
"Mau kulihat apakah kau masih mampu membantingku!" seru Cun Sam yang secepat kilat menangkap tangan kanan Xiao Yu yang memukulnya itu, kini menangkap dengan kedua tangannya, memutar tubuh dan mengerahkan semua tenaga dalamnya mengangkat tubuh gadis itu dari belakang tubuhnya.
Namun alangkah terkejutnya dia, ketika tubuh gadis itu sama sekail tak dapat ia angkat. Ia mengerahkan tenaga lagi. Dengan gerakan lebih kuat lagi, bahkan akan mampu menarik jebol sebatang pohon berikut akar akarnya.
"Tak percaya gadis ini tak dapat aku tundukkan!" gumam dalam hati Cun Sam.
Ketika kakek jenggot putih itu menahan napas tiba-tiba dia berteriak keras, kemudian tubuhnya melayang ke arah Siauw Bo yang menonton jalannya pertandingan dengan sedikit khawatir.
Melihat datangnya tubuh pelayan kepala ke arahnya, Siauw Bo menggerakkan tangan kiri dengan jari-jari tangan terbuka Siauw Bo mendorong tubuh Cun Sam. Dan tubuh itu terdorong ke samping, jatuh berdiri dengan terhuyun-huyung.
Keringat dingin membasahi tubuh kakek itu, dan membuktikan kata gadis itu ketika tadi menyatakan bahwa gadis itu datang hanya untuk membalas dendam kepada Siauw Bo dan gadis itu benar tidak ingin mencelakakan orang lain.
Maka kakek ini tahu diri dan tanpa berkata sesuatu melangkah mundur, merasa bahwa ilmu kepandaiannya masih jauh untuk dapat menandingi gadis itu.
Siauw Bo kini bangkit dari tempat duduknya. Sejenak keadaan sunyi senyap. Perompak buaya merah yang berdiri di sudut memandang dengan jantung berdebar, demikian juga Cun Sam berdiri dengan pandang mata penuh ketegangan.
Kedua mata Siauw Bo seperti mengeluarkan cahaya yang berapi-api dan kini ia tak dapat lagi menghindari pertandingan maut melawan gadis yang pernah menggigit tengkuknya sampai terluka.
"Gadis tengik! jadi kau adalah cucu Xiao Chen ya?" tanya Siauw Bo dengan suara mengandung kemarahan. Namun hanya matanya yang membayangkan kemarahan disamping suaranya, mulutnya masih tersenyum manis dengan wajahnya berseri dan sikapnya yang tenang.
"Bagus sekali, kamu masih ingat aku!" jawab Xiao Yu sambil melangkah maju dan mencabut tongkat rotan-nya.
"Hmm, siapakah namamu?" tanya Siauw Bo yang penasaran.
"Kau dengar baik baik, namaku Xiao Yu! Kamu telah membasmi semua keluargaku, padahal yang bermusuhan denganmu hanyalah mendiang kakekku.Tapi kenapa kamu menghukum keluargaku yang lainnya? Dan karena itu aku datang untuk menghukummu Dan aku tidak mau menyangkutkan lain orang, hanya kamulah yang harus binasa di tangan ku, atau aku yang akan mati di tangan-mu!" seru Xiao Yu.
"Sekarang bersiaplah, hei Si Kipas emas penebar Maut!" lanjut seru Xiao Yu.
Mendengar seruan Xiao Yu, dengan gerakan perlahan Siauw Bo meraba pinggangnya dan dirasakan sebuah kipas yang berada di pinggangnya. Kemudian dia mengangkat kipas itu dan bersiap melemparkan kipas itu ke arah gadis dihadapannya.
"Hai gadis tengik! Lihatlah sejak dulu sampai sekarang, senjataku masih tetap kipas emas, tetapi Xiao Chen yang mengaku sebagai Pendekar Pedang Naga, ternyata mempunyai cucu yang rendah sekali! Ha ..ha...! senjatanya bukannya pedang kebanggaan kakeknya, melainkan sebatang tongkat seperti seorang pengemis!" seru Siauw Bo yang sudah menduga kalau Xiao Yu pastilah menjadi murid dari Sa Shuang, Nenek si Tongkat Sakti.
Keyakinannya itu berdasarkan dari gerakan Xiao Yu yang memainkan jurus tongkat sehebat permainan Sa Shuang.
