
"Hentikan! janganlah bertempur dengan saudara sendiri!"seru setan kipas merah dengan menatap satu persatu ketiga gadis itu dengan tajam.
"Setan kipas merah! jangan mencampuri urusan kami karena ini adalah urusan pribadi!" bentak Yang Tek dengan marah.
"Aku tidak mencampuri urusan pribadi siapa-siapa, hanya saat ini musuh sudah datang menyerbu!
Aku melihat saudara Han wen dan Saudara Tan Li sedang ditawan oleh musuh.!" seru Setan kipas merah yang memberitahu.
"A.,apa!" seru Yang Tek dan Gui Siong yang bersamaan.
"Saudara Hu! benarkah itu? dan dimana mereka?" pertanyaan itu yg ini keluar dari mulut Gui Siong dan Yang Tek yang kompak.
"Lekas kalian tolong! Terlalu banyak tadi sehingga aku tidak sempat menolong. Di pondok sebelah kiri dari sini, lekas kalian tolong!" seru setan kipas merah yang belum habis ucapannya, dua orang gadis cantik itu sudah berlari cepat seperti berlomba-lomba menuju ke arah pondok kecil yang dijadikan tempat jaga di sebelah kiri. Yang jaraknya hanya sejauh satu kilometer dari situ.
Mereka mengerahkan jurus meringankan tubuh mereka untuk lekas dapat menolong dua orang pemuda yang menjadi pujaan hati mereka.
Dalam waktu yang sebentar saja Yang Tek dan Gui Siong telah tiba di luar pondok. Mereka melihat sinar api di dalam pondok akan tetapi kedaannya sunyi saja sehingga mereka semakin curiga. Setelah bertukar pandang mereka menerjang pintu pondok dengan pedang di tangan.
Sekali tendang saja, pintu pondok itu jebol dan mereka melompat masuk dan keduanya berdiri terbelalak dengan muka pucat.
Apa yang mereka lihat, Han wen dan Tan Li berada dalam pondok itu, di atas pembaringan rebah terlentang tak dapat berkutik sama sekali, agaknya tertotok, dan yang lebih hebat lagi kedua orang pemuda itu berada dalam keadaan telanjang bulat sama sekali, tubuh mereka itu tidak tertutup sehelai benang pun.
Nampak jelas di bawah sinar lampu yang dibesarkan. Yang Tek dan Gui Siong tertegun, juga terpesona, kemudian mereka sadar, saling pandang lalu keduanya menubruk maju.
Otomatis Gui Siong melompat ke dekat Tan Li sedangkan Yang Tek melompat ke dekat Han Wen, melihat betapa pakaian kedua pemuda itu sudah hancur berkeping keping di bawah pembaringan, mereka sudah cepat merenggut baju luar mereka dan menyelimutkan baju luar pada kedua orang pemuda itu, kemudian membebaskan totokan mereka.
Han Wen dan Tan Li mengeluh. Kalau tadi mereka rebah terlentang dengan air mata membasahi pipi, kini mereka terisak perlahan.
"Apa yang terjadi? Mana musuh?"" Tanya Ouwyang Tek, matanya liar memandang ke kanan kiri.
"Siapa yang melakukan ini saudara Tan?" tanya Gui Siong yang penasaran.
__ADS_1
"Siapa? Biar kurobek dadanya!" lanjut bentak Gui Siong.
Han Wen dan Tan Li turun dari pembaringan membetulkan letak jubah luar yang tak cukup dan minimal dapat menutupi tubuh mereka dari perut sampai ke lutut.
Mereka Sian menggeleng kepala, berkata perlahan.
"Kami tertipu, tidak ada musuh!"
"A...Apa maksud semua ini!" seru Yang Tek makin beringas.
"Kami tidak mengerti. Tapi Siauw Hu yang melakukan ini kepada kami. Dia...dia secara tiba-tiba menotok kami, membawa kami ke sini kemudian merobek-robek pakaian kami lalu pergi." jawab Tan Li yang menghela napasnya.
"Ke..kenapa dia melakukan hal terkutuk ini? bukannya dia sudah sadar dari perbuatannya yang dulu?"" tanya Yang Tek dengan penasaran.
"Dan dia pula yang memberi tahu kepada kami bahwa kalian ditawan musuh!" kata pula Gui Siong terheran-heran.
