
Akhirnya Siok yang mencurahkan kegemasan dan kelelahannya dengan bersandar di bawah pohon, perlahan angin meniup pelupuk matanya dan dia pun tidur nyenyak
Beberapa saat kemudian Siok Lan menggeliat setelah mengejap-ngejapkan matanya. Perutnya terasa lapar sekali dan ketika ia membuka mata, ia menggunakan tangan menutupi matanya yang menjadi silau oleh sinar matahari yang menembus celah-celah daun pohon.
Kiranya matahari telah naik tinggi! Tiba tiba ia teringat akan si bayangan putih yang dikejarnya. Matanya mendadak menjadi beringas dan bergerak-gerak! Kedua biji matanya mencari-cari ke kanan kiri. Ketika ia melihat seorang laki laki berpakai putih duduk tak jauh dari tempat ia rebah secepat kilat ia meloncat bangun sambil mencabut pedangnya dan menodongkan pedang kepada orang itu.
"Eh..... eh....tuan muda... mau apa ini! seru laki-laki yang memakai pakaian serba putih itu.
Siok Lan membelalakkan mata dan tangan yang memegang pedang menjadi terkulai, pedangnya cepat disarungkan kembali dan ia lalu duduk menghadapi orang itu dengan alis berkerut dan pandang mata penuh tanya.
"Yu Tian! pergi ke mana saja kamu selama ini?"
Yu Tian atau Xiao Yu tersenyum. Alangkah rindunya Xiao Yu selama ini kepada Siok Lan. Rindu yang ditahan-tahannya karena ketika ia menjadi Pendekar tanpa gelar, tentu saja ia tidak mau menemui pemuda yang ada dihadapannya dengan wujud pendekar tanpa gelar yang seorang gadis, dan sekarang ini dia menyamar menjadi seorang laki-laki.
Sebelumnya ketika di dalam hutan, sering kali jika laki-laki dihadapannya ini sudah tertidur pulas, barulah Yu Tian diam-diam berani memandang laki-lakinyang dicintainya itu simpai berjam-jam tanpa mengenal bosan.
Sekarang begitu berjumpa, laki-laki itu sudah menegurnya dengan galak, dan justru watak inilah yang membuat Yu Tian semakin terpesona dengan pribadi Siok Lan.
"Maafkan saya, tuan muda. Karena selalu terjadi pertempuran, maka nona Xiao melarang saya untuk keluar dari tempat persembunyian. Beliau khawatir kalau saya celaka, harap tuan muda Xiao sudi memaafkan saya. Dan sekarang setelah pertempuran mereda, baru saya berani keluar" jelas Yu Tian dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Hemmm, agaknya kau lebih senang bersama nona majikanmu itu daripada bersama aku, ya?" tanya Siok Lan dengan senyum miringnya.
"Ah, mana bisa begitu! Tuan muda tentu lebih rindu...eh, betapa inginnya hati saya untuk bersama dengan Tuan muda." jawab Yu Tian dengan gelagapan.
Melihat sikap pelayannya seperti itu, kemarahan Siok Lan mencair.
"Eh, bagaimana dengan luka di dadamu? Sudah sembuhkah?" tanya Siok Lan yang memperlihatkan perhatian terhadap dirinya ini membuat Yu Tian girang dan terharu.
"Eh, Sudah-sudah sembuh tuan muda." jawab Yu Tian dengan mengulas senyumnya.
"Betulkah? Coba kulihat sebentar, takut kalau kalau masih ada bekasnya!" seru Siok Lan yang tangannya hendak membuka pakaian Yu Tian.
"Eh, ja...jangan tuan. Ma'af tidak usah dilihat, karena memang benar sudah sembuh." ucap Yu Tian yang kembali gelagapan.
__ADS_1
"Apa benar, sudah sembuh? atau jangan-jangan kamu memang seorang gadis ya Yu Tian! ha...ha...ha...!" seru Siok Lan yang menggoda pelayannya itu.
"I..iya benar tuan muda! benar sudah sembuh.Tuan muda jangan khawatirkan saya, sayakan pelayan yang kuat!" balas Yu Tian dengan mengulas senyumnya.
"Hm, sudah sembuh ya? Syukurlah." ucap Siok Lan yang belum merasa ada kelegaan di hatinya.
