
"Selama ini aku mendengar akan sepak terjangmu, kamu telah berubah total. Hatiku amat bersyukur mendengar itu, akan tetapi mengapa malam ini agaknya kambuh kembali penyakitmu?" tanya Pendekar tanpa gelar yang mengulas senyumnya.
"Saudari Xiao, jangan salah sangka aku hanya ingin membuka mata mereka dan mata kedua gadis itu betapa bodoh mereka menyusahkan kamu saja sejak tadi." jawab Setan kipas merah sembari mengulas senyumnya.
"Apakah ucapan benar ucapan kamu itu atau hanya sengaja untuk mengusir mereka?" tanya Xiao Yu yang mengernyitkan kedua alisnya.
"Ha...ha...ha.... memang dua-duanya! Karena aku ingin bicara empat mata dengan kamu saudari Xiao!" balas setan kipas merah yang tertawa renyah.
"Mau bicara denganku, tentang apa?" tanya Xiao yu yang penasaran.
"Saudari Xiao! ketahuilah sejak bertemu dengan dirimu, ada perasaan lain yang ada di hatiku. Perasaan itulah yang mampu mengubahku dari aku yang dulu menjadi yang sekarang ini." ucap setan kipas merah yang membuat Xiao Yu sangat terkejut dan apa lagi dengan Siok Lan yang berada di tempat persembunyiannya itu.
"Terima kasih telah mempuraurasa terhadap diriku yang hina ini. Mohon ma'af karena aku tak mampu membalas perasaan kamu pendekar Siauw Hu!'"
"Apa maksudmu saudari Xiao? apakah kamu telah mempunyai pilihan hati? Ahhh, jantungku ini menjadi berdebar seperti hendak pecah! Saudari Xiao, harap lekas katakan, kamulah gadis yang paling kuharapkan di dunia ini. Katakanlah secara terus terang, siapakah laki-laki yang telah kamu cinta itu? Dan biarkanlah aku mengadu nyawa dengan dia, agar aku bisa menjadi suamimu, pendekar tanpa gelar!" tanya dan seru setan kipas merah yang penasaran.
Xiao Yu melihat wajah seoran laki-laki yang ada dihadapannya itu kini menjadi pucat sekali, matanya mengeluarkan pandangan sayu bahkan laki-laki itu kini telah menjatuhkan diri berlutut di depan Pendekar tanpa gelar dengan kedua telapak tangannya ditangkupkan di dadanya.
Siok Lan menggigit bibirnya melihat apa yang telah terjadi dihadapannya itu.
"Wah, tunanganku ini benar-benar digilai banyak laki-laki. Macam apa sih wajahnya? Ingin sekali aku melihat wajahnya, sayangnya si Pendekar tanpa gelar ini sejak tadi tidak pernah menghadap ke arahku!" gumam dalam hati Siok Lan yang terus melihat peristiwa dihadapannya itu.
Untuk meloncat keluar, ia merasa tidak enak dan malu karena akan ketahuan bahwa ia menjadi pergintai. Kini ia melihat Pendekar tanpa gelar mengulurkan kedua tangan dan memegang kedua tangan setan kipas merah.
Ia merasa heran sekali mengapa secara tiba-tiba hatinya merasa panas. Seperti tidak senang ia menyaksikan mereka saling memegang tangan.
Hanya sebentar Pendekar tanpa gelar memegang tangan setan kipas merah karena tadi ia memegangnya untuk membangunkan laki-laki itu.
Terdengar suaranya halus dan merdu serta terharu, akan tetapi penuh wibawa,
__ADS_1
"Bangkitlah setan kipas merah dan sadarlah, sayang sekali aku tak bisa menjatuhkan hatiku padamu, walaupun ada usaha kamu untuk berubah. Dia seorang laki-laki yang paling hebat di dunia ini, paling tampan, paling pandai, juga paling keras hati. Dan dari pandanganku dia merupakan seorang lami-laki yang paling mulia di dunia ini. Dan itu hanya berarti bahwa aku mencintainya, setan kipas merah. Kamu tentu mengerti akan perasaanku ini." jelas pendekar tanpa gelar.
Setan kipas merah menundukkan kepalanya dan Siok Lan melihat raut wajah sendu di wajah setan kipas merah.
