Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Majikan yang mengikuti saran pelayannya


__ADS_3

Setibanya di atas tanah, lengan kanan Yu Tian masih merangkul pinggang Siok Lan sedangkan tangan kiri pelayan itu mengempit ayam.


Sejenak mereka saling rangkul, saling pandang dengan sinar mata seperti dalam mimpi, kemudian Siok Lan teringat kalau pelayannya itu adalah laki-laki dan dia melepaskan lengannya yang merangkul pinggang dan mukanya merah sekali, matanya mendelik dan mulutnya setengah tersenyum setengah merenggut.


"Kau...! aih dia kan laki-laki!" gumam dalam hati Siok Lan.


"Eh, tuan muda kenapa? kenapa sih?" tanya Xiao Yu yang melihat raut wajah Siok Lan yang muka merah perlahan mundur dan sedikit memberi jarak dengan pelayannya itu.


"Kamu berhutang banyak persoalan kepadaku yang harus kamu bayar. Kau harus jawab persatu dan awas jangan bohong!" seru pemuda yang tadi menangisi Yu Tian.


Siok Lan merasa jengah dan malu untuk membuka rahasia hatinya begitu saja.


Diam-diam Yu Tian tertawa di dalam hati dan rasa cintanya terhadap pemuda yang ada dihadapannya semakin menggelora.


Karena sebelumnya Yu Tian secara diam-diam ia mengikuti Siok Lan dan sudah menyaksikan semua sikap pemuda itu yang menangisinya. Karena itulah ia menjadi terharu dan ikut menangis.


"Saya berhutang budi kepada tuan, sampai matipun takkan terbayar lunas. Biarlah besok aku akan menjadi binatang kesayangan tuang muda pada penitisan kelak!" ucap Yu Tian.


"Aku tidak butuh itu! Yang sekarang kubutuhkan adalah keteranganmu akan perlakuanmu selama ini!


Pertama, kenapa kau mendorong aku turun dari kuda?" tanya Siok Lan yang terus menatap Yu Tian.


"Ah, tuan muda yang gagah dan tampan. Setelah terbebas dari belenggu, tentu saja kesempatan besar bagi tuan muda untuk melarikan diri. Saya mendorong tuan muda karena ingin sekali melihat tuan muda itu selamat." jelas Yu Tian.


"Tapi kamu sendiri dalam bahaya!" seru Siok Lan yang nampak sangat khawatir sekali.


"Aku....aku ini apa tuan, hanya seorang pelayan saja!" ucap Xiao Yu yang tak berani menatap wajah Siok Lan.


"Hei! Lain kali aku tidak mau begitu mengerti. Apa kau kira aku seorang yang tidak berperasaan? lari seorang diri dengan membiarkan kamu celaka seorang sendiri!" seru Siok Lan dengan geram.


"Besok tidak boleh begitu, kalau aku selamat kau juga harus selamat, kalau celaka ya sama-sama karena kita memang melakukan perjalanan bersama. Mengerti!" seru Siok Lan dan Xiao Yu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mengerti tuan muda! besok tidak berani lagi." balas Yu Tian dengan menunduk, dan Siok Lan merasa lucu dengan sikap Yu Tian. Karena itu dia mengulas senyumnya.


Sebaliknya, Siok Lanpun tidak tahu bahwa diam-diam Yu Tian juga mengulas senyumnya karena sikap Siok Lan.


"Yang kedua, setelah terjadi perang, aku amat berkuatir karena kau tidak tampak. Kenapa kau tidak keluar dan menemui aku?'' tanya Siok Lan yang sangat khawatir.


"Wah, tuan muda tidak tahu. Saya dikejar para prajurit, dan untunglah saya bisa menghindar jadi saya memanjat pohon dan semalam suntuk saya tidak berani turun." jawab Yu Tian yang tentu saja hal yang tak sebenarnya.


"Hemm, aku tidak percaya kau begitu penakut." ucap Siok Lan yang mengernyitkan kedua alisnya.


"Memang saya bukan orang penakut, tuan muda. Hanya saja saya mempunyai kelemahan terhadap ketinggian. Saya menjadi pening dan takut sekali." ucap Yu Tian yang pura-pura.


"Hm, kau bilang takut di pucuk pohon. Tapi kenapa bisa memegang ayam hutan yang begitu gemuk?" tanya Siok Lan yang penasaran.


