Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Xiao Yu Si Pendekar Tanpa Gelar


__ADS_3

Teringat akan hal itu tak dapat ditahan lagi, air mata Xiao Yu. Bercucuran ketika ia berdiri di depan gundukan tanah kuburan.


Setibanya di luar ia disambut bocah tua nakal dengan tawanya yang khas.


"Eh, Biksu Gila! Kenapa kalian berwajah muram? ha...ha...!" seru Kwe Cheng.


"Ahh, saudaraku alangkah inginnya hatiku bisa segembira kau ini. Di dunia banyak hal hal yang menyusahkan hati Di manakah keberadaan Xiao Yu saat ini?" ucap dan tanya biksu Ji yang menatap sahabatnya dengan rasa ingin tahunya.


Dua orang pemuda murid Biksu Ji yang kini sudah mwngembara dari tempat terpisah dan makin menjauh itu.


Sementara Yang Tek dan Gui Siong dua orang gadis murid Kwe cheng, merasa amat kagum terhadap Xiao Yu, dan mereka hanya saling pandang dan berjanji dalam hati untuk mencontoh sepak terjang Xiao Yu dan memperdalam kepandaian silat mereka.


"Biksu Gila, aku akan membebaskan murid-muridku untuk memasuki dunia ramai dan mendarma baktikan kepandaian mereka guna masyarakat. Aku telah bebas, ha....ha...ha...!" seru Kwe Cheng dengan tawa khasnya.


"Dan bagaimana dengan kau, sahabatku?" lanjut tanya Bocah tua nakal itu pada Biksu Ji.


"Amitabha...! saya juga melepas pergi kedua murid muridku, Han wen akan ikut adik seperguruannya yang mempunyai orang tua di An keng. Sedangkan aku akan pergi ke gunung." Jawab biksu Ji.


"Bagus! Mari ikut bersamaku, biksu Gila! Mari kita lupakan segala kedukaan hidup. Di sana kita dapat main catur, kita salurkan semua nafsu-nafsu duniawi melalui papan catur! Kalau perlu kita boleh membunuh Raja di papan catur, boleh bertaruh tanpa merugikan orang lain. Ha ..ha...ha...!" ajak Kwe Cheng.


"Baiklah sahabat, dan saya akan belajar gembira dari sahabatku si bocah tua nakal. Ha .ha...!" balas Biksu Ji yang ikut tertawa.


Dua orang tua yang saling bersahabat itu sambil bergandeng tangan lalu meninggalkan tempat itu pula, tanpa menoleh lagi kepada murid mereka Yang Tek dan dan Gui Siong kini melangkahkan kaki mengikuti arah langkah Han Wen dan Tan Li yang beberapa menit telah meninggalkan mereka.


Tak berapa lama kedua gadis itu dapat menyusul Han Wen dan juga Tan Li.


"Tunggu saudara-saudaraku!" seru Yang Tek dan dan Gui Siong yang hampir bersamaan.


Dua orang pemuda itu Han Wen dan Tan Li, menoleh dan dengan sikap sopan lalu memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada yang dibalas oleh dua orang gadis itu dengan sopan pula.

__ADS_1


"Apa yang bisa kami bantu saudari-saudariku?" tanya Han Wen dengan ramah.


"Bolehkah kami ikut bersama kalian? ya kita mulai pengembaraan kita bersama-sama!" seru Yang Tek saat sudah berhadapan dengan kedua murid Biksu Ji itu.


"Boleh, bahkan akan semakin ramai nantinya!" seru Han Wen dengan mengulas senyum mereka.


"Terima kasih atas kebaikan kakak berdua, karena guru kita bersahabat tidak akan keliru kiranya apabila kita melanjutkan persahabatan itu. Aku bernama Tan Li tinggal bersama orang tuaku di toko pakaian di dalam kota Ang keng. Dan ini kakak seperguruan ku, sekarang kami hendak ke Ang keng dan apabila saudari-saudariku ikut kami ke Ankeng, maka kami persilakan saudari-saudariku untuk singgah di rumah kami." ucap Tan Li yang menatap satu persatu gadis yang ada dihadapannya.


