
Hal itu membuat panglima Guang tak dapat mengeluarkan sedikitpun suara dan akhirnya roboh diatas lantai, kemudian setan kipas merah merampas cambuk milik panglima Guang.
"Panglima Guang kamu hendak bersenang senang dengan menghina ku hah!" seru setan kipas merah yang kemudian mengeluarkan senjata andalannya yang berupa kipas yang berwarna merah.
Perwira pemimpin dari Utara itu hanya bisa diam dan dalam hatinya berkecamuk penasaran.
"Apakah kamu mengenal ini?" tanya Setan kipas merah yang mengeluarkan sebatang kipas yang berwarna merah, yang tadi sengaja dia sembunyikan saat awal menyamar tadi.
"Setan kipas merah!" seru panglima Guang dengan nada geram.
"Oh, baguslah kalau kamu mengenalku! kini aku ingin kamu dapat merasakan penderitaan karena siksaan cambuk kamu ini seperti yang sudah sering kali kamu lakukan kepada tawanan atau para pekerja paksa!" seru setan kipas merah yang tangan sebelah kirinya memegang kipas merah ya dan tangan kananya memegang cambuk kepunyaan panglima Guang.
"Tarr.....tarr....tarr....!"
Setan kipas merah mulai menggunakan cambuk itu dan sasarannya adalah si pemilik cambuk.
"Aaaghh.....! aaaghh....!"
Erangan kesakitan dari panglima Guang yang terus merintih kesakitan.
"Tarr.....tarr....tarr....!"
Kembali setan kipas merah memecitkan cambuk itu dan diarahkan ke tubuh panglima Guan.
Tubuh panglima Giang bergulingan, menggeliat-geliat seperti seekor cacing terkena panas,, akan tetapi karena ia berada dalam keadaan tertotok sehingga kaki tangannya lemas, ia tidak dapat bergerak banyak.
Mulutnya menjerit dan berteriak teriak seperti ayam yang disembelih, akan tetapi tidak ada suara keluar dari lehernya yang tertotok pula.
Tak berapa lama, Setan kipas merah menghentikan gerakan cambuk itu. Terlihatlah bagian kulit tubuh panglima guang yang tersayat, tidak ada yang utuh kembali seolah-olah ia telah dicacah ratusan pedang yang tajam. Ia tidak menyerupai manusia lagi karena kulitnya sudah tersayat dan terkupas habis.
Kemudian setan kipas merah meninggalkan panglima Guang dengan melompat keluar dari dalam ruangan melalui atap rumah.
Terlalu banyak peristiwa mengerikan terjadi dihari itu di markas An bun. Terlalu banyak gadis dan pemuda yang tak berdosa menjadi korban kebiadaban para prajurit yang lebih buas dari pada binatang.
Setan kipas merah seperti ditusuk-tusuk rasanya, saat mendengar ratap tangis dari dalam banyak kamar di markas itu, Hal itu karena dia teringat akan perbuatannya sendiri dahulu, akan dosa-dosanya.
Yang tidak bedanya antara dia denngan prajurit-prajurit itu ketika ia masih sesat dahulu. Karena menyesal timbul kemarahannya yang luar biasa. Ia meyelinap meloncat dan mencari dari atas genteng sampai akhirnya ia berhasil menemukan kamar Panglima Han an Siang.
__ADS_1
Panglima brewrok itu sudah tidur mendengkur dengan di sisinya, dua orang wanita muda terisak-isak menangis perlahan.
Setan kipas merah mengendap-endap di kamar yang terjaga oleh dua orang pengawal, kamar Panglima Han Siang berada di tengah tengah markas.
Tiba-tiba sinar merah berkelebat dan dua kali ujung kipas di tangan setan kipas merah, menusuk menembus kerongkongan dua orang itu sehingga mereka roboh tanpa dapat menjerit lagi, hanya mengeluarkan suara mengorok yang masih kalah kerasnya oleh dengkur Panglima Han Siang dari dalam kamar.
Setan kipas merah mendorong daun pintu dan melompat masuk. Dua orang wanita yang menahan tangis terisak-isak mengangkat muka dan memandang kepada Setan kipas merah dengan wajah sendu.
Setan kipas merah memberi isyarat diam pada kedua gadis itu, kemudian dengan sekali meloncat telah berada di dekat pembaringan.
Sejenak setan kipas merah memandang wajah yang mendengkur itu penuh kebencian.
Kemudian tangan kanan setan kipas merah bergerak dan sinar merah bekelebat menotok tiga jalan darah terpenting.
