
Perwira itu marah menarik cambuk besinya dengan sekuat tenaga untuk merampas kembali senjatanya, namun sia-sia belaka. Ujung cambuk baja itu tak dapat terlepas dari genggaman tangannya Xiao Yu.
"Ah...uh...ah..uh....!"
Kembali si perwira kekar itu mengerahkan tenaganya yang besar dan tiba-tiba Xiao Yu melepaskan ujung cambuk itu bukan hanya dilepaskan begitu saja, melainkan ia lontarkan dengan pengerahan tenaga dalamnya di tangannya.
Ujung cambak melesat ke depan, ke arah tubuh perwira kekar yang terhuyun-huyung ke belakang karena dorongan tangannya yang membetot tadi tanpa dapat dielakkan lagi ujung cambuk yang berubah menjadi seperti anak panah yang meluncur cepat ini menusuk perutnya.
"Cratt....!"
Ujung cambuk dari baja itu menusuk perut terus menembus punggung.
Perwira kekar itu terjengkang dan berkelojotan, mengeluarkan suara seperti seekor kambing yang disembelih.
Melihat temannya roboh dan tewas, tujuh orang perwira Mongol tanpa diperintah lagi sudah meloncat maju dan langsung menyerang Xiao Yu.
"Bagus!" seru Xiao Yu yang kemudian mengambil ranting kayu yang tadi terselip di pinggangnya.
Dan mulailah ia manghadapi pengeroyokan tujuh orang perwira yang bersenjata pedang dan golok itu.
"Curang....Curang ...!" teriak Siok Lan yang merasa tak adil dan tak sesuai perjanjian.
Dengan pedang di tangan ia hendak menyerbu, akan tetapi tiba-tiba lengannya di pegang oleh kakeknya.
"Jangan bergerak, kau lihat saja. Dia tidak akan kalah!" bisik Siok Lee pada cucunya.
Siok Lan melihat ke sekelilingnya dan semua pejuang menonton pertandingan itu dengan wajah tenang, ia menoleh kepada kakeknya.
"Kakek, apakah aku sedang mimpi? Apakah dia itu bukan Yu Tian pelayanku? Dia seorang gadis bukan seorang laki-laki?" tanya Siok Lan secara beruntun karena ketidak percayaannya.
"Sssttt, kau lihat saja dan kau akan mengerti." jawab Siok Lee dengan santai.
Siok Lan menyimpan pedangnya kembali lalu menonton dengan jantung berdebar karena tegang.
__ADS_1
Pelayannya ini benar-benar hebat bukan main sungguh jauh dari dugaannya.
Memang pernah Siok Lan menduga kalau Yu Tian mempunyai kepandaian ilmu silat sebagai bekas pelayan keluarga Pendekar Pedang Naga Xiao Cheng.
Akan tetapi tidak dengan tingkat setinggi itu. Kini mengertilah ia bahwa Yu Tian dahulu itu bukan secara kebetulan saja dapat mempermainkan Cui Hwa, dan mulailah ia mengerti pula yang memundurkan para tokoh perkumpulan pengemis sabuk sutra merah itu bahkan yang mengundurkan ketuanya yang sekarang sudah tewas di tangan Thian Sung, bukan lain adalah pelayannya ini.
Sementara itu Xiao Yu dengan serius mengeluarkan kepandaiannya. Ia tahu bahwa kalau ia tidak mampu merobohkan tujuh orang pengeroyoknya dalam waktu singkat.
Panglima Thian Sung akan memandang rendah kepadanya jika usahanya menolong para pejuang akan gagal. Thian Sung adalah seorang yang gagah perkasa yarg tentu akan memegang janjinya asal saja ia dapat memperlihatkan bahwa dia cukup lihai dan patut untuk menandingi panglima itu. Ia harus mendatangkan kesan tinggi dalam pandangan panglima itu.
Oleh karena ini begitu melihat tujuh orang pengeroyoknya maju menerjangnya tanpa banyak aturan lagi karena marah menyaksikan kematian seorang kawan mereka, Xiao Yu lalu mengeluarkan suara melengking nyaring tubuhnya mendadak lenyap berubah menjadi bayangan putih yang melengking lengking, tongkat ranting di tangannya menjadi gulungan sinar kehijauan yang melingkar-lingkar dan mengurung para pengeroyoknya.
