Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Menuju ke Sungai Huang Ho


__ADS_3

Dengan penuh semangat, tanpa Siok Lan sadari bahwa pemuda itu telah menceritakan riwayatnya kepada pelayannya,


"Guruku adalah kakekku sendiri yang bernama Siok Lee dan yang terkenal dengan julukan Pedang Sakti Bumi Langit." ucap Siok Lan.


"Wah, seorang jago pedang seperti mendiang tuan Xiao Chen!'' seru Xiao Yu yang penasaran.


"Memang Kakekku seorang jago pedang yang ternama sekali di wilayah Lembah sungai Kuning. Kakekku di wilayah Lembah sungai kuning dan majikanmu Xiao Chen di Lembah Seribu pedang, mereka seperti sepasang bintang di utara dan di selatan sama cemerlang dan kalau mau diadakan pertandingan sungguh susah dikatakan. Mereka menjadi sahabat baik, sahabat seperjuangan menentang penjajah kala itu. Sejak kecil aku dilatih ayah sendiri yang bernama Siok Swie dan kini masih tinggal di Lembah sungai Kuning, akan tetapi selama lima tahun terakhir ini aku dilatih sendiri oleh kakekku yang menurunkan jurus andalannya kepadaku seorang." ucap pemuda Siok Lan dengan bangganya.


"Wah, pantas saja tuan muda begitu pandai dan gesit disetiap gerakannya!" seru Xiao Yu yang tentu saja membuat Siok Lan semakin berseri wajahnya.


Biarpun yang memujinya hanyalah seorang pelayan namun bukanlah sembarang pelayan, melainkan bekas pelayan pendekar pedang Naga.


"Kalau tidak lihai, masak dunia persilatan menyebutku sebagai si Bayangan Dewa! Sebaliknya bekas majikanmu itu, biarpun menjadi pendekar, disebut Pendekar tanpa gelar! Uh memalukan sekali, ingin kucoba sampai di mana sih kepandaiannya karena dia begitu sombong!" seru Siok Lan dengan keyakinannya yang bisa mengalahkan Si Pendekar tanpa gelar itu.


Diam-diam Xiao Yu merasa penasaran sekali. Karena Xiao Yu sudah dua kali mengatakan bahwa Pendekar tanpa gelar itu sombong.


"Tuan muda, maafkan pertanyaanku. Kenapa Tuan muda seperti sangat membenci Pendekar tanpa Gelar? Apakah kesalahannya terhadap tuan muda, padahal diantara Nona Xiao Yu dan tuan muda Siok Lan, tidak pernah ada hubungan bahkan tak pernah saling jumpa!" seru Xiao Yu yang sangat penasaran.


"Apakah kamu mau berpihak kepadanya?" tanya Siok Lan yang sangat penasaran juga.


"Wah, tidak sama sekali tuan muda, Hanya ingin tahu saja." ucap Xiao Yu yang berusaha menutupi rasa penasarannya.


"Hemm, kau pelayan tahu apa. Dia telah telah menghina keluargaku tidak mamandang sebelah mata. Ia sombong!" seru Siok Lan yang nampak geram.


Xiao Yu semakin penasaran, akan tetapi tidak berani mendesak bertanya. Sementara itu Siok Lan juga sadar kini bahwa ia telah bicara terlalu banyak dengan pelayannya ini, sehingga ia telah menuturkan keadaan dirinya.

__ADS_1


Hal ini menimbulkan kejengkelannya dan ia menghardik, "Kau cerewet benar sih! Hayo jalan lebih cepat. Perutku sudah lapar dan hari sudah hampir gelap, itu di depan ada dusun, kita berhenti dan makan di sana. Mudah-mudahan saja ada yang jualan kuda, aku akan membeli seekor kuda untukmu agar perjalanan kita dapat lebih cepat lagi." ucap Siok Lan yang mengalihkan pembicaraannya.


"Saya rasa tidak perlu membeli kuda, tuan muda. Bahkan kuda ini pun dalam waktu tiga hari lagi, lebih baik dijual saja!" seru Xiao Yu seraya menepuk leher kuda yang ditunggangi Siok Lan.


