Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Usaha Yu Tian membebaskan Majikannya ll


__ADS_3

Tanpa disadari, tangannya yang berada di belakang karena lengannya terbelenggu bertemu dengan tangan Yu Tian dan jari-jari tangan itu saling menggenggam erat.


Remasan jari tangan itu menggetar perasaan mereka masing masing mewakili pandangan mata dan kata kata.


"Kau baik sekali Yu Tian, tapi jangan membicarakan hal yang tidak mungkin terjadi, kamu itu laki-laki. Jadi tak mungkin kita bersatu!" bisik Siok Lan dengan suara lirih.


Xiao Yu tersenyum di dalam hati. Ia maklum apa makna kata-kata majikannya ini. Tentu saja tak mungkin pemuda itu menyerahkan hatinya kepada sesama pria, walaupun sakit hatinya.


Beberapa malam ini ia telah berusaha untuk membebaskan Siok Lan, namun usahanya selalu sia-sia belaka biarpun ia berhasil membunuh beberapa orang pengawal.


Xiao Yu tahu bahwa kalau ia nekad hal itu amat tidak baik karena selain penjagaan yang ketat itu sukar sekali dibobol, juga ada kemungkinan pemuda itu dibunuh dari pada lolos.


Karena inilah maka ia mencari akal dan sengaja menyamar sebagai pelayan lagi menyerahkan diri agar ia dapat berdekatan dengan Siok Lan. Kalau sudah berdekatan, tentu kesempatan untuk menolong Siok Lan lebih banyak.


Belenggu yang mengikatnya dengan mudah akan dapat ia patahkan.


Para perajurit yang menduga ia seorang pelayan lemah mengkalnya secara sembarangan saja.


Akan tetapi ia harus menanti saat yang baik. Ia harus terus berlagak bodoh agar para pengawal itu percaya, memandang rendah dan lengah.


Sementara Kota raja masih jauh sehingga ia tidak perlu tergesa gesa.


Sekali usahanya gagal, akan tak mungkin bisa lagi menolong Siok Lan.


Maka ia harus sabar dan hati hati sekali berusaha dapat berhasil.


Karena rombongan sudah hampir tiba di An bun, maka perjalanan dipercepat dan menjelang senja rombongan sudah tiba di luar kota An bun sejauh kurang lebih tiga puluh kilometer dari kota itu.


Hanya tinggal melewati sebuah hutan lagi dan malam hari itu mereka akan tiba di kota yang menjadi markas para penjaga Mongol.


Para prajurit tidak ingin bermalam di dalam hutan, jadi ingin cepat-cepat memasuki kota agar mereka dapat benar benar beristirahat dan bebas dari pada pertanggungan jawab menjaga kedua orang tawanan.

__ADS_1


"Hayo cepat! hari sudah hampir gelap!" seru perwira pemimpin pasukan.


Dan para pasukan itu biarpun sudah lelah terpaksa mempercepat jalannya memasuki hutan yang lebat.


Begitu masuki hutan, biarpun matahari belum tenggelam sepenuhnya, masih mengembang di cakrawala sebelah barat, namun cuaca menjadi gelap oleh lebatnya pohon pohon besar di dalam hutan.


Xiao Yu menggunakan jari tangannya menggenggam tangan Siok Lan sebagai isyarat.


"Dengarkan tuan muda, tapi jangan menoleh agar tidak menimbulkan kecurigaan, saya dapat melepaskan ikatanku." bisik Yu Tian.


"Eh...?" Siok Lan tercengang.


"Karena saya seorang pelayan, mereka tidak mengikat erat erat dan guncangan-guncangan di atas kuda membuat belenggu ini longgar. Saya telah dapat membebaskan tangan dan diam-diam saya akan mencoba untuk melepaskan belenggu di tangan tuan muda." jelas Xiao Yu.


Berdebar jantung Siok Lan. Ia tahu bahwa pelayannya ini biarpun tidak pandai silat namun amat cerdik, maka ia percaya sepenuhnya akan keterangan ini. Hanya ia meragu karena ikatan tangannya luar biasa eratnya.


"Mungkinkah kau membebaskan ikatanku?" tanya Siok Lan yang ragu-ragu karena selain belenggu tangan, juga tubuh mereka diikat.


