
Tak disangka, pemuda yang ada dihadapannya yang selama ini dia kagumi, adalah calon suaminya.
Kemudian Yu Tian mengikat kudanya di pohon yang ada dihadapan mereka.
"Yu Tian! kamu kenapa?" tanya Siok Lan yang penasaran saat melihat Yu Tian menjatuhkan diri duduk di bawah bersandar batang pohon yang ada di samping pohon dimana kuda-kuda mereka diikat.
Pandangan mata Xiao Yu penuh selidik dan amat tajam seolah-olah hendak membelah dada pemuda Siok Lan dan menjenguk isi hatinya.
"Jadi tuan adalah tunangan....." ucap Xiao Yu yang tak sanggup melanjutkannya, antara senang karena sesuai impiannya. Susah karena ada bibit kebencian didada Siok Lan.
"Yu Tian, aku dipertunangkan dengan dia di luar kehendak hatiku. Kalau aku boleh memilih, aku tidak akan sudi dengan perjodohan itu!Apalagi dia seorang sombong, ah andai kamu itu perempuan dan biar tak berkepandaian apa-apa engkau seribu kali lebih baik daripada dia!" ucap Siok Lan yang menatap wajah Xiao yu yang tentu saja membuat jantung Xiao Yu berpacu dengan cepat.
Demikian pula dengan jantung Siok Lan yang seolah-olah mau melompat entah kemana.
Tiba-tiba terdengar derap kaki banyak orang. Siok Lan merenggutkan tangannya dan meloncat berdiri, diikuti oleh Xiao Yu.
Kiranya tempat itu sudah terkurung rapat oleh banyak sekali tentara Mongol yang dikepalai oleh lima orang perwira.
"Tuan muda, awas....!" seru Xiao Yu tapi sudah terlambat, karena belasan buah benda yang dilemparkan oleh perwira-perwira itu ke arah mereka berdua telah meledak.
Dan tempat itu penuh dengan asap putih yang berbau harum namun yang membuat mata tak dapat dibuka dan napas menjadi sesak.
Dalam keadaan seperti itu, Xiao Yu tak dapat melihat apa-apa. Dia hanya menggerakkan kaki tangan merobohkan banyak orang yang coba-coba menubruk dan hendak menangkapnya.
Gadis itu mengamuk sambil mencari keberadaan Siok Lan. Akan tetapi, ketika asap menipis dan dia sudah dapat bernapas biasa lagi. Xiao Yu melihat Siok Lan sudah dilarikan di atas kuda dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Bedebah, kurang ajar!" umpat Xiao Yu yang marah sekali dan hendak mengejar, namun lima orang perwira tadi telah menghadangnya.
Xiao Yu sudah tak bisa lagi membendung kemarahannya, dia mengamuk dan sudah mengeluarkan jurus-jurus kepandaiannya yang hebat, yaitu pukulan Sin kong ciang dan kemudian mainkan sebuah pedang rampasan dengan jurus pedang membelah mataharinya.
Bagaikan orang membabat ramput saja Xiao Yu mengamuk dan merobohkan belasan orang perajurit dalam waktu singkat. Menyaksikan kegagahan pemuda ini lima orang itu lalu terjun sendiri dan mengeroyok.
Pasukan ini bukanlah pasukan penjaga, melainkan pasukan pengawal dari kota raja yang melakukan perjalanan memeriksa pelaksanaan pembuatan saluran.
Jadi pasukan ini pasukan terpilih karena merupakan pasukan pengawal kerajaan yang tentu saja amat kuat, apa lagi terdiri dari pengawal-pengawal pilihan dan jumlah mereka lima puluh orang lebih.
__ADS_1
"Hop hiaaaat....!"
"Trang....Trang.....trang....!""
"Trang....Trang.....trang....!""
"Trang....Trang.....trang....!""
"Trang....Trang.....trang....!""
Xiao Yu menghadapi lawan yang amat tangguh, untuk merobohkan para pengeroyok. Kini pengeroyokan di lakukan dengan teratur rapi dan amat kuat.
Akhirnya mampu membasmi habis semua pengeroyoknya biarpun dalam waktu yang agak lama, kalau saja hatinya tidak demikian risau mengingat keadaan Siok Lan.
