Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Majikan mencari pelayannya


__ADS_3

Kemudian Setan kipas merah memberikan penjelasan tentang keadaan dan situasi di dalam hutan dan juga markas pasukan Mongol di An Bun.


"Menurut pendapatku, sekiranya kita memasuki daerah hutan di sebelah barat. Karena di daerah itu hutannya amat luas dan juga daerah pegunungan. Jadi mudah bagi kita untuk bersembunyi, sambil melakukan penyerbuan secara mendadak ke An Bun. Kalau saudara-saudara sekalian setuju, sekarang ini juga kita berangkat ke sana memisahkan diri dan bertemu di goa yang berada di dalam hutan sebelah barat, kira-kira dua puluh kilometer jauhnya dari tempat ini." jelas Setan kipas merah.


"Baiklah kami setuju!"


"Iya kami setuju!"


Semua orang menyatakan setuju. Memang pertempuran melawan tentara Mongol yang amat besar jumlahnya tadi menyatukan mereka tanpa janji lebih dahulu, yaitu pasukan yang dipimpin A Bhok dan Cui Hwa, dan pasukan bekas pekerja paksa yang dipimpin empat orang muda-mudi perkasa.


Dan berangkatlah mereka sambil membawa anggota mereka yang terluka dalam pertempuran sebelumnya dan meninggalkan teman teman yang tewas karena memang keadaan menghendaki demikan.


Dalam perjalanan ini, mulailah mereka berkenalan dan mengatur siasat. A Bhok mengirim seorang untuk menyampaikan berita tentang perang semalam dan tentang rencana pasukan mereka pergi ke hutan sebelah barat An bun kepada kedua orang saudaranya yang masih bermarkas di tepi sungai Huang ho, agar mereka dapat saling berhubungan dan saling membantu.


Semalam suntuk pasukan pejuang ini menyusup di antara hutan dan pegunungan, berpencar akan tetapi tidak terpisah jauh sehingga mereka dapat saling mengetahui keadaan kawan memberi isyarat bunyi-bunyi burung.


"Yu Tian.....Yu Tian....!"


Siok Lan memanggil pelayannya yang setia di dalam hutan sambil menebarkan pandangannya kesegala arah di dalam hutan itu.


Hatinya sangat risau dan berharap bahwa pelayannya itu masih hidup dan berada di dalam hutan.


Tadi ketika ia didorong turun oleh pelayannya itu, Yu Tian masih berada di atas kuda dan tiba tiba pecah pertempuran karena munculnya Cui Hwa dan yang lainnya.


"Ah! Tidak mungkin Yu Tian ditawan karena sudah jelas bahwa pihak musuh terpukul mundur bahkan banyak yang tewas. Tapi bagaimana kalau Yu Tian terbunuh oleh musuh?" gumam dalam hati Siok Lan yang hati nya makin gelisah dan kini ia mencari cari sambil memanggil manggil, juga melihat lihat kalau pelayan nya itu sudah menggeletak tak bernyawa lagi di dalam hutan.


"Andaikata Yu Tian bukan seorang laki-laki. Andaikata....ahh, terlalu banyak andaikata yang tak mungkin terjadi. Bahkan kini Pendekar tanpa gelar sudah muncul." gumam dalam hati Siok Lan.


Ia tadi mengejar sekuat tenaga, mengerahkan jurus meringankan tubuhnya, namun ia melihat betapa bayangan Pendekar tanpa gelar itu berkelebat bagaikan terbang cepatnya dan sebentar saja lenyap dari pandangan matanya.


Karena tidak berhasil mencari Pendekar tanpa gelar, teringatlah Siok Lan akan pelayannya dan kini ia mulai mencari keberadaan Yu Tian.


Ia melihat betapa para pejuang yang tadinya menggempur pasukan Mongol itu meninggalkan hutan. Ia sesungguhnya harus berterima kasih kepada mereka karena tanpa adanya mereka itu, tentu ia sudah binasa di bawah pengeroyokan para pasukan Mongol, atau setidaknya tentu akan tertawan lagi.


Bahkan wanita galak Cui Hwa itu telah menolong nya. Akan tetapi ia tidak sempat menjumpai mereka.


Pertama karena ia tadi mencari Pendekar tanpa gelar dan sekarang, sebelumnya ia dapat menemukan pelayannya, ia tidak akan berhenti mencari dan tidak akan menjumpai mereka.


"Yu Tian....Yu Tian.... Yu Tian...!"

__ADS_1


Siok Lan memanggil dengan memakai kedua telapak tangannya untuk mendekap kanan kiri mulutnya sehingga suara panggilannya bergema di seluruh hutan itu.


