
Buat pekerjaan menggali terusan sampai ke kota, raja memerlukan banyak sekali tenaga manusia. Dan buat memenuhi kebutuhan itu para petugas serta pembesar, demi melaksanakan perintah kaisar melakukan paksaan kepada rakyatnya.
Mereka dipaksa meninggalkan sawah ladang serta keluarganya buat dipekerjakan dalam penggalian ini dengan bekerja melebihi kuda beratnya serta tidak mendapat jaminan yang layak, akibatnya banyak diantara para rakyat yang meninggal dan dikubur sejadinya di tepi sungai.
Sedangkan sawah ladang mereka di dusun-dusun dirampas oleh raja-raja kecil, tidak itu saja wanita muda yang cantik dan anak anak gadis remaja dirampas buat dipaksa menjadi selir oleh tuan tanah dan kaki tangannya. Anak lelaki otomatis menjadi buruh tani yang nasibnya tidak lebih dari pada budak belian.
Karena itulah, kebencian rakyat terhadap pemerintah penjajah dan raja kecil di dusun yang membuat kehidupan rakyat yang carit-marut serta dendam yang bertumpuk-tumpuk.
Semua ini tentu saja menimbulkan akibat yang sangat tidak baik. Kekacauan, timbullah pemberontak pemberontak kecil kecilan dalam bentuk gerombolan-gerombolan yang mengganggu keamanan.
Sementara itu Xiao Yu melakukan perjalanan bersama Siok Lan bahkan mendekati daerah-daerah tersebut, daerah gawat karena pelayaran melalui Sungai Huang ho itu akan melewati terusan yang kini sedang dilanjutkan penggaliannya menuju ke utara, ke kota raja.
Tiga hari kemudian, mereka telah tiba di luar kota Kaifeng, kota besar bekas kota raja yang amat ramai yang terletak di lembah Sungai Huang ho ini.
Xiao Yu masih berjalan menuntun kuda, pakaian dan mukanya penuh debu dan keringat, sedangkan Siok Lan melenggut dan mengantuk dan tidur ayam sambil duduk di atas punggung kuda.
"Tuan-tuan muda mohon sudi membantu saya!"
Terdengar suara parau seorang laki-laki yang mampu membuat
Siok Lan membuka matanya dan memandang ke depan.
Dan ternyata di pinggir jalan itu berdiri seorang pengemis penuh tambalan, memegang tongkat yang dipakai bersandar dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah mangkok retak.
Dari rambutnya yang panjang awut awutan sampai kakinya yang telanjang dan pakaiannya yang butut, jelas dia seorang pengemis biasa, akan tetapi anehnya, pengemis yang berpakaian butut itu memakai sabuk merah yang melibat pinggangnya. Dan sabuk merah ini dari sutera yang masih baru dan bersih.
"Ma'afkan kami orang tua karena kali ini kami tidak memberi apa-apa dan lain kali saja akan kami beri sumbangan kepadamu. Harap mengerti,karena kami sedang melakukan perjalanan yang jauh, karenannya kami memerlukan biaya yang banyak." Xiao Yu yang berkata dengan suara halus kepada kakek pengemis itu.
__ADS_1
Siok Lan mengernyitkan kedua alisnya,karena berpikir pelayannya bersikap begitu menghormat dan halus terhadap seorang pengemis.
"Membanting tulang bekerja paksa, sementara anak dan istri di rumah menderita. Mereka tanpa makan tiada upah, mengharap tuan-tuan muda memberi sedekah." ucap pengemis itu dengan suara parau.
"Sungguh gembel tua yang tidak tahu malu! Jelas kamu seorang pemalas yang tidak mau bekerja, becusnya hanya minta-minta saja, akan tetapi masih bicara tentang bekerja keras dan membanting tulang! Cih, dasar tak tahu malu. Masih mempunyai sabuk sutera merah yang tentu dapat kau tukar dengan nasi untuk dimakan tetapi ada muka untuk mengemis! Hayo pergi!" seru Siok Lan dengan amarahnya.
