
"Kakek, tiga orang kakek itu takkan menang, kenapa kakek tidak membantu mereka?" tanya Siok Lee dengan berbisik.
"Ha...ha...ha...! Tepat sekali desakan cucumu, Siok Lee. Ayo kamu maju dan bantulah. Dan kamu juga setan kipas merah!" seru Tek Hin dengan sombongnya.
Siok Lan terkejut, karena dia merasa kalau bicara berbisik kepada kakeknya, dan panglima itu sedang bertempur dikeroyok tiga orang kakek lihai, namun masih dapat mendengar dan menjawab. Sungguh hebat panglima tua itu.
"Aku tidak akan melakukan pengeroyokan Siok Lan." ucap Siok Lee.
"Apakah kakek sanggup
menandinginya?" tanya Siok Lan yang penasaran.
"Sukar memenangkan dia, akan tetapi aku tidak takut. Kalau semua teman kalah, biarlah kuserahkan selembar nyawa dan tubuh tua ini." jawab Siok Lee yang tentu saja membuat Siok Lan terharu.
"Kakek, jangan begitu." ucap Siok Lan lirih.
"Sttt.....! mati hidup bukan apa-apa lagi bagi seorang tua bangka seperti aku. Akan tetapi berbeda lagi dengan kamu, maka janganlah kami sembrono. Apakah kau sudah bertemu dengan dia?" tanya Siok Lee yang penasaran.
"Siapa, kek?" tanya Siok Lan yang pura-pura tidak tahu.
"Siapa lagi kalau bukan Xiao Yu, kau pergi mencari dia bukan?" tanya Siok Lee yang menatap cucunya dengan penasaran.
Siok Lan tidak menjawab, wajahnya memerah dan dia menggelengkan kepalanya dengan perlahan-lahan.
Siok Lee tidak bertanya lagi, juga Siok Lan lupa akan Yu Tian ketika melihat betapa pertandingan sudah mencapai puncaknya. Baru kurang lebih tiga puluh jurus berlangsung, akan tetapi keadaan tiga orang kakek itu sudah payah.
Mereka kini terus terhimpit dan tertekan oleh sinar pedang Panglima Thian Sung yang makin lama makin lebar gulungan sinarnya.
"Pengkhianat keji biar kau rasakan pedang-ku!" teriak Cui Hwa yang agaknya tidak dapat menahan kemarahan hatinya lagi.
Wanita itubsudah meloncat ke depan membuat Siok Lee dan setan kipas merah terkejut, hendak mencegah namun terlambat.
Terdengar jerit mengerikan ketika terdengar suara kerincingan dan seperti keadaan tiga orang Hoang ho tadi, tubuh Cui Hwa roboh berkelojotan, sebatang senjata lempar yang telah dilumuri racun itu menancap di antara kedua matanya dan ia tewas tak lama kemudian.
Sambil tertawa Thian Sung mempercepat gerakan pedangnya dan Ang Han berseru perlahan, terhuyung ke belakang dan lengan kirinya sebatas liku terlepas dan jatuh ke atas tanah.
"Aaarrgh....!"
__ADS_1
Lengan Ang Han telah terbabat oleh pedang Thian Sung.
Melihat hal itu ketua Ang Kai yang tak terima saudaranya terluka, menubruk maju dengan nekat dan pedangnya bergerak dengan cepat sekali.
Thian Sung mundur dan menangkis, tangan kirinya kembali diayun dan tiga batang senjata lempar yang berlumuran darah itu, menancap di antara mata leher dan ulu hati ketua pengemis itu yang kemudian roboh tak berkutik lagi.
"Aaaggghhh!"
Suara ini terdengar bergema keluar dari kerongkongan membuat puluhan orang anggota perkumpulan pengemis sabuk sutra merah sudah gatal untuk menerjang maju.
Melihat ini Dewi Suling cepat mengangkat lengan ke atas dan berseru.
"Saudara saudara anggota perkumpulan pengemis harap tenang! Orang gagah selalu memegang teguh janji. Kita sudah berjanji, diwakili ketua kalian tadi untuk mengadu kepandaian antara pimpinan. Tidak sorangpun anak buah boleh turun tangan tanpa komando!" seru setan kipas merah yang memang paling disegani oleh para pejuang.