"Hah! begitukah?" tanya Han Wen yang bertukar pandang dengan Tan Li Ceng dan semakin penasarannya mereka.
"Iya memang begitu." balas Yang Tek.
"Memangnya ada apa?" tanya Tan Li yang semakin penasaran.
"Ada kemungkinan Siaw Hu mendengar perseteruan kami tadi dengan pendekar tanpa gelar!" jawab Yang Tek seraya memandang ke arah Gui Siong, dan Gui Siong tahu maksud dari saudara seperguruannya itu. Dia menganggukkan kepalanya pelan-pelan.
"Kalian berseteru dengan pendekar tanpa gelar?" tanya Tan Li yang makin bingung. Mereka saling pandang seolah-olah akan dapat keterangan dari pandang mata masing masing akan tetapi ternyata keduanya berpandang kosong.
"Apa artinya ini!" desak Tan Li yang bingung.
"Terima kasih kepada Siauw Ma, karena dia telah menunjukkan jalan keluarnya." kata Yang Tek dan ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Gui Siong dan dia pun mengganggu kan kepalanya, seolah mengerti apa yang dimaksudkan.
"Aku masih belum mengerti, apa maksud kalian?" ucap Tan Li yang memandang ke arah kedua gadis cantik di hadapan mereka.
__ADS_1
"Dia menjebak kami didalam sebuah kamar, dimana kalian sedang telanjang bulat! Kedua mata kamibternoda karena itu, jadi kami memaksa kalian berdua jangan lagi memikirkan perjodohan dengan Pendekar tanpa gelar lagi. Tapi pikirkan kami yang telah melihat keadaan kalian tadi!" jelas Yang Tek yang menatap kedua laki-laki tampan dihadapan mereka itu.
"Oohh !Mengerti aku sekarang!" seru Tan Li yang menepuk dahinya sendiri. Kemudian ia memegang lengan Han wen.
"Rupanya setan kipas merah sengaja menipu dan menotok serta menelanjangi kita, agar kedua gadis ini dapat melihat kita telanjang, ah.. betapa bodohnya kita berempat selama ini." ucap Han Wen yang menjelaskan.
"Ha...ha...ha...! Benar juga itu berarti kalian adalah calon istriku!" seru Tan Li yang kemudian memeluk Gui Siong yang balas memeluk pria yang dikasihinya itu penuh kebahagiaan.
Juga demikian dengan Han Wen yang sudah merangkul dan mendekap kepala Yang Tek, gadis yang dikasihinya itu ke dada, seolah-olah dia takut kalau kalau ia akan kehilangan wanita pujaan hatinya.
Mereka saling peluk di dalam pondok itu, tak bergerak gerak, penuh kebahagiaan, tidak malu-malu lagi, dan sampai api padam karena kehabisan minyak mereka tidak sadar dan masih saling peluk.
...***...
Adapun Siok Lan yang mengintai dari balik pohon, tadi kaget sekali mendengar ucapan setan kipas merah tentang serbuan musuh. Akan tetapi ia tidak bergerak dari tempatnya dan kini ia menyaksikan adegan yang dianggapnya lebih aneh daripada tadi, setan kipas merah kini berdiri di depan Pendekar tanpa gelar yang masih berdiri membelakanginya.
Siok Lan dapat melihat jelas wajah setan kipas merah terpapar sinar bulan tampak putih kemerahan, dengan sepasang mata seperti bintang memandang Pendekar tanpa gelar itu, kemudian tersenyum memperlihatkan deretan gigi yang putih berkilau.
"Ah, setan kipas merah! apa maksud kamu membohongi mereka? Kamu tadi mengintai lalu pergi dan kembali dengan berita bohong. Apa sebenarnya maksud kamu?" tanya pendekar tanpa gelar itu yang tahu kalau hal itu akal-akalan dari setan kipas merah.
"Ha...ha...ha...!" setan kipas merah hanya bisa tertawa lebar
"Selama ini aku mendengar akan sepak terjangmu, kamu telah berubah total. Hatiku amat bersyukur mendengar itu, akan tetapi mengapa malam ini agaknya kambuh kembali penyakitmu?" tanya Pendekar tanpa gelar yang mengulas senyumnya.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...