Bagaikan beruntun terdengar jerit-jerit disusul robohnya keenam orang pengeroyoknya. Ketika orang melihat, masih pening oleh gerakan yang amat cepat itu, ternyata enam orang perwira itu telah mati karena totokan-totokan maut dan Xiao Yu sudah berdiri memegang ranting memandang ketujuh orang korbannya.
"Pendekar tanpa gelar!"
Seruan ini mengandung rasa takut dan gentar, keluar dari mulut para anak buah pasukan Mongol.
"Ja..jadi Yu Tian adalah Xiao Yu si pendekar tanpa gelar?" gumam Siok Lan yang kini duduk berlutut karena kakinya lemas seraya memandang Xiao Yu dengan nanar.
Siok Lee hendak mengejar, akan tetapi ia terhnyung dan tentu roboh terguling karena luka di pahanya kalau saja lengannya tidak cepat cepat disambar oleh setan kipas merah.
"Sebaiknya anda tenang, kita menghadapi urusan yang lebih gawat. Biarkanlah, saudara Siok Lan mengatasi rasa bingung dan kaget, kalau sudah beres akan kususul dia." ucap setan kipas merah yang berusaha membuat Siok Lee lebih tenang.
Siok Lee menganggukkan kepalanya dan menghela napas panjang, memandang lagi ke arah Xiao Yu yang kini berhadapan dengan Panglima Thian Sung.
"Terpaksa aku merobohkan para pembantumu, Thian Sung! Karena kamu telah menewaskan tujuh orang teman kami, dan aku telah menewaskan tujuh orang pembantu mu, berarti keadaan kita seri, tidak ada yang lebih unggul!" seru Xiao Yu dengan lantang.
"Hemm, tidak apa. Mereka mati sebagai orang-orang gagah seperti juga teman temanmu. Jadi kiranya kamu ini Pendekar tanpa gelar! cucu dari Xiao Cheng si pendekar pedang Naga, yang terlepas dari cengkeraman maut yang disebar oleh Siauw Bo!" seru Thian Sung yang masih mengingat peristiwa masa lampau.
"Benar sekali!" jawab Xiao yu dengan mengulas senyumnya.
"Hemm, bocah, siapa namamu?" tanya Thian Sung yang penasaran.
__ADS_1
"Nama saya Xiao Yu, pada waktu kecil kakek pernah bercerita tentang kegagahan anda. Karena itu, bisalah saya mewakili mendiang kakek, mohon kebijaksanaan panglima Thian Sung untuk membebaskan semua pejuang yang ada di sini." ucap Xiao Yu yang mencoba menempuh jalan damai.
"Ha.....ha...ha....! Jangan terkabur, Nona! Apa kau kira setelah berhasil mengalahkan tujuh orang
pembantuku itu, kau dapat membuat hati Thian Sung ini menjadi jerih? Ha...ha...ha....! biar ada lima orang muda seperti kamu, aku masih belum mau tunduk dan tetap
mempertahankan perintahku, yaitu menawan kalian semua yang memimpin pemberontakan ini, termasuk kamu pendekar tanpa gelar!" ucap Thian Sung dengan sombongnya.
Xiao Yu sudah menduga kalau panglima yang keras hati ini tidak akan mudah dapat ditundukkan dengan kata-kata.
"Kalau begitu, terpaksa aku menantangmu Thian Sung!" seru Xiao Yu dengan lantang.
"Bagus! Memang keadaan kita masih seri bukan? Nah, sekarang tinggal pertandingan terakhir. Kamu cukup berharga untuk menjadi lawanku. Kalau sekali ini kamu kalah olehku mati atau hidup, maka pihakmu harus tunduk dan taat kepada perintahku!" seru Thian Sung dengan lantang juga.
"Baik, kami berjanji!"
Tiba-tiba Siok Lee berseru.
"Akan tetapi, bagaimana kalau kau yang kalah oleh Pendekar tanpa gelar, Thian Sung?" tanya Siok Lee dengan tatapan tajam.
"Ha...ha...ha...! Tak mungkin sekali itu ! Akan tetapi seandainya aku kalah, kalian semua boleh bebas, aku akan menarik mundur tentaraku!" balas seru Thian Sung yang masih memandang rendah lawannya, karena ia tidak percaya bahwa gadis itu mampu menewaskannya.
"Baiklah Thian Sung! omongan orang gagah sudah dikeluarkan, sekali keluar, biar dunia kiamat takkan dilanggarnya!" seru Xiao Yu dengan kesungguhannya.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...