Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Beristirahat di tepi sungai


__ADS_3

"Glekk...!"


Kembali Xiao Yu menelan salivanya, saat memandang wajah majikannya yang berseri-seri saat tertawa itu.


Rona wajah Xiao Yu berubah menjadi merah muda seperti kepiting rebus, saat Siok Lan menghentikan tawanya dan membalas tatapan Xiao Yu.


"Yu Tian, apakah kamu itu seorang gadis?" tanya Siok Lan sembari mengulas senyumnya.


Senyuman Siok Lan itu menambah jantung Xiao Yu berdebar-debar, saking terpesonanya Xiao Yu menyaksikan "keindahan" itu. Sampai tanpa sadar dia menganggukkan kepalanya.


"Eh, Yu Tian! apakah kamu serius dengan jawaban kamu itu?" tanya Siok Lan yang terkejut.


"Eh, jawaban yang mana tuan muda?" tanya Xiao Yu yang sudah tersadar dari lamunannya.


"Itu tadi aku tanya kamu itu seorang gadis? kamu menganggukkan kepala, jadi kamu mengiyakan kalau kamu itu seorang gadis!" jawab Siok Lan yang mengulang kembali pertanyaannya.


"Eh salah tuan muda! saya ini laki-laki tuan!" seru Xiao yu yang terkejut dengan yang diceritakan Siok Lan.


"Oh iya? kalau begitu kita cari sungai. Kuda-kuda kita nanti bisa merumput dan minum sepuasnya. Sedangkan kita bisa mandi bersama, mengingat tubuhku sudah lengket karena keringat!" seru Siok Lan sembari menloncat turun dari atas kudanya.


"A..apa? sungai, mandi bersama!" ucap Xiao Yu dalam hati yang sangat terkejut.


"Hei, kenapa bengong saja? lekas turun dan kita ke sungai itu!" seru Siok Lan sembari menunjuk ke arah sungai yang ada didepannya.


Bergegas Xiao Yu turun lalu membawa kuda mengikuti langkah Siok Lan. Dan kemudian mengikat nya pada sebatang pohon yang ada di pinggir sungai dan membiarkannya makan rumput.


Sambil berjalan, Xiao Yu terus memikirkan bagaimana cara menghindari mandi bersama Siok Lan.


Rupanya, Siok Lan tidak langsung menuju ke sungai. Tapi dia beristirahat di bawah pohon yang rindang.


Memang siang hari itu panas amat teriknya. Melihat Siok Lan duduk di akar-akar pohon, Xiao Yu segera memeriksa perbekalan dalam tas kulit itu cukup lengkap. Ada roti kering, daging panggang, dendeng, bahkan ada seguci arak baik, pada setiap punggung kuda mereka.


"Wah ini ada makanan dan minuman tuan muda! Apakah nona hendak makan?" tanya Xiao yu sembari menunjukkan perbekalannya itu.


Agak merah wajah Siok Lan. Tadi ia tidak memeriksa lebih dulu sudah pula menyalahkan pelayannya mengapa tidak minta perbekalan minuman. Kiranya di dekat sela kaki kudanya terdapat makanan dan minuman, bahkan sekantung uang perak.


"Siapa sudi minum arak di tengah hari yang panas ini! Aku ingin minum air sejuk yang jernih!" seru Siok Lan yang menutupi rasa malunya.

__ADS_1


"Oh, baiklah!" ucap Xiao Yu yang kemudian mengambil roti, daging dan arak, yang kemudian meletakkannya di depan Siok Lan.


"kalau begitu , saya akan mencarikan airnya untuk tuan muda." ucap Xiao Yu yang kemudian melangkahkan kakinya tanpa menunggu jawaban dari majikannya yang sedang mengipas-kipas tubuhnya yang penuh peluh dan keringat.


Setelah pelayannya itu tidak tampak lagi, Siok Lan duduk termenung.


"Aneh sekali, kenapa aku merasa amat suka pada pelayan itu? Kenapa aku merasa Yu Tian itu perempuan. Akan tetapi amat pemberani dan tidak gentar mempermainkan Cui Hwa dengan pertaruhan nyawa! Pelayan yang bodoh akan tetapi cerdik sehingga mengeluarkan ucapan-ucapan yang kadang-kadang aneh dan berpengaruh di depan begitu banyak orang persilatan tadi.?" gumam dalam hati Siok Lan.


