
"Baiklah Thian Sung! ucapan seorang pendekar yang sudah dikeluarkan, sekali keluar, biar dunia kiamat takkan dilanggarnya!" seru Xiao Yu dengan kesungguhannya.
"Aku sudah mulai awas!" seru Thian Sung.
"Cet....cet....cet....!"
Sinar berkilauan menyambar nyambar dari kedua tangan panglima tua itu, bagaikan kilat berkelebat menyerang Xiao Yu disusul suara berkerincingan nyaring memenuhi udara.
Sedikitnya ada empat puluh biji senjata lempar yang berlumuran racun itu menyambar secara bertubi-tubi tidak hanya ke arah belasan jalan darah di sebelah depan tubuh Xiao Yu.
"Bahaya maut mengancam diri gadis itu, senjata-senjata lempar maut itu telah menjangkaunya dari segenap penjuru." gumam dalam hati Siok Lee seraya menahan napasnya menyaksikan hebatnya serangan senjata lempar ini, jauh lebih hebat daripada yang pernah ia saksikan selama hidupnya.
Raut wajah Setan kipas merah juga menjadi pucat karena melihat sukarnya menyelamatkan diri dari sambaran senjata lempar yang susul-menyusul itu.
Sementara itu Xiao Yu bukan tidak tahu akan kelihaian senjata rahasia lawan, juga ia tidak berani memandang rendah. Gadis itu sudah sejak tadi mengerahkan tenaga dalamnya di tubuhnya sampai tubuhnya mengeluarkan getaran, hawa sakti yang dahsyat,
terutama sekali pada Kedua lengannya.
Tangan kanan yang memegang ranting bergerak cepat memukul atau memecut ke arah senjata lempar itu yang berdatangan sedangkan tangan kiri dengan jari jari terbuka melakukan gerakan jurus sinar sakti yang di dorongkan ke arah depan.
Sungguh luar biasa, karena setiap senjata lempar yang menyambar dan begitu terpukul ujung ranting, senjata lempar itu berbalik dengan kecepatan lebih cepat lagi ada yang membentur senjata lempar lainnya. Dan ada pula yang terus menyerang Thian Sung.
Sedangkan senjata-senjata lempar lainnya yang terkena hawa pukulan tangan kiri Xiao Yu itu runtuh dan mencelat ke kanan kiri.
Thian Sunh memandang terbelalak sambil menyambar beberapa senjata lempar yang berbalik kearahnya.
"Jurus Sinar Sakti dan jurus tongkat sakti! Hei, Pendekar tanpa gelar ada hubungan apa kamu dengan Guru Sa Shuang!" seru Thian Sung yang penasaran.
__ADS_1
"Guru Sa Shuang adalah guru-ku, panglima!" jawab Xiao Yu seraya masih menangkis beberapa senjata lempar.
Panglima itu menggerakkan alisnya, wajah nya menjadi agak pucat,
"Oh...! Sungguh tidak kebetulan bagiku! Guru Sa Shuang adalah bekas junjunganku, juga setengah guruku karena beliaulah yang memberi banyak petunjuk dan bimbingan kepadaku. Andaikata guru Sa Shuang sendiri yang kini datang menghadapiku, aku Thian Sung bukan seorang yang tak kenal budi. Aku akan menyerahkan jiwa ragaku kepada beliau." ucap Thian Sung yang menjelaskan.
Terkejut juga Xiao Yu mendengar pengakuan ini karena gurunya dahulu tidak pernah bicara tentang panglima yang kosen ini.
"Nah, kalau begitu, kita adalah orang orang sendiri, bahkan anda masih terhitung kakak seperguruan denganku. Karena itulah, hendaknya anda sudi mengalah dan membebaskan semua pejuang agar diantara kita tidak usah ada pertentangan lagi." ucap Xiao Yu dengan bersikap hati-hati.
"Tidak bisa ! Tidak bisa ! Pertama, kalau aku membatalkan pertandingan, orang akan menyangka bahwa aku Thian Sing takut bertanding melawan Pendekar tanpa gelar! Kedua, aku berhutang budi kepada guru Sa Shuang, bukan kepada muridnya. Ketiga aku masih belum yakin karena belum ada bukti bahwa kamu itu adalah murid Guru Sa Shuang!" jelas Thian Sung dengan lantang.
"Thia sung, kamu sudah menyaksikan jurus sinar sakti dan tongkat sakti, bukti apa lagi yang kamu inginkan?" tanya Xiao yu yang tak mengerti maksud dari Thian Sung.