"Ha...ha...ha...! Wah, memang Tuhan itu adil, tuan muda! Agaknya memang orang yang baik seperti tuan muda selalu diberi berkah sehingga tiada hujan tiada angin ada ayam menghampiri saya untuk saya panggang dan jadi makan malam kita tuan muda!" jawab Yu Tian yang penuh kebohongan.


"Hm...!" Siok Lan hanya menyimak dan terus memperhatikan tingkah pelayannya itu.


"Nanti biarlah saya sembelih dia dan panggang dagingnya untuk kita bawa sebagai bekal menyusul rombongan pejuang yang menuju ke pegunungan di sebelah barat kota An bun, tuan muda!" usul Yu Tian.


Aku hendak mencari Pendekar tanpa gelar! Kau tahu Yu Tian hampir saja aku dapat berhadapan dengan Pendekar itu malam tadi !" seru Siok Lan.


"Saya tahu, tuan muda." ucap Yu Tian seraya mengulas senyumnya.


"Eh, darimana kamu tahu?" tanya Siok Lan yang penasaran.


"Saya tahu karena karena Nona Xiao telah menemui saya sebelum Tian muda datang. Ketika saya bersembunyi di atas pohon belum lama tadi, tiba-tiba saja Nona Xiao muncul di depan saya di atas pohon ini. Nona Xiao juga menceritakan pada saya tentang semua yang telah terjadi." jelas Yu Tian yang tentu ya dia sedang mengarang.


"Sekarang di mana dia? Aku mengejar dan mencarinya, Yu Tian katakan, di mana dia?" tanya Sio Lan yang menatap raut wajah Yu Tian.


Yu Tian menarik napas panjang dan

__ADS_1


menggelengkan kepala.


"Tuan muda, Nona Xiao tadi telah bicara dengan saya dan telah saya katakan tentang kehendak tuan muda. Kemudian Nona Xiao memberi keterangan sejelasnya kepada saya, harap tuan muda mau mendengarkan." ucap Yu Tian yang jelas saja membuat Siok Lan marah.


"Yu Tian! sesungguhnya kamu itu berpihak kepada siapa sekarang?" tanya Siok Lan dengan mengernyitkan kedua alisnya.


Xiao Yu memandang kaget dan hatinya sedih melihat betapa suara mesra lenyap dari mata bening itu, terganti sinar marah.


"Tentu saja saya berpihak kepada tuan muda, tapi Nona Xiao tidak berniat jahat pada tuan muda. Nona Xiao menerangkan bahwa tantang pesan ikatan jodoh itu dia sama sekali tidak tahu, sama sekali tidak pernah mendengar dari mendiang keluarganya. Karena itu, dia berpesan kepada saya agar menyampaikan permintaan maafnya kepada tuan muda, Nona Xiao juga berjanji kalau dia kelak akan pergi mencari dan menghadap orang tua tuan muda sebagai permintaan ma'afnya." ucap Yu Tian yang mencoba membuat suasana Siok Lan tenang.


"Aku tidak butuh kasihannya! Di mana dia?" tanya Siok Lan dengan garang.


"Tuan muda, harap dengarkan lebih dulu. Saya tidak tahu kemana dia pergi karena dia hanya meninggalkan pesan kalau tuan muda diminta segera pergi menyusul para pejuang kepegunungan di sebelah barat An bun. Nanti nona Xiao pasti akan meggabung ke sana. Percayalah, tuan muda kalau nona Xiao bukan seorang pembohong dan saya yakin kalian nanti bisa bercakap-cakap dan membereskan semua urusan." jelas Yu Tian ya g sangat berharap jika Siok Lan mempercayainya.


Siok Lan mengerutkan keningnya.


"Aku tidak bisa menyalahkan kamu Yu atian. Lagi pula, aku juga mendengar betapa anehnya Pendekar tanpa gelar itu." ucap Siok Lan yang sudah mengulas senyumnya.


Mereka pun berbagi tugas, Yu Tian mencabuti bulu ayam hutan yang dia bawa, sementara itu Siok Lan mencari kayu bakar yang ada disekitar tempat mereka.


Kemudian mereka membuat api dan memangang daging ayam hutan itu. Bau sedap gurih mengganggu perut Siok Lan yang seketika menjadi lapar sekali.


"Setelah ini kamu masih ikut denganku kan Yu Tian?" tanya Siok Lan yang penasaran


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2