan-tuan sudi boleh saja ambil." ucap Xiao Yu dengan mengambil tulang tulang ikan di depannya.


Kemudian Xiao Yu melemparkan tulang-tulang dan duri-duri itu ke arah dua buah mangkok di tangan kiri kedua pengemis itu, dengan gerakannya yang tidak karuan dan kacau-balau. Duri-duri itu tidak semua memasuki mangkok dan ada yang mencelat ke mana-mana.


Sementara itu Siok Lan yang lagi memusatkan seluruh tenaga, tidak tahu akan semua hal itu.


Tiba tiba ia merasa betapa dua batang tongkat yang menempel pedangnya itu mengendor, tanda bahwa dia mulai menang tenaga.


Kemudian Siok Lan memusatkan seluruh tenaga serta membuat gerakan membetot secara tiba tiba dan usahanya kali ini berhasil, pedangnya terlepas.


Siok Lan memanfaatkan kesempatannya dengan memakai kedua kakinya untuk menendang secara bergantian tubuh kedua kakek pengemis itu. Dan kedua pengemis itu terlempar keluar pintu utama rumah makan sampai beberapa meter.


Raut wajah kedua orang kakek itu kini menjadi pucat,karena sebelumnya mereka tadi sudah merasa yakin akan dapat mengalahkan pemuda yang melawannya itu serta bisa merampas pedangnya tanpa banyak kesulitan.


Akan tetapi tiba tiba mereka merasa betapa jalan darah di pundak kanan mereka yang memegang tongkat menjadi kesemutan seperti terkena totokan yang tepat sekali maka mereka tidak mampu menahan ketika pemuda itu menendang, biarpun tendangan itu amat cepat tetapi mereka bisa mengelak kalau saja pada waktu yang bersamaan mereka tidak merasa tubuh masing masing tergetar oleh totokan pada pinggang mereka sehingga tanpa bisa dicegah lagi mereka ditendang sampai mencelat keluar rumah makan.


Ang Ci dan Ang Sim adalah tokoh tokoh tingkat satu dari perkumpulan pengemis sabuk sutra merah. Ilmu kepandaian mereka sudah amat tinggi serta jarang dikalahkan musuh.


Maka mereka cuma mau merampas pedang Siok Lan yang telah


menghina perkumpulan pengemis sabuk sutra merah dengan merobohkan serta mengusir pengemis tokoh tingkat lima yang tadi bertemu Siok Lan dijalan.


Siapa sangka dirumah makan ini dengan disaksikan banyak orang, mereka berdua telah di tendang sampai mencelat keluar rumah makan oleh seorang pemuda yang usianya jauh dibawah mereka.


Tentu saja hal ini sangat memalukan serta merendahkan nama perkumpulan mereka. Juga mereka menjadi penasaran sekali dan mau berhadapan dengan orang yang telah membantu gadis itu.


"Berani kau menghina perkumpulan pengemis sabuk sutra merah!" seru Ang Cit yang kemudian mereka sudah mencabut pedang dari tongkat masing-masing.


"Wah-wah! kalian telah membuat majikanku marah! Masih baik hanya ditendang kalau dia tak sabar, bisa-bisa kalian telah dibunuhnya!" seru Xiao yu yang sudah berada di luar rumah makan sambil mengangkat kedua tangan diluruskan ke depan serta digoyang-goyangkannya.


Ang Ci dan Ang Sun yang baru saja mencabut pedang, merasa betapa ada hawa yang panas serta kuat menyambar mereka.

__ADS_1


Tubuh mereka terdorong dan alangkah kaget hati mereka ketika melihat tiga buah ronce yang menghias gagang pedang mereka telah putus semua.


Sejenak mereka melihat ke arah pemuda yang menjadi pelayan Siok Lan dan tahulah mereka bahwa dia seorang lihai yang telah membantu Siok Lan.


Melihat sikap Xiao yu kedua orang pengemis tua ini saling pandang, seolah saling bertelepati mengutarakan papa yang ada dipikiran mereka.


Dan mereka yakin kalau pelayan itu adalah seorang pendekar sakti yang sedang meyembunyikan diri, berpura-pura menjadi pelayan.


Sebab dari totokan totokan tak tampak tadi yang kini dapat mereka duga adalah duri-duri ikan yang menyambar, serta dari pukulan jarak jauh yang menerbangkan ronce ronce merah di pedang mereka.


"Mata kami seperti buta tidak melihat gunung tinggi menjulang di depan. Maaf dan sampai jumpa pula!" ucap kedua pengemis itu sambil berlutut dan kedua orang kakek itu memasukkan pedang mereka ke dalam tongkat. Kemudian mereka pergi dari tempat itu dengan raut wajah merah serta muram.


Sementara itu Siok Lan yang mengetahui hal itu, merasa khawatir melihat pelayannya berani mendekati dua orang kakek itu.


Maka dengan cepat meloncat dan telah berada di dekat Xiao Yu, ketika dua orang kakek itu menjura berlutut.


Pemuda ini membusungkan dagunya sebab bangga karena menganggap bahwa dialah yang dimaksudkan 'gunung tinggi menjulang di depan' oleh dua orang Kakek pengemis itu.


"Yang tidak mengenal Si Bayangan Merah memang sama dengan orang buta!" kata Siok Lan dengan bangga dan menyarungkan kembali pedangnya dengan sikap gagah.


Semua orang yang hadir di tempat itu kini memandang ke arah Siok Lan dengan mulut ternganga dan mata terbelalak penuh keheranan dan kekaguman.


...NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2