
Siok Lan dengan amat tajam memandang daging disumpit lawan, kemudian sumpitnya sendiri bergerak, dibarengi bentakannya keras
"Lepaskan...!" seru Siok Lan dengan menggunakan sumpitnya untuk nenggempur sumpit lawan.
"Ha...ha...! Dengan jurus-jurus yang lihai saja masih belum mampu merampas daging nya, apalagi dengan cara kasar seperti ini, hanya menggempur sumpit beradu sumpit, menggunakan tenaga. Mana mungkin berhasil!" seru Bhok An seraya tertawa dan hendak mengerahkan tenaga dalamnya saat menerima benturan sumpit lawan.
Akan tetapi mulutnya yang menyeringai tertawa itu berubah mengeluarkan seruan kaget ketika tiba-tiba meja tergetar dan sikunya menjadi lumpuh, tangannya menggigil dan ketika benturan tiba, ia tidak mampu mempertahankan lagi sumpitnya yang runtuh terlepas dari jari-jari tangannya.
Ketika Bhok An tersadar bahwa pemuda itu menyerangnya melalui meja dengan tangan kiri yang menggunakan tenaga dalam menggempur siku nya, ternyata telah terlambat.
Daging yang jatuh dari sumpitnya telah disambar oleh sumpit Siok Lan yang tersenyum-senyum sambil mengangkat daging itu tinggi-tinggi agar tampak oleh semua orang.
Sorak-sorai menyambut kemenangan Siok Lan ini didahului oleh Xiao Yu yang tadi diam-diam membantu nonanya dengan menggetarkan tangan pada meja.
Andai saja Xiao Yu tak membantu, agaknya belum tentu Siok Lan berhasil karena menyerang siku lawan melalui meja yang digetarkan tenaga dalam yang membutuhkan tenaga yang kuat sekali.
"Tuan muda sungguh cerdik, saya mengaku kalah!" kata Bhok An yang segera mengundurkan diri.
Pada saat itu terdengar suara mendengus disusul kata-kata yang nadanya mengejek. Suara ini datangnya dari meja sebelah kiri meja Siok Lan, suara seorang wanita yang terdengar lantang karena pada saat itu semua orang sudah diam kembali.
"Huh, permainan macam itu saja apa sih anehnya? Anak kecilpun bisa!" seru suara wanita itu.
Tentu saja suara yang terdengar pada saat semua tamu berdiam dan keadaan menjadi sunyi ini. Terdengar jelas dan amat menarik perhatian.
Semua mata menengok dan karena wanita yang bicara itu duduk di meja sebelah kirinya, Siok Lan hanya mengerling dan memandang dari sudut matanya.
__ADS_1
Tidak seperti Xiao Yu dan A bo yang langsung menoleh dan memandang penuh selidik.
Dia adalah seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun, mukanya dirusak oleh bekas luka yang sukar dihilangkan. Tubuhnya agak gemuk, akan tetapi
pinggangnya sengaja diikat dengan ikat pinggang amat eratnya agar kelihatan ramping.
Ketika melihat bahwa semua mata, termasuk mata kedua tuan rumah memandang wanita itu, kemudian tersenyum lebar sehingga tampak deretan gigi nya yang putih dan rata.
Dengan gerakan yang jelas ia lakukan agar tampak oleh semua orang, ia menggerakkan sumpitnya, memasukkan sepasang sumpit ke dalam mangkok dan ketika ia mengambil sumpitnya diujung masing masing sumpit sudah tertusuk sebuah bakso ikan yang bundar dan putih. Kemudian sekali ia menggetarkan tangan dua buah bakso itu melayang naik ke atas dan tepat sekali memukul potongan gigi garpu yang tadi ditiup menancap oleh Siok Lan di tiang yang melintang di bawah atap.
Semua orang jadi terbelalak kaget dan kagum karena dua buah bakso itu menghantam potongan
garpu dengan keras sekaji dan
ketika melayang turun ternyata potongan garpu itu sudah terbawa turun menancap pada dua buah bakso.