Kalau terlalu lama ia melayani pasukan pengawal ini tentunya Siok Lan dibawa lari menjauh oleh
pasukan musuh dan makin sukar baginya untuk melakukan pengejaran dan menolong pemuda yang dicintainya itu.
Kemudian Xiao Yu mengeluarkan suara melengking keras sekali sehingga lima orang perwira itu terkejut dan mundur.
Akhirnya Xiao Yu berhasil menyusul, dan melihat Siok Lan yang ditawan itu dikawal oleh pasukan Mongol yang sedikitnya ada seratus orang jumlahnya dipimpin oleh tiga orang perwira tinggi bangsa Mongol yang merupakan tokoh tokoh pengawal Istana! Penjagaan amat ketat, Siok Lan dibiarkan berjalan dengan kedua tangan terbelenggu, di tengah mereka.
Xiao Yu tidak berani mengambil resiko seperti itu, diam-diam ia membayangi pasukan itu dan mencari kesempatan baik untuk menolong pemuda yang dikasihinya itu.
Siok Lan berjalan dengan langkah tegap dada membusung dan muka terangkat sediktipun tidak membayangkan khawatir atau takut. Ketika terjadi penyerbuan tadi, ia tidak dapat banyak berdaya karena asap itu telah membuatnya lemas dan setengah pingsan.
Dan saat ia sadar kembali, ternyata dia telah terbelenggu dengan kedua tangannya dan dibawa oleh
pasukan berkuda yang jumlahnya belasan orang.
Sebelum ia berontak, pasukan yang menawannya telah tiba di sebuah markas barisan Mongol dan ia lalu dikawal oleh seratus orang lebih tentara mongol yang kuat di dorong dorong supaya berjalan, Siok Lan meronta namun kulit yang menjadi tali pengikat kedua tangannya amat kuat.
"Ha,...ha....ha...! percuma saja kau meronta, lebih baik berjalan kalau tidak ingin dicambuk!" seru seorang tentara musuh yang ada disamping Siok Lan.
"Mati kau....!" seru Siok Lan yang memaki dan dibarengi kaki kirinya melayang kearah pengawal itu, dan pengawal itu berusaha menangkis namun tetap saja tubuhnya terlempar ke belakang sampai tiga meter lebih dimana ia terbanting jatuh.
__ADS_1
"Ngekk....!"
Pengawal itu sampai mengeluarkan suara dan ia merangkak bangun sambil menahan sakit. Dengan marah pengawal ini mencabut goloknya, akan tetapi perwira tinggi besar yang melihat ini membentaknya.
"Mundur kau dan jangan mergganggu tawanan!"
Tentara itu mundur setelah memandang Siok Lan dan mata melotot karena marah.
Seorang perwira lain dengan berkata suaranya nyaring dan ditujukan pada semua anak buahnya.
"Kita hanya bertugas mengawal tawanan ini ke kota raja. Tidak seorangpun boleh mengganggunya kecuali kalau ia hendak melarikan diri, baru boleh menghalangi dan kalau perlu membunuhnya.
Ketahuilah kalian semua, tawanan ini adalah orang penting. Dia adalah cucu Siok Lee dan dia adalah seorang tokoh di antara pemberontak. Dia akan dijadikan tawanan untuk menyerang para tokoh pemberontak lain agar menyerah, maka kalian tidak boleh mengganggunya!" seru perwira itu.
Para prajurit terkejut karena nama Siok lee terkenal sekali sebagai seorang pemberontak yang telah pernah mengacaukan markas besar tentara Mongol.
"Tuan jangan mecoba untuk melawan karena hal itu akan membuat sengsara tuan sendiri!" seru perwira itu yang menatap Siok Lan.
"Cihh! Tak tahu malu! Merobohkan orang dengan asap racun, kemudian mengawal dengan seratus orang lebih tentara. Coba lepaskan belenggu ini dan aku Siok Lan akan menghancurkan kepala kalian semua satu demi satu! atau kalian tunggu saja, kakekku akan muncul dengan pedangnya akan membabat putus semua batang leher kalian!" seru Siok Lan dengan mengancam.
Biarpun ancaman ini kosong belaka, namun sebagian besar diantara para tentara itu meraba leher mereka masing-masing penuh kengerian.
Pasukan lalu bergerak maju lebih cepat lagi agar mereka cepat-cepat dapat sampai di kota raja.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1