Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Perjalanan Pelayan dan Majikan


__ADS_3

Karena Ia akan menjadi kesal setengah mati kalau harus menjalankan kudanya perlahan lahan, mengimbangi si pelayan yang berjalan kaki begitu lambat. Akan tetapi, sejam kemudian Siok Lan menghentikan kudanya dan termangu-mangu di atas kuda


"Kenapa aku tiba-tiba merasa kasihan sama pelayan itu? Ah, biar kutunggu dia di sini." gumam dalam hati Siok Lan yang kemudian dia melompat turun dan duduk di bawah pohon yang teduh.


Akan tetapi dia sangat terkejut, saat melihat bayangan si pelayan itu yang melenggang. Demikian pula dengan Xiao Yu yang juga terkejut ketika di tikungan itu ia melihat Siok LAN yang duduk menantinya.


Hal ini sama sekali tidak pernah disangkanya. Karena mengira bahwa pemuda itu benar-benar meninggalkannya sampai ke dusun di depan, maka tadi karena tidak ingin tertinggal jauh, maka ia telah mempergunakan jurus meringankan tubuhnya.


Siapa kira pemuda itu kini berhenti dan menantinya. Kemudian ia mencari akal, ia berpura-pura lari terhuyung-huyung napasnya terengah-engah serta begitu tiba 247


di depan pemuda itu, ia lalu menjatuhkan diri pura-pura kelelahan.


"Waduh tuan muda! bisa-bisa putus napas ku kalau begini!" seru Xiao Yu dengan terengah-engah.


"Yu Tian, kenapa kau berlari-lari?" tanya Siok Lan yang bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki menghampiri pelayannya.


"Habis, tuan muda memacukan kuda dengan kencangnya. Karena itulah saya tidak mau tertinggal jauh. Namanya saja pelayan, tentu harus selalu mengiringi majikannya. Masa harus melakukan perjalanan terpisah?" jawab Xiao Yu yang berusaha merendah.


"Hei, itu salahmu sendiri!" seru pemuda yang saat ini ada dihadapan Xiao Yu.


"Hei, salah saya sendiri tuan!" seru Cucu pendekar Pedang Naga itu mengangkat sepasang alisnya yang memandang heran pada Siaok Lan. "


"Kau tidak seperti pelayan, eh!maksudku tidak patut menjadi pelayanku." ucap Siwon Lan yang mengulas senyum tipisnya.


Xiao Yu melirik ke arah pakaiannya. Pakaiannya memang sudah sederhana, cukup patut menjadi pelayan.


"Mengapa tidak patut, tuan muda? Memang benar saya pelayan." ucap Xiao Yu yang penasaran.

__ADS_1


"Tidak, kamu lebih pantas menjadi seorang perantau, malah.. hemm... Kamu membawa tongkat bambu, malah seperti pengemis muda!" seru Siok Lan seraya menunjuk ke arah tongkat yang dibawa Xiao Yu.


"Ahhh ini ya! Sesungguhnya saya itu amat takut terhadap anjing, tuan.


Mengerikan sekali, sebab itu saya bawa tongkat ini buat menjaga diri untuk mengusir kalau ada anjing yang mau menggigit." jawab Xiao Yu yang sekenanya.


"Hwi, kamu ini laki-laki muda! kenapa takut sama anjing? tunjukkan tenaga dan wibawa kamu sebagai laki-laki!" seru Siok Lan seraya menunjukkan lengan kanannya, dan menyikap kain uang menutupi lengan dan terlihatlah otot lengannya yang membuat decak jantung Xiao Yu melompat-lompat.


Xiao Yu diam-diam tersenyum dan sangat kagum dengan otot pada lengan kanan yang Siok Lan tunjukkan padanya.


"Kalau dekat dengan tuan muda yang saya tahu amat pandai, tentu saya tidak takut. Biarlah saya yang menuntun kuda taun muda, jadi saya selalu dapat berdekatan serta tidak takut lagi digigit anjing, juga lebih patut kalau terlihat orang!" ucap Xiao Yu yang mengusulkan.


"Hm, tetapi perjalananku akan menjadi lambat sekali!" seru Siok Lan sedikit kesal.