"Bagaimana Tuan muda sampai di tempat ini? Tempat ini adalah tempat persembunyian saya dan jauh dari hutan di mana teman seperjuangan tuan muda tinggal?" tanya Yu atian yang pura-pura tak tahu.
Tiba-tiba saja Siok Lan seperti diingatkan akan Pendekar tanpa gelar dan matanya berubah beringas.
"Di mana dia?" tanya Siok Lan seraya celingukan ke kanan dan ke kiri.
"Eh, siapa maksud tuan muda?" tanya Yu Tian yang masih pura-pura tak tahu.
"Siapa lagi kalau bukan nona majikan kamu itu, Pendekar tanpa gelar seorang gadis yang sombong dan pengecut itu! Tadi aku mengejarnya dan ia lenyap di hutan ini. Hayo katakan Yu Tian dimanakah dia!" seru Siok Lan yang menatap Yu Tian dengan tajam.
Yu Lee menghela napas panjang, kemudian berkata, "
"Kenapa tuan muda demikian membenci nona Xiao Yu? Apakah nona tidak dapat memaafkannya?
Siok Lan memandang wajah pelayannya yang memandang kepadanya penuh permohonan, penuh rasa cinta. Dan tiba-tiba warna merah menyelimuti muka gadis ini dan ia tidak dapat menahan lagi tatapa kedua mata mereka.
"Tuan muda Siok Lan sudilah kiranya tuan muda mengampuni
nona Xiao Yu?" tanya Yu Tian sekali lagi.
Siok Lan mengangkat muka sehingga kembali pandangan mereka saling bertemu, bertaut dan saling melekat sampai lama, kemudian Siok Lan mengeras hatinya, menggeleng kepala.
"Tidak ! Aku harus membunuhnya!" seru Siok Lan geram.
"Tuan muda? dia perempuan anda laki-laki!" balas seru Yu Tian yang geregetan.
"Yu Tian, tidak mengertikah kamu! Aku harus membunuhnya, karena kalau tidak...bagaimana aku dapat.."
__ADS_1
"Apa maksudnya tuan muda, tolong jelaskan lah!" seru Yu Tian yang pura-pura tidak tahu
Beratlah rasanya lidah pemuda itu untuk menerangkan dengan kata-kata. Karena jengah dan malu, Siok Lan mengalihkan pandang mata ke atas tiba-tiba wajahnya berubah pucat.
"Ah, kakek! berada dalam bahaya dan perlu bantuan !" seru Siok Lan.
Yu Tian sangatlah terkejut dan menengok ke belakang ke arah langit dan ia masih sempat melihat meluncurnya panah api yang berwarna merah.
"Yu Tian! aku harus membantunya !" seru Siok Lan sudah meloncat dan lari.
"Tuan muda! tunggu saya!" seru Yu Tian yang terus mengejar Siok Lan.
"Kau boleh menyusul aku. Aku harus cepat cepat menolong Kau ikuti saja jurusan ini" Siok Lan menunjuk ke depan ke arah meluncurnya anak panah tadi tanpa mengendurkan larinya.
...****...
Malam hari itu, para pejuang yang sudah lama tidak bertempur dan menganggap bahwa keadaan mulai berangsur baik setelah markas An bun dipimpin oleh panglimanya yang baru, yaitu Thian Sung. Agak jengah dan sebagian besar tidur nyenyak.
Mungkin hanya ada lima orang saja di antara para pejuang yang pada malam hari itu tidak tidur sama sekali, tenggelam dalam perasaan hati masing masing. Mereka ini tentu saja adalah Yang Tek yang sedang bercengkrama dengan Han wen, Gui Siong dengan Tan Li.
Sementara itu setan kipas merah duduk termenung seorang diri, kadang-kadang menghela kadang terisak perlahan menangisi nasibnya.
Matahari telah naik tinggi ketika pada keesokan harinya para pejuang ini mulai dengan kesibukan masing-masing. Ada yang mandi atau mencuci muka di sungai, ada yang membuat api untuk memasak air, nasi dan lain lain, ada yang mencuci pakaian.
Mereka sama sekali tidak ada yang tahu bahwa menjelang pagi tadi pasukan besar telah bergerak dengan rahasia,
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...