"Eh, kau bilang apa tadi!" seru Siok Lan sembari mengangkat cambuknya dan mengancam hendak memukul pelayannya.


"Wah-wah, jangan pukul tuan muda! Maksud saya baik, harap tuan muda dengarkan dengan sabar. Kita menuju ke kota raja, bukan?" ucap dan tanya Xiao Yu yang membuat Siok Lan menurunkan emosinya.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Siok Lan yang menatap Xiao Yu dengan rasa penasaran.


"Apakah tuan muda pernah pergi ke kota raja?" tanya Xiao Yu yang menatap Siok Lan dengan tajam.


Siok Lan yang sudah tidak marah, hanya menggelengkan kepalanya.


"Hem aku bukan mau pesiar denganmu!" seru Siok Lan dengan geram.


"Bukan berpesiar, tetapi mencari Pendekar tanpa Gelar dan perjalanan itu jauh lebih cepat serta tidak melelahkan. Hanya sayang perjalanan melalui Sungai Huang ho ini penuh bahaya maut!" jelas Xiao Yu.


"Bahaya apa?" tanya Siok Lan yang penasaran.


"Pelayaran melalui Sungai Huang ho penuh dengan bahaya serbuan para perompak sungai yang tak pandang bulu. Apa lagi pada saat ini pemerintah sedang membangun terusan Sungai Huang ho sampai ke kota raja, maka kabarnya keadaan makin tidak aman. Laki laki muda yang lewat suka diculik oleh para serdadu dan dipaksa bekerja di terusan itu sampai mati.


Wanita wanita muda jaga diculik untuk para perwira pasukan yang menjaga pekerjaan terusan itu. Sebetulnya saya tidak berani melakukan perjalanan lewat di situ, hanya mengandalkan kelihaian pedang tuan muda. Akan tetapi kalau tuan muda juga merasa takut, lebih baik...." ucap Xiao Yu yang tak melanjutkan ucapannya.


"Apa?" Aku..... takut.......?Jangan sok tahu kau, ya! Kaulihat saja nanti, kubasmi semua penjahat yang menghalang di jalan. Biarlah mereka tahu bahwa si Bayangan dewa tak boleh dibuat main-main dan jalan menuju ke kota raja akan menjadi bersih daripada pangguan penjahat setelah aku lewat. Jadi kita jalan melalui Sungai Huang ho!" seru Siok Lan dengan semangat.

__ADS_1


"Dan kuda ini akan dijual nanti di kota Kaifeng ya tuan muda?" tanya Xiao Yu yang menatap Siok Lan.


"Iya!" jawab Siok Lan dengan mantap.


Kemudian Xiao Yu menuntun kuda itu serta melanjutkan perjalanan menuju ke dusun yang nampak sudah terlihat di depan mata itu.


Siok Lan melihat apa yang dikatakan Xiao Yu padanya, perihal penggalian terusan itu memang benar bukan sekedar cuma pancingan belaka agar si nona mau melanjutkan perjalanan melalui Sungai Huang ho.


Karena pada waktu itu, Kaisar Kubilai Khan yang memerintah kerajaan Goan, melihat perlunya diadakan perhubungan yang baik sekali ke selatan demi lancarnya pengiriman barang terutama bahan makanan. Bahan makanan terutama beras terdapat banyak sekali di lembah Sungai Yang, maka untuk melancarkan pengangkutan bahan makanan ke kota raja, kaisar memerintahkan untuk menggali terusan dari Sungai Huang ho ke kota raja.


Terusan antara Yang dengan Huang ho memang sudah ada, yaitu peninggalan dari jaman kerajaan Sui dan Sung dahulu. Seperti saat diadakan penggalian terusan di jaman Sui dan Sung itu kini kerajaan Goan, apalagi sebagai kerajaan penjajah, rakyatlah yang menjadi korban.


Buat pekerjaan menggali terusan sampai ke kota, raja memerlukan banyak sekali tenaga manusia. Dan buat memenuhi kebutuhan itu para petugas serta pembesar, demi melaksanakan perintah kaisar melakukan paksaan kepada rakyatnya.


...NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2