Pengemis itu tidak mau pergi, kemarahan dan ucapan Siok Lan itu dianggapnya. Malah pengemis itu menengadahkan wajahnya ke atas.
"Dengan sabuk merah di pinggang sampai mati kami berjuang!" seru pengemis itu yang membuat Siok Lan makin panas hatinya.
Dengan gerakan kilat tubuhnya mencelat dari atas kudanya lalu berdiri di depan pengemis itu, dengan sengaja ia memperlihatkan tenaga dalam yang hebat dan kini ia berdiri sambil bertolak pinggang di depan kakek pengemis itu.
"Oh, rupanya anggota perkumpulan pengemis! Tapi apakah kamu tahu siapakah aku!" seru Siok Lan yang akhirnya tahu jati diri si pengemis tua dihadapannya itu.
Pengemis tua itu melihat tajam sejenak ke arah Siok Lan, lalu melirik ke arah Xiao Yu.
"Aku tidak punya uang!" seru Siok Lan dengan kesal.
"Uang tidak berapa perlu, kuda serta pedang tuan muda. Saya rasa itu cukuplah. he..he...he...!" ucap pengemis yang terkekeh.
"Dasar gembel busuk! Kau buka mata serta telinga lebar-lebar! Aku adalah Si Bayangan Dewa, tahukah kau kalau aku adalah cucu dan juga murid Siok Lee. Apakah kamu tahu!" seru Siok Lan yang menatap pengemis itu dengan tajam.
"Maaf.. maaf.... tentu saja saya telah mendengar nama besar Siok Lee yang amat kami hormati." ucap pengemis itu yang berkali-kali menundukkan kepalanya.
"Nah, kalau sudah tahu, lekas minggir jangan menghalangi jalanku!" bentak Siok Lan dengan kesal.
"Ahh andaikata kakekmu sendiri yang lewat, tentu beliau tidak akan menolak permintaanku dan memberikan seluruh harta benda yang dibawanya. Jadi kami tak percaya kalau kamu yang pelit ini, murid dan cucu Siok Lee yang begitu royal!" seru pengemis tua itu, yang tentu saja memancing kemarahan Siok Lan.
__ADS_1
"Apa kau bilang? Dasar gembel busuk bermulut lancang! Kau sendiri yang tidak tahu malu! Mana ada orang mengemis secara paksa.
Kau ini pengemis atau perampok!" bentak Siok Lan yang makin marah, sepasang pipinya sampai merah sekali dan matanya bercahaya seperti kilat.
"Sudah menjadi peraturan perkumpulan kami jika seorang budiman memberi sedekah secara suka rela dan tulus ikhlas, biarpun hanya sekepal beras dan sesuap nasi akan kami terima dengan rasa syukur serta berterima kasih. Tapi sebaliknya, jika berhadapan dengan orang pelit tidak berpribudi kami akan memilih sendiri sedekahnya. Maka saya sekarang memilih sendiri kuda serta pedang tuan muda!" jelas si pengemis itu yang dengan nada memaksa.
"Hah! Perkumpulan apa itu! yang
berani mengeluarkan peraturan peraturan seenak parutnya sendiri!" seru Siok Lan dengan geram.
Pengemis tua itu tiba-tiba berdiri tegak lalu menunjuk sabuk sutera merahnya itu yang melilit di perutnya.
"Kami adalah anggota Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah dan peraturan-peraturan yang sudah dikeluarkan ketua kami, tak bisa diganggu gugat. Walaupun seorang kaisar sekali pun tidak boleh melanggarnya!" seru pengemis tua itu dengan lantang.
Tiba-tiba Siok Lan merasa kalau ujung bajunya dibetot orang dari belakang. Pemuda itu menoleh dan melihat Yu Tian atau Xiao Yu yang berkedip kepadanya seperti orang memberi isyarat.
Xiao Yu sebelumnya sudah mendengar tentang perkumpulan pengemis sabuk merah dan dia sudah mengenal pengemis itu. Dan Xiao Yu tidak menghendaki Siok Lan bertengkar dengan pengemis tua itu dan mengharapkan Siok Lan untuk mengalah saja.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...