"Kenapa Tuan muda tergesa-gesa? Bukankah kita mencari orang kalau dengan tergesa-gesa, siapa tahu orang itu justru berada di tempat yang telah kita lewati!" seru Xiao Yu yang dalam hatinya tersenyum-senyum karena melihat tingkah Siok Lan.


Girangnya hati Xiao Yu, karena sudah tiga kali pemuda itu membenarkan pendapat dan menurut padanya. Walaupun kelihatannya galak, tetapi sebetulnya Siok Lan punya pendirian yang adil. Dia suka mendengar kata-kata orang lain dan tidak membawa maunya sendiri.


Sifat seperti ini adalah sifat yang baik sekali, sebab memperlihatkan watak yang bijaksana mau menurut kata-kata orang lain biarpun orang itu cuma pelayan atau masih muda.


Berangkatlah mereka dengan Siok Lan duduk di atas kudanya. Sementara Xiao Yu berjalan di depan kuda, menuntun kuda yang ditunggangi Siok Lan.


Mula-mula Siok Lan yang keisengan mengajaknya bercakap-cakap bertanya soal keluarga Xiao. Bahkan bertanya tentang nama Pendekar Tanpa Gelar itu.


"Kau tentu tahu, siapakah nama cucu Xiao Chen yang kini menjadi Pendekar Tanpa Gelar itu Yu Tian?" tanya Siok Lan seraya menatap Xiao Yu dari atas kuda.


"Xiao Yu tuan muda." Jean Xiao Yu sambil tetap menuntun kuda tanpa menoleh ke belakang, agar nona itu tidak melihat perubahan pada wajannya.

__ADS_1


"Bagaimana dia dahulu bisa terbebas dari tangan Siauw Bo? Dan kamu sendiri bagaimana bisa bebas? Bukankah Siauw Bo membasmi seluruh keluarga itu berikut semua binatang peliharaan yang berada di situ?" tanya Siok Lan dengan rasa penasarannya.


"Waktu itu kebetulan sekali saya pulang ke kampung, tuan muda. Dan ketika keesokan harinya saya kembali ke perguruan Pedang seribu, mereka telah tewas semua, kecuali Xiao Yu yang entah pergi ke mana tak seorangpun mengetahuinya. Saya sendiri juga tidak tahu serta tidak bisa menduga, lalu saya hidup sebagai petani di kampung dan setahun sekali saya mendatangi bekas rumah keluarga Xiao. Buat bersembahyang di kuburan. Tahun lalu saya bertemu dengan Xiao Yu di kuburan." cerita Xiao Yu yang tentunya dia sedang mengarang sendiri.


"Bagaimana dia? Betul-betul cantik dan lihaikah dia? Mana lebih lihai antara dia dan aku?" tanya Siok Lan dengan penasaran.


"Bagaimana saya bisa tahu kehebatan nona Xiao? kami cuma bertemu sapa saja. Akan tetapi, melihat tuan muda saat memukul delapan orang penjahat tadi, pasti tuan muda lebih lihai dari pada nona Xiao!" ucap Xiao Yu yang membuat Siok Lan girang.


Mendengar hal itu, Siok Lan tersenyum-senyum dan wajahnya berseri seri sehingga geli hati Xiao Yu ketika menengok dan mengerling ke arah wajah yang tampan itu.


"Tuan muda yang amat hebat, benar-benar membuat saya heran. Seorang pemuda yang masih begini muda sudah memiliki kepandaian yang mengalahkan delapan orang penjahat. Kalau tidak menyaksikan sendiri, mana bisa saya percaya!


Tentu nona ini murid seorang yang sakti seperti dewa dan yang kepandaiannya agaknya lebih tinggi dari pada mendiang Tuan Xiao Chen sendiri!" ucap Xiao Yu yang memancing Siok Lan dengan berusaha membanggakan hati pemuda yang menjadi majikannya saat ini.


Dan pancingan Xiao Lan ini berhasil baik sekail. Dengan penuh semangat, tanpa Siaok Lan sadari bahwa pemuda itu telah menceritakan riwayatnya kepada Xiao Yu yang saat ini menjadi pelayannya,


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2