"Banyak terima kasih atas kemurahan hati saudaraku berdua," jawab pula Yang Tek.


Sekali lagi mereka saling memberi hormat kemudian bersama-sama pergi meninggalkan tempat itu diikuti cerita kekaguman mereka pada Xiao Yu.


"Hei, ngomong-ngomong kita tak tahu julukan untuk pendekar yang bernama Xiao Yu itu ya?"tanya Yang Tek yang tak henti-hentinya melontarkan kekagumannya pada Xiao Yu.


"Sudahlah, panggil saja pendekar Yu saja!" seru Tan Li yang ikut dalam perbincangan mereka seraya terus melangkah.


"Hm...! bagaimana jika Pendekar Yu si pendekar tanpa gelar!" usul Han Wen yang membuat ketiga saudara seperguruannya itu berhenti dan diam memikirkan tentang usul Han wen.


"Iya kami setuju!" seru Yang Tek dan dan Gui Siong yang saling pandang dan saling mengulas senyum mereka.


Dan mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kota Ang Keng.


...***...


Dunia persilatan gempar, baik dari aliran putih (bersih) maupun hitam (sesat) menjadi geger dengan munculnya seorang pendekar wanita muda yang terkenal dengan sebutan Pendekar tanpa Gelar dari julukan yang dibuat oleh Han Wen dan ketiga murid Bocah nakal itu.


Dunia persilatan ikut menyebutnya dengan Pendekar tanpa gelar karena pendekar wanita muda yang ini selalu tak mau menyebutkan nama dan selalu berganti-ganti jurus dalam menghadapi lawannya.


Tangan nya amat ampuh, tongkat maupun pedangnya amat lihai merobohkan lawan-lawan yang kuat, akan tetapi kedua matanya sering bercucuran air mata pada saat menyaksikan mayat-mayat lawan yang roboh di tangannya. Juga ia selalu tidak dapat menahan air matanya kalau mendengar penuturan yang menyedihkan dari mereka yang mohon pertolongannya.

__ADS_1


Di dalam waktu kurang dari setahun saja Pendekar tanpa gelar ini telah membasmi tujuh buah sarang perompak sungai di sepanjang Sungai Yang serta belasan buah sarang perampok di hutan-hutan sekitar aliran sungai Yang.


Semua perbuatan ini dilakukan karena ada sebabnya bukan sekali kali ia mencari sarang penjahat penjahat itu. Kalau tidak dia sendiri yang kebetulan dihadang perampok tentu ada orang orang lain yang menjadi korban kejahatan dan ia kebetulan melihatnya.


Xiao Yu si pendekar tanpa gelar ini tidak pernah lupa dengan kata-kata gurunya, serta tidak mau mencari permusuhan bahkan tidak mengusik para penjahat kalau saja ia tidak melihat kejahatan dilakukan orang.


Kalau dia kebetulan melihatnya, barulah gadis itu turun tangan dan sekali pendekar tanpa gelar itu beraksi maka celakalah gerombolan penjahat itu.


Para tokoh persilatan aliran sesat merasa sakit hati kepadanya sebab kematian kawan-kawan mereka serta saudara-saudara seperguruan mereka dan mereka selalu mencari kesempatan buat membalas dendam serta membunuh Pendekar tanpa gelar itu.


...****...


Sementara itu Xiao Yu menjatuhkan diri berlutut di samping gundukan besar. Biarpun ia sudah berhasil membalas dendam, berhasil membunuh Siauw Bo akan tetapi ia masih merasa menyesal dan berduka karena ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membalas budi orang tuanya tidak diberi ke sempatan untuk berbakti.


Setelah berlutut dan berdoa sampai delapan kali di depan gundukan tanah kuburan itu, barulah Xiao Yu bangkit. Dengan muka pucat dan mata basah dimana ia memandang ke sekelilingnya.


Kiranya tanah kuburan itu kini telah dikurung oleh delapan orang yang tidak diketahui kedatangaanya.


Tiba-tiba mereka telah berada di tanah kuburan itu, berdiri mengurung gundukan tanah kuburan berikut Xiao Yu dengan wajah beringas mengancam seperti iblis iblis sendiri yang datang hendak mengeroyoknya.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2