Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Malam hari di atas perahu


__ADS_3

Sepekan kemudian Setan kipas merah yang lagi melesat keluar dari kuil Lingyi itu, masih sama bahkan lebih tampan dari pada saat sepekan lalu roboh dan pingsan di depan kuil itu.


Saat ini pakaian Siauw Hu tidak lagi berwarna merah, melainkan berwarna putih. Sesuai keinginannya yaitu memupuk kebaikan untuk menebus segala perbuatan dosanya yang telah lalu, bahkan sekarang ini dia tidak lagi mau menyentuh makanan berjiwa atau memabukkan. Tidak lagi menjadi hamba nafsu karena ia bertekad untuk menundukkan nafsu nafsunya.


Dan gemparlah lagi dunia persilatan dengan munculnya setan kipas merah yang merupakan kebalikan daripada setan Kipas merah yang pernah ada.


Setan kipas merah yang sekarang ini benar benar merupakan seorang dewa penolong yang mempergunakan ilmu kepandaiannya untuk menolong mereka yang tertindas, menyelamatkan banyak nyawa yang terancam, penentang kejahatan dan memupuk kebaikan.


...****...


Sementara itu Xiao Yu mendayung perahu perlahan, sebenarnya bukan mendayung karena perahu itu sudah berjalan sendai hanyut bersama aliran sungai. Tapi melainkan mengemudi perahu dibantu dayungnya.


Malam itu terang bulan, amat indahnya dan ia menggantikan tukang perahu A Bo yang tidur mendengkur di perahu, Siok Lan tidak mau berhenti malam itu, maka terpaksa Xiao Yu menggantikan tukang perahu yang sudah terlalu lelah dan mengantuk.


Siok Lan menghampiri Xiao Yudan duduk di depannya memandang ke kanan kiri karena memang pemandangan di malam ini amatlah


indahnya.


Tertimpa sinar bulan purnama yang amat terang keadaan di sepanjang tepi sungai merupakan pemandangan seperti dalam mimpi, diantara terang dan samar sehingga terrentuk bayang bayang aneh dan cahaya kuning emas menyelimuti permukann air.


"Tuan muda beristirahatlah, saya rasa besok pagi kita sudah akan sampai dekat dengan tempat penggalian terusan di sebelah utara pantai Huang ho," kata Xiao yu sambil menikmati keindahan luar biasa di depan matanya, yaitu terpancarnya ketampanan wajah Siok Lan pemuda dihadapannya.


"Mana mungkin istirahat, apalagi tidur di malam seindah ini!" seru Siok Lan yang menikmati angin semilir.


"Pemandangan begini indah, sungguh menyenangkan naik perahu. Jauh lebih senang dari pada melakukan perjalanan darat. Aku tidak tidur Yu Tian, aku ingin mengajak kau bercakap-cakap. Andai saja kamu seorang gadis." ucap Siok Lan seraya menatap wajah Xiao Yu dengan berbinar-binar.


Berdebar jantung Xiao Yu melihat sikap Siok Lan yang amat mesra, seolah olah seperti bicara terhadap seorang teman baik. Jika Siok Lan telah bersikap demikian, hampir lupa dia bahwa dia sedang menyamar menjadi laki-laki.


Sebab denyut jantungnya makin berdebar, ia mau menekannya dengan mengingatkan penyamarannya menjadi laki-laki dan seorang pelayan.


"Ah, tuan betapa janggalnya. Saya laki-laki dan cuma seorang pelayan!" ucap Xiao yu yang tetap dalam porsinya sebagai pelayan.

__ADS_1


"Aku hanya berandai-andai kalau kmu itu perempuan, maka aku tak akan kesepian. Siapa yang mau melarang aku bercakap-cakap dengan pelayanku?" ucap Siok Lan yang terlihat kedua matanya yang menantang, seperti marah. Tapi kemudian dia tersenyum.


"Kau ini ya, kadang aneh sekali membuat aku mendongkol Yu Tian! Apa sih perlunya kamu itu kadang merendah dan kadang menekankan bahwa kau adalah pelayan! Justru sebab kau sekarang menjadi pelayanku maka aku mau mengajak kmu bercakap-cakap!" lanjut ucap Siok Lan dengan gemas.