__ADS_1
"Hei, apa kau takut dengan tongkatku?" tanya Xiao Yu yang tersenyum lalu menyimpan tongkatnya kembali di pinggang, kemudian ia membuka bajunya sehingga gagang pedang yang tertutup baju itu nampak.
"Hei nenek genit, kau tak usah khawatir.
Kalau kau masih menantang mendiang kakekku Si pendekar pedang Naga yang belum pernah bisa kau kalahkan, akulah sekarang menjadi wakilnya. Dan aku sebagai cucunya akan menghadapimu memakai pedang untuk membuktikan bahwa sebagai cucu pendekar pedang naga, tentunya tak asing dengan jurus-jurus pedang!" lanjut ucap Xiao Yu yang tetap dengan mengulas senyumnya.
"Hm, baiklah akan aku lihat seberapa hebat ya kepandaianmu gadis tengik!" seru Siauw Bo yang sudah bersiap melemparkan kipas emasnya.
"Weeet....weeet ...!"
Siauw Bo melempar kipas emasnya seperti boomerang yang terus menyerang Xiao Yu dari berbagai sudut, dan terkadang kipas emas itu kembali lagi ke tangan empunya.
Tujuh belas tahun yang lalu Xiao Yu hampir binasa karena serangan kipas-kipas emas milik Siauw Bo, kalau saja ia tidak ditolong sa Shuang gurunya.
"Trang ..Trang ...Trang ..!"
Xiao Yu melawan dengan menangkis setiap serangan kipas emas itu dengan pedang yang ada di tangannya.
"Trang ..Trang ...Trang ..!"
"Trang ..Trang ...Trang ..!"
"Trang ..Trang ...Trang ..!"
"Trang ..Trang ...Trang ..!"
"Trang ..Trang ...Trang ..!"
"Trang ..Trang ...Trang ..!"
Dan beberapa menit kemudian, Siauw Bo nampak kewalahan dalam meladeni gerakan jurus pedang Xiao yu.
Tak salah apa yang Siauw Bo khawatirkan, bahwa gadis yang menjadi lawannya kini sudah mewarisi kepandaian Sa Shuang.
__ADS_1
Jika saja pendekar Pedang Naga masih hidup, kiranya masih tidak sehebat cucunya ini dan Siauw Bo tentu akan memilih pendekar Pedang Naga sebagai lawan daripada murid Sa shuang itu.
Kemudian Siauw Bo mengambil cawan berisi arak yang terletak di atas meja di depannya lalu tertawa.
"Ha...ha...ha...! kiranya cucu Xiao Chen bukan orang sembarangan. Gadis kecil, saat ini kamu telah menjadi tamu agung di istana Tengah Hutan ini, Walaupun kamu tamu yang akan menantang bertanding, selayaknya disambut dengan arak. Terimalah ini!" seru Siauw Bo seraya melontarkan cawan arak itu ke arah Xiao Yu.
Cawan berisi arak itu terputar putar seperti gasing di udara. Dan anehnya araknya sama sekali tidak tumpah. Kemudian terdengarlah suara berdesing, menandakan bahwa cawan itu terputar semakin cepat.
.
Seperti dipegang tangan yang tak tampak cawan itu bergerak gerak dan selama berputar cepat, juga membuat gerak lingkaran di udara seperti ragu-ragu hendak turun. Luar biasa sekali tenaga tak tampak yang mengusai cawan ini, padahal Siauw Bo cuma mengulurkan tangan kanan ke arah cawan. Seakan jari tangan Siauw bo yang terbuka itu keluar hawa yang mengusai cawan arak.
Sementara itu Xiao Yu meloncat dan kemudian menginjak lantai di mana tadi Siauw bo lewat, ia tidak mau terperosok ke dalam perangkap si kipas emas penebar maut itu.
"Prang....!"
Cawan arak itu jatuh secara ambyar di atas lantai tepat dihadapan Xiao Yu.
"Kurang ajar!" umpat Siauw Bo yang kemudian melesat ke sebuah ruangan.
Xiao Yu meningkatkan kewaspadaannya, kalau saja para perompak buaya merah dan juga Cun Sam bergerak menyerangnya.
Tapi dugaannya ternyata salah, mereka tidak bergerak dari tempatnya dan juga bayangan para penjaga di luar ruangan itu tidak ada yang bergerak.
Ruangan dimana yang dimasuki Siauw bo ini merupakan raungan yang bentuknya bundar, luasnya cukup untuk bertanding silat dengan garis tengah tidak kurang dari lima meter itu.
...~NR~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...