Malam mulai menyingkir dan digantikan oleh fajar yang bersinar menyinari bumi.


"Yu Tian....!"


Pemuda itu terus memanggil pelayannya, dan Siok Lan merasa harapan telah menipis dan hampir ia menangis kalau teringat betapa besar kemungkinan pelayannya itu terbunuh musuh.


Teringat akan hal ini, baru terasa olehnya betapa baiknya Aliok selama ini. Betapa akan berat hatinya kalau harus berpisah dan benar-benar ditinggal mati oleh pelayannya.


"Yu Tian...Yu Tian....!" panggil Siok Lan yang kini kedua matanya sudah berkaca-kaca.


Siok Lan teringat kembali saat perpisahan, dimana dia memeluk dengan erat pelayannya. Jantngnya sangat bersebar-debar saat itu, dan masih tercium bau harum badan pelayannya yang tak seperti bau laki-laki itu.


"Yu Tian.....!" panggil Siok Lan lagi dan kini menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon, seorang pendekar laki-laki yang menangisi pelayannya yang aneh itu.


Makin mengguguk tangis Siok Lan dan baru sekarang ia mengakui dalam hatinya bahkan ia mencintai pelayan itu, mencintai pelayan yang aneh.


"Yu Tian, mana mungkin aku mencintai seorang laki-laki! kita tak bisa menikah, paling tidak kamu bisa menjadi adikku! Hu...hu....!"


Baru sekali ini Siok Lan, pendekar perkasa yang berhati baja dan tidak pernah mengenal takut itu menangis tersedu-sedu.


Siok Lan yang sedang menangis itu tiba tiba mendengar suara Yu Tian yang memanggil namanya, Dia menoleh ke kanan ke kiri dengan mata terbelalak, mata yang merah dan pipi yang basah.


"Yu Tian?" Ia berbisik, setengah tidak percaya akan pendengarannya sendiri.


"Tuan muda Siok Lan!"


Kembali terdengar suara itu perlahan akan tetapi jelas sekali, seperti terbawa angin lalu, bercampur dengan bunyi kokok ayam hutan dan kicau burung.


"Yu Tian...!"


Panggil Siok Lan kembali, bagaikan digetarkan tenaga dahsyat Siok Lan mencelat bangun, matanya terbelalak bersinar-sinar, setelah yakin akan suara nyata itu


"Yu Tian....! Dimana kamu!" teriak Siok Lan yang memanggil pelayannya.


"Aku di sini, tuan muda!"


Suara itu datangnya dari kanan, dan Siok Lan hampir bersorak, menari dan dengan suara ketawa ditahan ia lalu melompat ke kanan terus menggunakan jurus meringankan tubuhnya lari ke arah datangnya suara.

__ADS_1


"Yu Tian....! Dimana kamu!" teriaknya lagi.


"Di sini, tuan muda!"


Kembali suara Aliok itu datangnya dari atas. Dan Siok Lan menengadah dan alangkah girang hatinya ketika ia melihat pelayannya itu nangkring di atas pohon yang tinggi, di cabang tertinggi dan kelihatannya takut akan tetapi tangan kirinya mengempit seekor ayam hutan yang gemuk.


"Eh, bagaimana kau bisa berada di situ?" tanya Siok Lan yang mendongak menatap pelayannya.


"Sa..say menghindari peperangan tuan muda!' jawab Yu Tian dengan agak gugup.


"Ayo turunlah!" seru Siok Lan seraya melambaikan tangan sebagai isyarat agar Yu Tian turun.


"Aku......... aku tidak berani turun.......!" ucap Yu Tian dengan gemetaran.


"Ha....ha....ha....!"


Siok Lan tertawa, suara ketawanya nyaring dan tiba tiba tubuhnya terayun ke atas dan berloncatanlah ia dari cabang ke cabang sampai tiba di cabang yang diduduki Yu Tian.


Yu Tian melihat tuan mudanya yang tertawa lebar pipinya merah berseri akan tetapi pipi di bawah mata masih ada tanda air mata. Hatinya terharu bukan main, tergetar dan Yu Tian menangis sesenggukan.


"Aihhh... kamu kenapa Yu Tian?" tanya Siok Lan yang menghentikan tawanya dan melihat ke arah Yu Tian.


"Saya......... saya terlalu girang, Tuan muda." jawab Yu Tian yang kemudian menyeka air matanya.


Siok Lan tersenyum, lalu mengempit pinggang pelayannya itu, dibawa loncat turun dengan gerakan ringan sekali.


Setibanya di atas tanah, lengan kanan Yu Tian masih merangkul pinggang Siok Lan sedangkan tangan kiri pelayan itu mengempit ayam.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2