"Hm, Aku belum yakin benar jika kamu itu murid tersayang Sa Shuang. Jika benar adanya, tentu kamu dapat mengalahkan aku, barulah aku akan percaya bahwa kamu itu murid Sa Shuang!" seru Thian Sung dengan tegas.
"Oh, jadi itu keinginan kamu. Jadi tunggu apa lagi, aku sudah siap menghadapimu Thian Sung!" seru Xiao Yu yang dalam posisi siap siaga. Dan Thian Sung mencabut pedangnya.
Bunyi Pedang yang tercabut dari tempatnya itu mengeluarkan suara mendesing keras dan nyaring.
Baru sekarang Thian Sung benar benar hendak menggunakan kepandaiannya, tadi semua lawan ia robohkan hanya deagan serangan senjata rahasianya yang ampuh saja.
Pedang itu masih menggetar ujungnya ketika ia pegang dengan tangan kanan di atas kepala dengan lengan melengkung adapun tangan kiri meraba dada sendiri, dekat kantong senjata lemparnya, kedua kaki memasang kuda-kuda, siap menerjang maju, sepasang matanya memandang tajam ke arah Xiao Yu.
Xiao Yu Ia segera memasang kuda kuda, ranting yang dipegang tangan kanan itu melintang di dada, tangan kiri dengan jari jari terbuka miring di depan dahi, kedua kaki di pentang lebar depan belakang, matanya memandang tajam ke depan, dicurahkan kepada gerakan lawan yang akan datang.
Xiao Yu bersikap waspada, saat melihat tangan kanan lawan, yang memegang pedang panjang. Namun yang lebih berbahaya lagi adalah tangan kiri yang tak terduga, dapat menyambitkan senjata-senjata lempar dari kantongnya.
__ADS_1
Disisi yang lain, Thian Sung kini tidak lagi berani memandang rendah gadis yang ada dihadapannya.
"Jika benar gadis ini murid terkasih Sa Shuang tentu aku akan mengalami kesulitan untuk mencapai kemenangan!" gumam dalam hati Thian sung.
Thian Sung pernah digembleng Sa shuang ketika menjadi murid Sa Shuang, akan tetapi karena dia pernah melanggar sumpah perguruan, maka Sa shuang tidak menurunkan jurus andalan perguruan kepadanya.
Ranting kecil itu lebih berbahaya dari pada senjata macam apapun juga, maka Thian Sung tidak mau memandang ringan apa lagi tangan kiri yang terbuka itu karena ilmu pukulan Sinar Sakti amat dahsyat dan sudah mengangkat tinggi nama besar pendekar wanita Sa Shuang di dunia persilatan.
Semua orang menahan napas menyaksikan kedua orang jago, yang seorang muda yang seorang tua dan saling berhadapan memasang kuda-kuda tanpa bergerak atau berkedip sedikit pun.
Thian Sung maklum bahwa gadis itu amat hati hati, tentu tidak akan suka menyerangnya terlebih dahulu ia menanti saat yang baik menanti gadis itu berkedip atau bergerak salah satu bagian syarafnya.
Namun betapa kagum hatinya menyaksikan gadis itu diam tak bergerak seperti arca batu sikap nya tenang sekali dan teguh kokoh kuat sukar dicari kelemahannya.
"Rasakan ini....!" teriak Thian Sung yang keras sekali dan mulailah ia menerjang dengan gerakan dahsyat pedangnya berdesing-desing ketika ia gerakkan dalam penyerangan berantai, yaitu pedangnya itu berputaran seperti kincir angin, demikian cepatnya sehingga membentuk segalung sinar yang berkeredepan dan bertubi-tubi menyambar ke arah tubuh Xiao Yu.
Gadis itu menggunakan jurus meringankan tubuhnya dan bergerak dengan lincah mengelak setiap kali gerakan-gerakan sinar pedang itu menyambar ke arahnya, akan tetapi karena pedang itu berputar cepat maka tiap kali dielakkan sudah datang lagi, membuat gadis itu sibuk dan terdesak dalam usahanya menghindarkan serangan-serangan itu.
Maka bergeraklah rantingnya, bukan langsung menangkis pedang melainkan pada sepersepuluh detik setelah pedang menyambar lewat pengelakannya, rantingnya meluncur menotok pergelangan tangan yang memegang pedang.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...