Xiao Yu tidak berani melihat wajah itu, wajah yang sepenuhnya kini tersinar cahaya kuning emas bermandi cahaya keemasan membuat wajah itu bersinar indah hingga ia tak berani melihat langsung, tidak percaya kepada dirinya sendiri.


Dialihkan pandangannya ke arah bulan dan sekali-kali melihat ke depan kalau saja arah perahunya membelok.


"Bercakap cakap soal apakah, tuan muda?" tanya Xiao Yu yang penasaran


"Soal dirimu." jawab Siok Lan yang menatap Xiao Yu dalam-dalam.


Kedua tangan Xiao Yu yang tadi bergerak gerak mendayung, berhenti sejenak.


"Soal diriku?" tanya Xiao Yu yang kemudian kembali menggerakkan dayngnya.


"Iya!" jawab Siok Lan yang mengulas senyumnya, yang tentu saja membuat hati Xiao Yu tak menentu.


"Tak masalah bagiku. Oh iya Yu Tian, dimana orang tuamu?" tanya Siok Lan yang penasaran dan menatap ke arah Xiao Yu yang masih mendayung.


"Sudah meninggal dunia, ikut terbasmi ketika Siauw Bo mengamuk, tujuh belas tahun yang lalu" jawab Xiao Yu yang tiba-tiba suaranya terhenti, sebab terasa tercekik lehernya dan tak bisa dicegah lagi air matanya menetes netes ke atas kedua pipinya.


Xiao Yu berusaha keras mencegah hal ini, tetapi tidak kuat sebab ia teringat akan peristiwa yang menimpa keluarganya dan seketika hatinya seperti diremas-remas.


Siok Lan bengong saat melihat wajah pelayannya, dan dia menyadari ada sesuatu yang lain dari raut wajah pelayannya itu.


Xiao Yu tersadar kalau majikannya melihatnya, dan dengan cepat menghapus air matanya dengan ujung lengan baju nya.


"Ah. maaf nona. Sebab teringat bahwa ayah bundaku telah tiada serta saya hidup sebatangkara saya menjadi berduka." ucap Xiao Yu dengan wajah sendu.


"Berapa sekarang usiamu, Yu Tian?" tanya Siok Lan dengan penasaran.

__ADS_1


Xiao Yu berdebar lagi jantungnya. Dan dia bingung mau jawab yang bagaimana, karena dalam hati Siok Lan pasti dia tahu usia Xiao Yu saat meninggalkan kampung halamannya.


"Eh, ditanya malah melamuni!" seru Siok Lan yang mendekatkan wajahnya ke wajah Xiao Yu.


Xiao Yu pun terkejut dan lalu menjawab dengan gagap.


"Dua puluh satu tahun usia saya, tuan muda!" jawab Xiao Yu dengan gemetaran, karena tak sanggup melihat raut wajah tampan Siok Lan dari dekat dan dia berusaha menguasai hatinya.


"Hm dua puluh satu tahun, ya! Kalau begitu engkau berusia tiga tahun ketika peristiwa pembunuhan hebat itu terjadi. Dan kau sedang pulang ke dusun ketika terjadi sehingga kau tidak menyaksikannya sendiri seperti yang kau katakan tempo hari!" seru Siok Lan yang nampak penuh selidik.


"Benar tuan muda." jawab Xiao Yu yang melihat pemuda di depannya sedang mengernyitkan kedua alisnya.


Terlihat sekali kalau dia sedang memikirkan sesuatu, dan Xiao Yu kembali kedua tangannya berhenti mendayung, bahkan ia tidak tahu bahwa perahunya kini mencong arahnya ke pinggir.


Tiba-tiba Siok Lan memegang pergelangan tangan Xiao Yu, dan dia terus memperhatikan dari tangan terus ke wajah dan berikut ke dada dan tubuh Xiao Yu.


"Kenapa perasaanku tak enak ya?" gumam dalam hati Xiao Yu dengan wajah pucat pasinya.


"Selalu terngiang dalam pikiranku, kenapa aku merasa kalau Yu Tian ini adalah seorang perempuan?" gumam dalam hati Siok Lan yang terus menatap kedua mata Xiao Yu, yang membuat gadis yang sedang menyamar sebagai laki-laki itu salah tingkah.


Telapak tangan Siok Lan perlahan hendak menuju ke wajah Xiao Yu, yang tentu saja membuat gadis itu sangat terkejut.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2