"Simpul ikatan berada di panggung tuan muda, jari-jari tangan saya dapat menggapainya. Mudah-mudahan berhasil, harap nona bersikap biasa sampai saya berhasil membuka belenggu yang mengikat tangan tuan muda!" jelas Xiao Yu.


Ia merasa betapa jari-jari tangan pelayannya meraba-raba membetot dan menarik narik. Hatinya makin terharu. Tak mungkin ia menganggapnya seperti seorang pelayan biasa. Melainkan lebih tepat sebagai seorang sahabat, seorang biasa seperjalanan, bahkan seorang kawan senasib sependeritaan.


"Tuan muda, bagaimana situasi didepan?" tanya Yu Tian seraya berbisik.


"Jalan sempit dan ku melihat di depan ada hutan di sebelah kanan. Di sebetah kiri curam menurun dan agaknya pinggir sungai." jelas Siok Lan.


"Bagus! Hari hampir gelap, kita menanti kesempatan baik. Di hutan itu tuan muda dapat melarikan diri. Belenggu hampir terlepas"!" bisik Yu Tian perlahan.


"Dan kamu?" tanya Siok Lan berbisik ragu.


"Saya akan berusaha lari pula. Akan tetapi jangan perhatikan saya. Saya akan menggunakan akal memancing perhatian mereka agar tidak memperhatikan tuan muda. Ingat tuan muda, mereka itu mementingkan nona, bukan saya.

__ADS_1


Kalau tidak ada tuan muda di sini, mungkin saya sudah dibebaskan Mau apa mereka menangkap saya?" jelas Yu Tian.


"Tapi... tapi..... bagaimana aku bisa lari meninggalkan kau, Yu Tian? Aku tidak mau selamat sendiri." ucap Siok Lan.


"Ahhh, tuan muda yang mulia, saya hanya seorang pelayan." ucap Yu Tian sembari mengulas senyumnya, hatinya terharu sekali dan penuh kebahagiaan dan untung ia duduk beradu punggung dengan pemuda pujaannya itu, kalau tidak Siok Lan tentu akan melihat dua titik air matanya yang meloncat keluar tanpa dapat ia tahan lagi.


"Husshh, jangan ulangi ucapan separti itu, Yu Tian. Pendeknya, aku bukan seorang yang hanya memikirkan diri sendiri. Kalau aku bebas, engkaupun harus bebas!" seru Siok Lan.


Begitu besarnya hati Yu Tian sehingga ingin rasanya dia pada saat itu dapat merangkul memeluk leher itu, mendekap kepala itu ke dadanya. Akan tetapi ia menahan perasaan cintanya dan berbisik lagi tanpa menoleh sehingga para perajurit yang berada di belakang kuda tidak tahu bahwa dia bercakap-cakap.


Gadis itu kini menggunakan ilmunya sehingga ia berbisik tanpa menggerakkan mulut.


"Nona, harap jangan berpendirian seperti itu. Kalau nona tidak bebas lebih dahulu, bagaimana saya bisa tertolong? Sebentar lagi gelap, nona harus terbebas dan sayapun akan berusaha lari. Andaikata saya gagal tetapi nona sudah bebas, bukankah nona dapat berusaha menolong saya?" jelas Yu Tian.


Siok Lan dapat membenarkan pendapat ini dan Ia menganggukan kepalanya,


"Bagus! Nah, hati-hati jangan sampai kentara. Belenggumu sudah terbuka, tuan muda!" bisik Yu Tian.


Siok Lan menggerak-gerakkan jari tangannya dan benar saja. Tali pengikat kedua pergelangan tangannya sudah terlepas! Ia tidak tahu bahwa Yu Tian mematahkan tali belenggu dengan pengerahan sinkang yang amat kuat itu.


"Pasukan jalan terus, biar malam ini sampai ke An bun !" teriak perwira pemimpin pasukan kepada pasukannya setelah malam mulai tiba.


Pasukan di sebelah depan sudah memasang obor untuk menerangi jalan dan mulailah mereka memasuki hutan kecil di sebelah depan yang berada di sebelah selatan kota An bun, hanya belasan kilometer jauhnya.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2