
Thian Sung mengeluarkan teriakan serak seperti suara binatang liar, tangan kiri nya sebatas pergelangan tangan telah terbabat putus oleh pedangnya sendiri sehingga ia terhuyung huyung ke belakang.
Raut wajahnya pucat memandang lengannya yang sudah buntung, darahnya pun muncrat.
Sedangkan Xiao Yu, biarpun sudah miringkan tubuh, masih saja tak dapat menghindari senjata lempar itu yang menancap di bahu kanannya.
Pendekar tanpa gelar itu terhuyung huyung ke belakang, mencabut senjata lempar yang menancap dibahunya dan membuangnya.
Darah mengucar dari bahunya, akan tetapi tentu saja keadaannya tidak separah Thian Sung.
"Tangan kirimu terlalu jahat! terpaksa aku lenyapkan Thian Sung!" kata Xiao Yu terengah-engah menahan rasa nyeri di bahunya.
"Apakah kamu masih belum mau mengalah?" lanjut Xiao Yu yang membuat Thian sung diam, melotot dan menggereng-gereng perlahan, kemudian ia membungkuk menyambar tangan kirinya yang menggeletak di atas tanah itu dengan tangan kanan setelah menggigit padangnya, memandang tangan itu sebentar lalu mengantonginya.
Setelah itu, dengan darah dingin ia menotok jalan darah di lengan kirinya menghentikan aliran darah sehingga tidak mengucur keluar dan menotok jalan darah yang mengurangi rasa nyeri, kemudian mengambil pula pedangnya di tangan kanan.
"Belum, aku belum kalah! ayo teruskan!" seru Thian Sung dengan terengah-engah karena menahan rasa sakitnya.
Kemudian Thian Sung menggunakan pedangnya menubruk maju ke arah Xiao Yu.
"Luar biasa sekali kau Thian Sung!" seru Xiao Yu, seperti juga dengan semua orang yang menyaksikan pertandingan hebat itu memandang penuh kagum kepada panglima tua itu yang benar gagah perkasa dan besar nyalinya.
Xiao Yu menghadapi lawannya dengan tenang. Setelah kini lawannya tak dapat lagi menggunakan tangan kiri untuk menyerang dengan senjata lempar tentu saja dia jauh lebih unggul.
Biarpun pundaknya terluka oleh senjata lempar Thian Sung tadi, namun Xiao Yu masih cukup kuat menggerakkan ranting pohon untuk menangkis pedang, kemudian tangan kirinya menyusul dengan pukulan sinar saktinya.
Pukulan yang tidak menyentuh kulit lawan, namun hawa pukulan sakti itu cukup hebat sehingga Thian Sung terjengkang dan terguling guling diatas tanah.
"Apakah kamu masih sanggup Thian Sung!" seru Xiao Yu dengan suaranya yang sama sekali tidak mengandung maksud mengejek.
"Aku belum kalah!" seru Thian Sung yang sudah meloncat bangun lagi sambil menyerang dengan hebat.
__ADS_1
Panglima tua ini merasa betapa tubuh nya lemas, separoh tubuh bagian kiri sakit menusuk nusuk jantung. Akan tetapi sesuai dengan wataknya yang pantang mundur dan pantang menyerah selama ia masih mampu melawan, ia terus nekad menerjang.
"Oh, Kakek ini benar-benar keras hati dan keras kepala." gumam Xiao Yu yang sedikit kagum akan semangat Thian Sung.
Maklum bahwa kalau Thian Sung belum merasa tak berdaya, tentu takkan mau mengaku kalah.
Pedang yang panjang itu menyambar dengan kekuatan dan kecepatan dahsyat yang sukar untuk
dihindarkan oleh lawan pandai sekalipun.
Namun Xiao Yu tetap bersikap tenang itu sengaja berlaku lambat. Baru setelah pedang menyambar dekat leher ia secara tiba tiba merendahkan tubuhnya dan tongkat ranting di tangannya menyambar, tatapi sekali ini menotok ketiak kanan lawan hingga pedang yang dipegang tangan yang tertotok ini terlepas.
Tangan kirinya cepat mendorong dengan Sin kong ciang dan hanya menyentuh sedikit dada Thian Sung, tak berapa lama Pedang panglima itu terampas dan tubuh yang tinggi itu terjengkang lalu terbanting ke atas tanah.