Maka para pengemis yang menyaksikan sendiri betapa ketua mereka terbunuh, dengan menahan kemarahan dan hanya dapat mencucurkan air mata sambil merawat jenazah ketua mereka seperti yang dilakukan oleh anggota-anggota Huang ho terhadap ketua mereka dan terhadap jenazah Cui Hwa tadi.
Setelah Ang Han tewas, tentu saja bocah tua nakal dan Biksu Ji menjadi makin repot menghadapi Thian Sung.
"Mengingat akan persahabatan kita, tidaklah lebih baik kalian menyerah saja daripada mati konyol di ujung senjataku! ha...ha...ha...!" seru Thian Sung dengan tawa yang mengejeknya.
"Amitabha, kami tidak takut menghadapi kematian," kata Biksu Ji sambil terus menggerakkan tongkatnya.
Seketika Thian Sung marah, dia megeluarkan suara gerengan yang menbuat seluruh tempat itu tergetar, pedangnya berkelebat menyilaukan mata.
Akan tetapi kedua orang kakek gagah perkasa itu tidak gentar, menyambutnya dengan senjata masing-masing, bahkan tongkat di tangan Biksu Ji berhasil menggebuk pundak kiri Thian Sung.
"Bukkk !"
Biksu Ji terkejut ketika merasa betapa tongkatnya membalik dan tangannya sangat sakit. Tapi iapun girang ketika melihat Thian Sung terguilng roboh.
Kesempatan itu digunakan Bocah tua nakal untuk menubruk maju dan mengirim serangan maut. Namun keadaan berbalik,
"Awas...!" seru setan kipas merah.
"Mundur...!" seru Siok Lee yang
memperingatkan.
__ADS_1
Namun terlambat karena kedua orang tua yang sudah mulai lelah itu sudah terlanjur menubruk ke depan.
Pada saat itu, tangan kiri Thian Sung yang rebah miring diayun dan belasan batang senjata lempar yang sudah dilumuri racun itu berkerincing menyambar cepat sekali dari jarak dekat ke arah dua orang kakek ini.
Bocah tua nakal dan Biksu Ji sangat terkejut, mereka berusaha memutar senjata melindungi tubuh, akan tetapi tidak semua senjata lempar dapat mereka tangkis.
Sebatang senjata lempar menancap di lambung biksu Ji dan sebatang lagi menancap leher Bocah tua nakal. Mereka terhuyung huyung lalu roboh.
"Pengkhianat keji rasakan pembalasan kami!"
Teriakan ini keluar dan mulut Tan Li yang diikuti oleh Han Wen, Gui Siong dan juga Yang Tek. Empat orang muda yang melihat guru mereka roboh itu tak dapat menahan diri lagi dan sudah mencabut senjata dan menerjang ke depan.
"Tahan....awas...!" seru setan kipas merah yang kemudian tubuhnya melayang ke depan dan kipasnya dikibaskan secara berputar cepat di depan empat orang muda itu yang terancam oleh belasan batang senjata lempar yang menyambar sambil mengeluarkan suara kerincing riuh rendah membisingkan telinga itu.
"Cring, cring, cring, cring....!"
Belasan batang senjata lempar itu beterbangan terkena sampokan kipas setan kipas merah.
Akan tetapi sebatang senjata lempar masih meleset dan menancap di bahu kiri setan kipas merah, membuat laki-laki ini terhuyung huyung.
Tan Li cepat memeluknya dan
membawanya mundur, di mana setan kipas merah mengeluarkan obat dan sembari mengomel.
"Kalian berempat ini apa sudah bosan hidup! Lebih baik mengurus guru kalian dan berusaha mengobati mereka!"
Empat orang muda itu menjadi pucat. Mereka mengerti kalau tidak ada setan' kipas merah tadi mereka sendiri tidak akan mampu menyelamatkan diri dari pada sambaran belasan batang senjata lempar yang hebat itu.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...