Akan tetapi dia sendiri menahan air matanya yang juga sudah memanaskan matanya.
" Huhh, dasar gadis sombong, kenapa tak menerima salah satu dari laki-laki tampan itu. Dan sekarang ini setan kipas merah lebih tampan dan pandai dari kedua murid biksu Ji!!" gerutu dalam hati Siok Lan.
Setan kipas merah sudah bangkit dan terdengar suaranya lemah,
"Sudah kuduga kalau aku memang tidak berharga untuk mu dan hidupku hanya untuk menebus dosa dosaku, Mana mungkin Tuhan akan memberi karunia kebahagiaan kepada seorang penuh dosa dan noda seperti aku. Maafkan kelancanganku tadi saudari Xiao!" ucap setan kipas merah yang menghela napasnya.
"Ah, setan kipas merah! aku sama seali tidak menganggapmu demikian. Akulah yang minta maaf telah mengecewakan hatimu." ucap Xiao yu yang tak 3nak hati.
Akan tetapi dengan suara mendengus kesal, setan kipas merah sudah berkelebat lenyap di atas pohon dan hanya sebentar daun daun pohon bergerak.
Siok Lan menanti sampai bayangan Setan kipas merah lenyap, kemudian ia menoleh ke arah Pendekar tanpa gelar yang ternyata laki laki itupun hendak berjalan pergi.
Akan tetapi bayangan di sebelah depan itu tidak pernah menengok dan terus saja bergerak maju.
"Hei...! Pendekar tanpa gelar Xiao Yu! Berhenti kau........!" teriak Siok Lan dengan suara nyaring namun bayangan itu tetap tidak menengok dan terus lari ke depan,
Siok Lan makin marah dan mengejar sambil mengerahkan jurus meringankan tubuhnya, yaitu Terbang di Atas Rumput. Sehingga tubuhnya bergerak cepat bukan main seperti larinya seekor rusa jantan.
Akan tetapi tetap saja jarak antara dia dan si bayangan putih tidak pernah berkurang
"Heiii"! Pendekar Cengeng! Yu Lee".
Berhenti kau, kalau tidak mau berhenti kumaki kau!" kembali ia berteriak setelah mengejar lebih sejam lamanya.
__ADS_1
Tetap saja orang yang dikejarnya tidak mau berhenti, menengokpun tidak, seolah olah tidak tahu bahwa ada orang mengejarnya. Padahal tidak mungkin dia tidak tahu karena betapapun cepatnya Siok Lan mengejar tak pernah gadis itu dapat menyusul.
"Pendekar tanpa gelar dasar gadis sombong! Kalau memang pendekar dan memiliki kepandaian, ayo berhenti dan bertanding sampai sejuta jurus melawan aku !
Ini aku Siok Lan sudah datang hendak mengambil nyawamu! Hayo berhenti kau, Xiao Yu!" seru kembali Siok Lan dengan geramnya.
Akan tetapi yang dimakinya tetap lari sampai keluar dari hutan, naik turun gunung dan Siok Lan yang mengejarnya tidak tahu lagi dimana mereka kini berada. Mereka berlari lari sampai hampir pagi dan ia tidak ingat lagi berapa banyaknya hutan yang dilaluinya. Menjelang pagi, bayangan putih itu berkelebat lenyap di dalam sebuah hutan.
Siok Lan mencari-cari, akhirnya laki-laki ini menjatuhkan diri di bawah pohon yang rindang.
Ia mengatur napasnya, sampai benguncang guncang pundaknya terguguk karena hatinya merasa tidak keruan.
Kemarahannya menjulang ke langit, bercampur kekecewaan, gemas dan juga malu. Tanpa bertempur sekalipun sudah jelas bahwa dia kalah. Karena baru mengejarnya saja sampai semalam suntuk tidak dapat menyusul.
Semua perasaan yang berkumpul itu ditambah oleh kelelahan yang hebat.
Baru terasa kini betapa napasnya sudah terengah-engah. Seluruh tubuhnya berpeluh, dua kakinya lemas sekali.
Akhirnya Siok yang mencurahkan kegemasan dan kelelahannya dengan bersandar di bawah pohon, perlahan angin meniup pelupuk matanya dan dia pun tidur nyenyak.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...