Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Siok Lan yang tertangkap ll


__ADS_3

Pasukan lalu bergerak maju lebih cepat lagi agar mereka cepat-cepat dapat sampai di kota raja.


Siok Lan menghentikan usahanya untuk memberontak. Dia bukan seorang gadis bodoh dan nekad. Ia tahu bahwa akan sia-sia belaka kalau dirinya mencoba untuk lari dalam keadaan kedua tangan terbelenggu.


Lagi pula dia tahu bahwa kalau gagal lari, dia akan mengalami hal tidak enak, akan dipukul dan mungkin sekali tidak akan dibiarkan berjalan sendiri, kemungkinan pula kakinya akan diikat dan diseret tubuhnya dengan kuda atau diikat tubuhnya di atas kuda.


Karena itulah pemuda itu berjalanlah ia dengan sikap gagah sedikitpun tidak membayangkan wajah takut atau putus asa.


Tiba-tiba dia teringat kepada pelayannya, keningnya pun berkerut dan hatinya menjadi gelisah.


"Bagaimanakah nasip Yu Tian? apa mungkin dia itu telah dibunuh oleh pasakan ini?" pikir dalam hati Siok Lan yang hampir tidak kuat menahan air matanya.


Baru teringat betapa baiknya pelayannya itu terhadap dirinya betapa setia, dan betapa pandang mata pelayannya itu penuh perasaan mesra kepadanya.


Pada malam harinya Siok Lan tidur menggeletak begitu saja di bawah pohon, karena pasukan kemalaman di dalam hutan.


Sementara api unggun dibuat di sekeliling tempat pemberhentian sehingga keadaan remang-remang namun cukup hangat dan Siok Lan tidur di tengah-tengah, dikelilingi pasukan yang tidur malang melintang di sekeliling hutan itu.


Ada pula yang berjaga, ada yang meronda secara bergiliran. Biarpun pada malam hari, mereka tetap melakukan penjagaan yang amat ketat.


Peristiwa yang jarang terjadi hanya untuk mengamankan seorang tawanan saja.


Diam-diam Siok Lan menjadi geli dan juga merasa amat naik derajatnya. Tidaklah percuma ia menjadi tawanan kalau telah diperlakukan sepenting ini. Ia menduga-duga apa yang akan ia hadapi di kota raja.


"Apakah mereka ini menawan ku benar-benar untuk memancing para pemberontak? Apakah benar para pemberontak benar akan muncul?" gumam dalam hati Siok Lan.


Kakeknya sudah lama mengundurkan diri karena merasa usia tua, akan tetapi siapa tahu


kalau kakeknya itu aktif kembali membantu perjuangan para pemberontak, dan siapa tahu kalau kakeknya itu bersama kawan-kawannya benar benar mendengar bahwa ia ditawan dan akan datang menolongnya.


Selain kakeknya, siapa lagi yang dapat ia harapkan untuk membebaskannya daripada pasukan yang kuat ini.


Malam hari itu, menjelang tengah malam, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi juga menyeramkan bulu kuduk.

__ADS_1


Siok Lan tentu saja tidak dapat tidur pula dalam keadaan terbelenggu kedua tangannya itu mendadak kaget dan bangun duduk.


Juga semua anggota pasukan terkejut bahkan beberapa yang meloncat bangun berdiri dan saling pandang.


Suara melengking lengking seperti suara setan, dan seperti sangat menyedihkan akan tetapi juga mengandung ketawa mengejek.


Sewaktu semua orang saling pandang, sekali lagi lengking itu berbunyi lagi dan sekali ini amat nyaringnya, mempunyai daya getaran hebat sehingga jantung yang mendengarnya serasa disayat, membuat kedua kaki menggigil.


Kemudian tampaklah berkelebatan sosok bayangan hitam diantara pohon pohon. Melihat ini gegerlah para pengawal dan mereka semua mencabut senjata melakukan pengejaran ke arah pohon besar di mana tadi mereka melihat bayangan hitam itu melompat.