"Kenapa pendekar tanpa gelar itu demikian sombong, tidak memandang sebelah mata kepada keluarganya, kini pelayannya begini baik" ucap lirih Siok Lan yang sedang makan roti kering.


Beberapa saat kemudian Xiao Yu datang sambil membawa tempat air yang penuh berisi air dingin yang jernih sekali, diletakkannya tempat air itu di depan Siok Lan.


"Minumlah, tuan muda. Airnya dingin dan amat jernih." ucap Xiao Yu.


Siok Lan mengangguk dan minum air beberapa teguk.


"Kau makanlah rotinya." ucap Siok Lan yang menawarkan roti dihadapannya.


"Saya tidak lapar, tuan." balas Xiao Yu seraya menggelengkan kepalanya.


"Kau juga belum minum?" tanya Siok Lan yang menatap pelayannya itu.


"Karena tergesa gesa saya lupa minum di sana tadi." jawab Xiao Yu yang tersenyum seraya menggeleng kepalanya.


"Yu Tian, kau ini memang aneh, kau begitu bodoh tapi.....!" seru Siok Lan yang menghentikan ucapannya.


"Tapi bagaimana, tuan muda?" tanya Xiao Yu yang penasaran.


"Sudahlah, kau boleh minum air ini!" seru Siok Lan sembari mengulurkan guci yang berisi air yang dibawa oleh Xiao Yu tadi.


"Tuan baru minum sedikit, dan sehabis makan roti tentu haus lagi." ucap Xiao Yu seraya menolak guci itu.


"Aku bisa minum lagi nanti. Apakah air sebegini banyak akan kamu


habiskan sekali minum? Kalau kau habiskan, kamu harus mengambilkan lagi untuk ku.


Minumlah kalau haus, kalau tidak ya sudah!" seru Siok Lan memandang memandang Xiao Yu dengan marah.

__ADS_1


Berdebar jantung Xiao Yu, dia memang mengenal watak majikannya itu yang amat polos. Siok Lan menganggap pelayannya seperti teman seperjalanan dan sudah biasa diajak makan bersama. Akan tetapi untuk minum berdua dari satu tempat air, sungguh dia hampir tak dapat percaya.


Maka untuk membuktikannya, Xiao Yu lalu mengangkat tempat air itu, lalu meneguk airnya beberapa teguk.


Sengaja ia menempelkan bibirnya pada bibir tempat air yang tadi berbekas bibir Siok Lan, kemudian diletakkannya kembali tempat air itu. Dan airnya masih ada setengahnya.


"Hayo makanlah roti ini. Kalau kita berangkat lagi nanti, aku tidak akan berhenti sebelum malam, kau bisa mati kelaparan nanti!" seru Siok Lan seraya mengulurkan roti kering pada Xiao Yu.


"Baiklah tuan muda," ucap Xiao Yu yang kemudian mengambil roti sisa yang dimakan Siok Lan dan ia mulai makan roti kering itu.


Jantungnya berdebar makin keras ketika ia melihat Siok Lan mengelap bibirnya kemudian mengangkat tempat air itu dan minum air itu tanpa ragu ragu lagi dan ia tahu betul tempat bibir pemuda itu yang tanpa disengaja meenempel di bibir tempat air dibekas bibirnya tadi.


Lehernya serasa tercekik karena ia merasa amat terharu. Tanpa sengaja Xiao Yu tersedak dan Siok Lan dengan cepat menyerahkan tempat air itu.


"Ihh, seperti anak kecil sajal Makan sampai tersedak. Hayo diberi minum, bisa mati mendelik kami nanti!" seru Siok Lan yang menunjukkan perhatiannya.


Kemudia Xiao Yu meminum air dan tenggorokannya kembali menjadi longgar kembali ia memandang kepada Siok Lan dengan wajah berseri.


"Tuan muda sungguh amat baik." ucap Xiao Yu seraya mengulas senyumnya.


"Apa baik? Aku berbuat baik apa kepada siapa? Jangan menjilat kau!" seru Siok Lan dengan megerutkan kedua alisnya.


"Memang aneh watak majikanku ini.


Sebentar ramah sebentar galak, sebentar senyum sebentar merengut. Kadang bercanda, kadang juga membentak-bentak!" gumam dalam hati Xiao Yu sembari mengulas senyumnya.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2