Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Sama-sama terkena Racun


__ADS_3

Wajah Siok Lan pucat, tadi ketika ia menerjang maju dia mengerahkan tenaga dalamnya dari pusar naik ka atas, akan tetapi tiba-tiba ketika hawa lewat punggung, dan punggungnya itu seperti dibakar membuat seluruh tubuhnya lemas dan ia terguling.


"Kakak Lan kita berada dalam cengkeraman racun hebat, jangan kau mengerahkan tenaga. Tenang dan bersabarlah kurasa ketua Gwat Kong tidak mempunyai niat jahat terhadap kita." bisik Xiao Yu seraya mendudukkan Siok Lan diatas tempat tidur.


"Tidak punya niat buruk apa! Monyet tua bangka hina dan tak tahu malu ini. Dia hendak memaksa kita menjadi kaki tangan penjajah, si keparat !" seru Siok Lan dengan geram.


Gwat Kong tetap tenang dan tersenyum, sama sekali tidak memperdulikan kemarahan Siok Lan yang memaki-makinya.


"Pendekar Xiao, kau adalah seorang yang punya pandangan luas. Naik turunnya kerajaan dan kaisar adalah urusan yang sudah ditentukan Tuhan. Manusia mana mampu mencegah kehendak Tuhan. Sudah ditakdirkan bahwa pemerintah Goan timbul, maka sudah menjadi kewajiban kita orang-orang gagah untuk mendukung kehendak Tuhan ini dan membantu pemerintah baru mengatur ketenangan dan tenteraman...." ucap Gwat Kong yang belum selesai, Xiao Yu memotong pembicaraannya.


"Cukup ketua! Dalam hal ini, kita berbeda pendapat dan akan sia-sia belaka kalau kerua hendak membujuk kami. Kami tetap tidak rela menyaksikan negara dan bangsa dijajah bangsa Mongol, dan andaikata kami tidak berdaya


menentang sekalipun, di dalam hati kami tetap akan menentang. Kurasa semua orang gagah berpendapat demikian dan hanya menanti saat dan kesempatan untuk mengusir penjajah dari tanah air!" seru Xiao Yu dengan lantang.


"Wah, kau keras kepala dan sombong seperti kakekmu Xiao Chen! Xiao Yu, pakah kau belum sadar bahwa nyawamu berada di telapak tanganku! Tidak akan sayangkah kau yang masih muda ini mati secara konyol dan sia-sia?


Dan tunanganmu ini, bukankah kau


mencintainya? Relakah kau melihat tunanganmu yang kau cinta ini mati konyol pula?" ucap Gwat kong yang berusaha membujuk Xiao Yu.


Gadis itu tersenyum sambil memandang kekasihnya,


"Ketua, anda agaknya tidak dapat menyelami jiwa para pejuang sejati, juga tidak pernah tahu agaknya akan isi hati dua orang yang saling mencinta! Ketahuilah betapa besar bahayanya, namun seorang gagah lebih baik mati dari pada mengkhianati tanah air dan bangsanya sendiri dan dua orang yang saling mencinta dengan murni lebih rela melihat kekasihnya tewas sebagai seorang patriot dari pada hidup makmur sebagai seorang pengkhianat. Sadarlah bahwa kami berdua mati demi tanah air kami, ketua." ucap Xiao Yu dengan lantang.


Betapa gembira dan bangganya Siok Lan kepada kekasihnya. Sungguh cocok dengan isi hatinya. Karena memandang Xiao Yu dengan penuh cinta dengan bibirnya tersenyum dan matanya membasah, ia rela seribu kali mati bersama kekasihnya yang hebat ini.


Gwat Kong menjadi marah dan merasa mukanya seperti ditampar. Teringat ia akan semua pengalamannya dahulu. Dahulu ketika ia menjadi murid di perguruan Kun lun dan ia melakukan pelanggaran pada aturan di perguruan itu, yang membuat dia ditendang keluar dari perguruan Kun lun dengan tidak hormat.

__ADS_1


Rasa dendam dan sakit hati dia tahan dan disembunyikan pada hatinya, ia seolah-olah menyesali kedosaannya. Bersikap haik terhadap perguruan Kun lun dan murid-murid perguruan lainnya.


Bahkan ketika terjadi pergolakan ia ikut pula menentang gelombang orang Mongol dan membawa semua muridnya untuk melakukan perlawanan bersama para pejuang lainnya. Akan tetapi setelah melihat betapa kekuasaan Mongol makin kuat, ia lalu membalik.