"Aauughh....!"
Thian Sung mengeluh perlahan, berusaha bangkit akan tetapi tidak sanggup, sehingga ia hanya mampu duduk sambil mengelus-elus dadanya dengan tangan kanan.
"Pendekar tanpa gelar! kau hebat! Jurus sinar sakti dan jurus tongkat sakti memang benar-benar hebat! Kau memang benar muridnya, murid guru Sa Shuang! aku mengaku kalah!" seru Thian Sung dengan tersendat-sendat.
"Thian Sinh juga hebat, gagah perkasa sukar dicari bandingannya. Apakah sekarang bisa Anda bebaskan teman pejuang kami?" tanya Xiao Yu yang menjura dengan hormat.
Thian Sung menarik napas panjang.
"Aku seorang panglima, membebaskan para
pemberontak berarti sebuah kedosaan terhadap pemerintah dan biarlah aku akan hadapi hukumannya karena akupun seorang yang menjunjung sumpahku dan tidak akan menjilat ludah kembali. Aku telah berjanji karena aku sudah kalah! Nona, kau ajaklah teman temanmu pergi dari sini. Mulai saat ini kubebaskan kalian!" seru Thian Sung walaupun kecewa, tapi itulah yang harus dia tepati.
"Terima kasih, Thian Sung." ucap Xiao Yu yang menjura lalu ia menghampiri teman-temannya dan minta kepada mereka supaya cepat cepat pergi meninggalkan hutan ini.
Dan mulailah para pejuang itu dengan pimpinan masing-masing itu membawa teman yang terluka dan meninggalkan mereka, semuanya ini didiamkan begitu saja oleh pasukan Mongol.
__ADS_1
"Mengapa kamu menyamar sebagai laki-laki dan mengaku sebagai Yu Tian kepada Siok Lan ? Ah, apa pula artinya sandiwara itu!" seru Siok Lee yang menghampiri Xiao Yu.
"Ma'af saya tak bisa menjawabnya sekarang. Tuan muda Siok Lan, di mana dia?" jawab sekaligus tanya Xiao Yu yang kemudian menebarkan pandangannya untuk mencari keberadaan pemuda yang telah menawan hatinya itu.
"Hm, dia telah pergi melarikan diri ke selatan sana setelah mendapat kenyataan bahwa pelayannya Yu Tian itu tarnyata seorang gadis dan dia adalah Pendekar tanpa gelar." jawab Siok Lee yang menatap Xiao Yu dengan rasa masih tak percaya, dengan sosok gadis yang sangat hebat dihadapannya saat ini.
"Ah, maaf Kakek. Saya harus mengejar nya!" seru Xiao Yu yang kemudian berkelebat dan lenyap dari depan kakek itu.
Siok Lee menggeleng-gelengkan kepala sambil menarik napas panjang. Karena kejadian ini membuatnya teringat akan semua pengalamannya di masa muda dahulu dan tahulah ia apa yang sedang dirasakan oleh orang-orang muda itu, maka sambil berjalan perlahan agak terpincang meninggalkan tempat itu bersama para pejuang lainnya.
"Hm, orang muda yang sedang dimabuk cinta." gumam dalam hati Siok Lee seraya mengulas senyumnya seolah lupa akan rasasakit yang dia alami.
Sementara itu Siok Lan terus berlari secepatnya sambil membabat rumput-rumput liar yang menghalangi langkahnya, duri dan serbuk-serbuk bunga rumput liar yang menempel ditubuhnya tanpa ia perdulikan.
Hatinya terasa tidak karuan. Dia sendiri tidak tahu mengapa ia mngamuk dan melarikan diri.
Kalau ia meneliti perasaan hati dan jalan pikirannya, ia bisa gila. Betapa tidak, dia seharusnya merasa girang mendapat kenyataan bahwa Yu Tian itu seorang gadis yang selama ini ingin dia impikan dan dia sangat mencintainya itu ternyata bukanlah seorang pelayan biasa saja.
Yu Tian juga bukan seorang bodoh, melainkan dialah pendekar sakti yang dikagumi semua orang, yaitu Pendekar tanpa gelar yang selama ini dia cari karena kesombongannya yang tak menanggapinya sebagai tunangan yang telah dijodohkan oleh kedua kakek mereka.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1