"Dugh... dugh... dugh....!"
Tubuh yang tinggi besar itu seperti kemasukan setrum bersamaan matanya terbelalak lebar, mulutnya seperti hendak berteriak akan tetapi tidak ada suara keluar dan tubuh nya tidak dapat digerakkan.
Panglima benteng An bun ini terkejut dan penasaran dengan orangnya berani mengganggunya.
"Hai panglima keparat, dosamu telah bertumpuk terhadap rakyat, kini rasakan pembalasan Setan kipas merah atas nama rakyat !" seru setan kipas mereh dengan garangnya.
Panglima Han Siang berusaha mengerahkan tenaganya, tapi ternyata dia tidak mampu membebaskan dirinya dari totokan setan kipas merah yang terkenal aneh itu.
"Ha...ha...ha.....!"
Tawa setan kipas merah meledak saat melihat wajah ketakutan pada panglima itu,
Kemudian tangan setan kipas merah diangkat dan mengcengkeraman tangan kirinya lalu membekap erat tengkuk panglima itu. Lalu tubuh mereka berkelebat dan meloncat keluar dari kamar, setan kipas merah membawa tubuh panglima Han Siang seperti seekor harimau membawa tubuh buruannya.
"Kau tidak boleh mati terlalu enak, dan ini akan menjadi contoh bagi panglima-pqnglima lainnya!" seru setan kipas merah yang kemudian melompat ke atas genteng sambil membawa tubuh tawanannya ke atas tiang bendera yang berdiri di tengah-tengah markas.
Bagaikan seekor burung dara saja tubuhnya melayang kemudian tangan kanannya menyambar pancak tiang dan tangan kiri mengangkat tubuh Panglima Han Siang, diangkatnya ke atas lalu
sekali banting tubuh itu menancap di ujung tiang.
"Aaaarghh....!" terdengar suara keras yang mengerang kesakitan karena kulit perut robek ketika ujang tiang bendera itu amblas memasuki perut Panglima Han Siang.
__ADS_1
Ricuhlah para prajurit dan pasukannya yang mendadak terbangun dari tidur, obor-obor dipasang dan dalam keadaan geger seperti itu, kabar menjadi simpang siur tidak karuan.
Ada yang bilang bahwa para pemberontak menyerbu. Ada yang bilang bahwa markas diserang iblis dan bermacam macam lagi. Akan tetapi ketika semua orang lari keluar dan melihat ke atas, mereka terbelalak karena kaget melihat betapa tubuh panglimanya tertancap di ujung tiang bendera yang begitu tinggi, kaki tangannya bergerak gerak dan dari atas pucak tiang itu melayang turun bayangan putih yang mengeluarkan suara khas melengkungnya.
"Setan kipas merah!" seru beberapa orang prajurit ketika mendengar suara itu dan melihat bayangan itu.
"Tangkap penjahat itu...!"
"Kepung....!"
Makin ributlah keadaan di situ ketika setan kipas merah yang sudah melayang terus menyelinap kemudian jarum-jarumnya ia hamburkan dengan royal sekali.
Setan kipas merah bergerak cepat untuk pergi meninggalkan tempat itu, karena keadaannya sangat berbahaya sekali.
Tak mungkin ia seorang diri melawan ratusan bahkan seribu lebih pasukan di dalam benteng. Kemudian setan kipas merah menyelinap dan menggunakan kesempatan selagi keadaan kacau balau.
Beberapa saat kemudian setan kipas merah berhasil menerobos keluar melalui pintu gerbang kecil sebelah kiri, membunuh lima orang penjaga nya.
Pada saat pasukan menyerbu ke situ bayangan setan kipas merah sudah tak tampak lagi, ditelan kegelapan hutan hutan di luar tembok benteng.
***
Sementara itu di dalam hutan, pasukan pejuang ini sudah harus bertempur lagi melawan lima puluh orang penjaga yang melakukan perondaan di pegunungan yang menjadi tempat persembunyian mereka.
Ketika pasukan Mongol ini tiba di dekat telaga, tiba-tiba mereka disergap oleh para pejuang dan terjadilah lagi perang yang amat seru dan hebat.
Keadaan pasukan Mongol itu masih segar dan pasukan itu pun merupakan pasukan pengawal pilihan dipimpin oleh beberapa orang panglima Mongol yang berilmu tinggi.
Sebaliknya para pejuang sudah amat lelah, semalam suntuk melakukan perjalanan sehabis berperang mati-matian.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...