Dulu dia yang selalu dihina di perguruan Kun lun, sekarang kembali ia merasa dihina oleh cucu musuh besarnya itu bersama tunangannya.


"Seret mereka keluar! Ikat pada tonggak di tengah lapangan! Biarkan mereka kepanasan dan kehausan. Kalau masih berkepala batu, kita seret ke kota raja sebagai tawanan !" perintah Gwat Kong pada anak buahnya, lalu melangkah keluar dari pondok dengan wajah pucat pasi.


Para murid perguruan Kim hong yang kini kesemuanya telah menjadi kaki tangan pemerintah Mongol itu kemudian menangkap Xiao Yu dan Siok Lan yang tidak berani melakukan perlawanan.


Dua orang muda ini lalu diikat pada tonggak yang berdiri di sebuah lapangan luas yang pohon pohonnya telah ditebang semua. Tempat itu terbuka dan matahari dapat menimpa tempat itu sepenuhnya, Yu Lee dan Siok Lau diikat pada tonggak yang membelakangi Hati mereka girang karena dengan demikian jari jari tangan mereka dapat saling sentuh dan selama mereka itu berdekatan, hati mereka besar.


Kemudian mereka ditinggalkan serta diawasi dari jauh. Anak buah perguruan Kim hong maklum akan kehebatan racun yang dibuat oleh Gwat Kong yang sekali memasuki tubuh lawan, hanya guru mereka saja yang mempunyai penawarnya.


Andaikata dua orang itu terbebas sekalipun dari mereka, tetap saja keduanya takkan terbebas dari maut.


Xiao Yu yang pada lahirnya tetap tenang itu, menekan perasaannya ia terharu dan merasa kasihan kepada kekasihnya. Masih begitu muda, begitu gagah dan tampan ini agaknya memang tiada harapan lagi.


"Jangan hilang harapan selama kita masih hidup, kakak Lan. Memang racun buatan Gwat Kong sangat hebat sekali. Akan tetapi, belum tentu tidak dapat disembuhkan. Kau tenang saja, biarpun kita tidak boleh mengerahkan tenaga dalam, agaknya dengan tenaga luar aku dapat melepaskan belenggu tangan kita. Akan tetapi, mereka tentu


mengintai dan menjaga, maka kita tunggu sampai malam nanti." balas bisik Xiao Yu.


Hari itu penderitaan kedua orang muda ini amat hebat, dengan menghadapi panas teriknya matahari dan sejak mereka terjerumus ruang tahanan bawah tanah malam tadi, mereka merasa amat lelah, lapar dan haus.


Kelelahan dan kelaparan masih dapat mereka tahan akan tetapi rasa haus sangat menyiksa. Leher terasa kering mencekik, mulut kering dan napas mereka serak.


"Yu'er....!" panggil Siok Lan dengan lirih.

__ADS_1


"Hmm....." suara Xiao Yu dengan lemah dan hanya berbisik.


"Apakah kamu lelah dan lapar?" tanya Siok Lan dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya.


"Tidak, kakak Lan. Hanya rasa haus yang setengah mati !" balas Xiao yu lirih.


"Sama, aku juga haus. Akan tetapi kita harus bersabar. Eh, baru kemarin aku mendapatkan sebuah nanas yang masamnya bukan main karena lapar ku makan buah itu. Wah, seluruh urat dalam mulutku sampai kaku karena masamnya. Tahukah kakak lan buah yang lebih masam dari pada buah nanas yang aku dapatkan kemarin?" tanya Xiao Yu, yang berusaha mencairkan suasana.


"Buah Apel, Mangga, ah sepertinya markisa yang lebih masam!" jawab Siok Lan yang mencoba mengingat segala buah yang rasanya masam.


"Terus apa lagi?" tanya Xiao Yu.


"Yu'er, bagaimana sih kamu ini! Dalam keadaan begini masih membicarakan buah yang rasanya masam! eh tunggu, mendadak mulutku menjadi basah mengingat buah-buah masam itu!" jawab Siok Lan mengecap-ngecap mulutnya dan menelan ludah sendiri sehingga kerongkongannya tidak sekering tadi.


Kini pahamlah Siok Lan dengan maksud dari tunangannya itu. Dengan mengingat buah masam timbul air liur yang membasahi mulut dan biarpun hal ini bukan merupakan pertolongan besar, namun sedikitnya mencegah mulut dan kerongkongan menjadi kering.


Pada sore hari, Gwat Kong datang membawa secawan besar air jernih.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2