Siok Lan biarpun kelihatan tersenyum dan tidak mengacuhkan, namun sesungguhnya iapun terkejut sekali. Sebagai seorang ahli yang sudah tergembleng sejak kecil, iapun bukan tidak tahu bahwa wanita itu amat tinggi kepandaiannya dan dia sendiri tidak akan mampu melakukan demonstrasi yang diperlihatan wanita itu tadi.
Akan tetapi tentu saja ia tidak merasa gentar seujung rambutpun. Ia masih duduk tidak peduli dan melanjutkan makan minum.
Kesunyian yang menyusul perbuatan
demonstrasi wanita itu dipecahkan oleh suara ketawa Cu Lin. Perbuatan tamunya yang menjadi sahabat baiknya ini sedikit banyak telah membantu pihak tuan rumah menebus "kekalahan"
dalam demonstrasi mereka tadi melawan Siok Lan.
__ADS_1
"Ha...ha.... Sungguh nyonya Cui amat hebat, makin lama makin lihai saja membuat kami takluk dan kagum. Akan tetapi, agaknya pertunjukan pertunjukan para tamu yang terhormat dan gagah perkasa seharusnya dilakukan menurut urutan yang rapi dan tidak kacau balau. Kita semua tahu bahwa pertemuan ini di samping membicarakan tentang siasat-siasat dan rencana rencana pekerjaan kita menentang kaum penjajah, juga diadakan pertemuan saling mempererat persahabatan dan saling menambah ilmu pengetahuan serta saling mengisi dan menuntun agar kita makin kuat menghadapi musuh rakyat!" ucap pembawa acara yang ditunjuk oleh perkumpulan mereka.
Para tamu menyambut kata kata ini dengan menganggukan kepala, malah ada diantara mereka yang sudah terlalu banyak minum, saking gembira sebab akan menyaksikan demonstrasi demonstrasi ilmu silat linggi, sudah bersorak dan bertepuk tangan.
Kiok Soe, orang ke dua dari Huang ho yang tadi mersa mendongkol ke pada dua orang murid Kim hong karena mereka berdua itu seolah olah berpihak dan bersikap ramah kepada Siok Lan, dan kini bangkit berdiri dan mengangkat kedua lengan ke atas sebagai tanda agar para tamu tidak berisik karena ia mau bicara.
"Saudara-saudari sekalian! Dalam pertemuan hari ini, kami mendapat kesempatan untuk memperkenalkan sahabat-sahabat seperjuangan yang baru. Biarpun belum lama, baru beberapa pekan menggabungkan diri dengan kita, namun nama Kim hong sudah cukup terkenal di dunia perilatan. Saat ini diantara kita yang hadir terdapat dua orang murid Kim hong yang menjadi teman seperjuangan bahkan menjadi murid murid terkasih dari Biksu Gwat Kong sendiri. Kim hong sesungguhnya adalah sebuah ranting dari Kun lun yang besar, karena Biksu Gwat Kong adalah seorang anak murid Kun lun yang telah mendirikan partai persilatan tersendiri. Nah kami perkenalkan Pui Tiong dan Can Bwee dari Kim hong!" seru si muka tikus.
Sejak si muka tikus angkat bicara Pui Tiong dan Can Bwee sudah saling pandang.
"Harap tuan muda Siok hati hati wanita itu adalah Cui Hwa atau yang disebut nona Cui, ilmu kepandaiannya tinggi sekali." Bisik Pui Tiong.
Diam diam Siok Lan terkejut, pernah kakeknya menyebut nama Cui Hwa ini sebagai seorang tokoh perilatan yang terkenal. Kini mendengar keta kata si muka tikus ia tahu bahwa dua orang murid Kim hong yang amat baik terhadapnya ini dikutik kutik maka ia mendengarkan penuh perhatian. Iapun tahu bahwa Kim hong masih merupakan partai sesumber dengan dia, karena benar seperti dikatakan si muka tikus tadi, dahulu biksu Gwat Kong adalah seorang anak murid Kun lun yang melakukan "pelanggaran" sehingga diusir dari Kua lun yang kemudian membentuk sebuah partai persilatan sendiri.
Maka ia tadi tidak heran menyaksikan betapa dua orang itu bersikap baik terhadap dirinya.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...