"Pemberontak jahat, turunlah !" bentak seorang perwira.


Lalu kembali terdengar suara melengking dari atas pohon dan bayangan hitam itu menyambar turun, disambut oleh hantaman pedang dan golok empat orang perajurit.


Akan tetapi bayangan hitam yang bertangan kosong itu dengan gerakan aneh telah menyelinap, merampas sebatang pedang, menggerakkan pedang rampasan seperti kilat menyambar dan robohlah keempat orang perajurit itu sambil mengeluarkan pekik mengerikan.


"Aaaarghh...!"


Para perajurit makin marah dan melakukan pengejaran.


"Berhenti ! Jangan kejar dia! Jangan tinggalkan tawanan !" bentak perwira Mongol yang cerdik dan yang agaknya dapat menduga akan maksud kedatangan bayangan hitam itu.


Tentu si bayangan hitam hendak memancing para perajurit mengejarnya dan meninggalkan tawanan sehingga mudah untuk dirampasnya.


Setelah keadaan sunyi kembali, empat orang perajurit yang terluka dirawat, penjagaan di perketat.


Siok Lan menduga-duga siapa gerangan bayangan hitam itu. Dia sendiri tidak dapat menduga tepat dan mengingat siapakah orang sakti yang mengeluarkan suara melengking seperti itu.


Jantungnya berdebar. Siapakah orangnya yang berusaha menolongaya itu jelas bukan kakeknya atau ayahnya.


Karena tidak dapat menduga tepat ia lalu memasang telinga mendengarkan tiga orang perwira yang bercakap-cakap tidak jauh dari tempat ia duduk bersandar batang pohon.


Prajurit itu sedang membicarakan si bayangan hitam yang mengacau tadi.

__ADS_1


"Siapa bayangan hitam itu?" tanya prajurit pertama.


"Apakah mungkin dia si setan kipas merah? karena dia juga mengeluarkan suara yang memekikkan telinga!" tebak prajurit kedua.


"Setan kipas merah? Ah, tapi dia tidak pernah memusuhi kita, dan kalau betul dia mengapa bergerak secara rahasia?" kata perwira tinggi besar yang mendengarkan percakapan para prajuritnya.


"Lagi pula Setan kipas merah itu adalah seorang tokoh aliran hitam dan tawanan ini cucu seorang tokoh aliran putih, jadi mana mungkin seorang tokoh hitam seperti setan kipas merah itu hendak menolongnya!" seru prajuri lain.


"Hm, kau keliru. Apakah kau tidak mendengar desas-desus yang ramai di dunia persilatan bahwa sekarang ini muncul Setan kipas merah yang bukan dengan setan kipas merah yang dahulu. Tak seorang pun tahu, yang jelas tanda-tandanya sama yaitu selalu membunyikan suara lengkingan dalam setiap aksinya." jelas prajurit kedua.


"Memang aneh! Sepanjang pendengaranku. Setan kipas merah adalah seorang laki-laki cabul, gila laki laki tampan, menculik para wanita cantik yang dipaksa melayani nafsunya yang tak kunjung


padam, kemudian setelah kenyang dan bosan ia membunuh setiap orang korbannya." ucap prajurit pertama


"Kabarnya dia tampan sekali seperti pangeran-pangeran kerajaan!" ucap prajurit ketiga.


Siok Lan tidak mau mendengarkan mereka lagi, Ia memejamkan mata.


"Apa mungkin itu setan kipas merah? kata kakek, setan kipas merah itu adalah murid Siauw Bo yang amat jahat dan keji dan ia pun sudah mendengar kalau Pendekar tanpa gelar yaitu tunangannya, yang tidak memandang mata kepadanya itu, yang mengangkat nama besarnya justru setelah membasmi sarang setan kipas merah dan gurunya itu!" gumam dalam hati Siok Lan yang masih saja memejamkan kedua matanya.


Tiba tiba telinganya kembali ia pusatkan untuk mendengarkan percakapan mereka, dan kini mereka menyebut nama Pendekar tanpa gelar.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2