Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Melawan Empat Perompak Buaya Merah


__ADS_3

Setelah mengeluarkan bentakkan itu, peti hitam yang masih tersimpan di tangan kirinya, ia lontarkan dengan tenaga sekuatnya ke arah tubuh gadis yang berpakaian warna merah muda itu.


"Wuuuutttt....!"


Peti hitam itu meluncur cepat ke arah kepala Xiao Yu dan isi peti itu beratnya seratus dua puluh lima kilogram ditambah berat peti itu sendiri tentu tidak kurang dari seratus lima puluh kilogram itu, dilontarkan oleh pendekar aliran hitam itu merupakan serangan dahsyat dan berbahaya. Dinding bata sekalipun akan ambruk dihantam lontaran peti ini, apalagi kepala dan tubuh manusia biasa.


Xiao Yu yang menyadari akan bahayanya serangan itu, dengan tenang ia menggerakkan tongkat rotan di tangan kanannya. Gadis itu menyambut datangnya peti yang sudah menjadi bayangan hitam menyambarnya itu.


Begitu ujung rotan menyentuh tengah peti, ia mengerahkan tenaga dalamnya dengan menyentakkan tongkatnya berjungkir ke atas dan peti hitam itu terbawa melayang ke atas dan kini berputaran cepat di atas ujung rotan.


Rotan yang hanya sebesar ibu jari kaki itu membal-membal seperti mau patah, namun ternyata tidak patah dan gerakan pergelangan tangan Xiao Yu itulah yang penuh tenaga dalam yang menyebabkan peti itu seperti permainan seorang akrobat.


"Terimalah kembali...!" seru Xiao Yu seraya menggerakkan tangan dan peti hitam itu melayang ke arah Cun Sam dalam keadaan tetap berputaran.


"Cun Sam jangan terima!" seru Siauw Bo yang kaget karena maklum akan bahayanya menerima lontaran peti hitam yang berputar seperti itu.


Namun terlambat karena Cun Sam kurang perhitungan dan sambil mengarahkan tenaga dalamnya, laki-laki itu menyambut peti hitam yang melayang ke arahnya itu. Begitu peti berada di kedua tangannya, dia sangat terkejut karena tubuhnya ikut terseret dan berputaran.


Bisa saja laki-laki itu roboh dan terancam bahaya tertimpa peti. Tetapi untung baginya sewaktu ia berputaran tubuhnya lewat di dekat dua perompak buaya Merah.


Melihat tubuh pelayan Cun Sam itu berputaran, dua anggota perompak itu pun maju menahan dengan memegangi lengan cun Sam dari kanan kiri. Akibatnya, tubuh tiga orang itu terhuyung dan hampir roboh.


Keringat dingin mengucur di tubuh Cun Sam ketika ia meletakkan peti hitam ke atas lantai.

__ADS_1


Sementara perompak buaya merah tidak mau kalah dalam hal mencari muka di depan Siauw Bo, mereka mencabut golok masing masing dan terus meloncat maju mengurung Xiao Yu


Melihat gerakan empat orang anak buahnya ini, Siauw Bo tidak mencegah. Dia teringat apa yang dikatakan gadis yang memakai pakaian merah muda itu, tanpa disadari lagi tangannya meraba tengkuknya dan kebetulan jari jarinya itu yang berkulit halus meraba bekas luka kecil di tengkuk itu.


Mukanye seketika itu berubah pucat. Sebab luka kecil ini mengingatkan ia kepada semua peristiwa yang terjadi tujuh belas tahun yang lalu.


Ingatannya pada wajah seorang anak perempuan berusia tiga tahun yang dulu pernah merangkul leher serta menggigit tengkuknya, yaitu cucu pendekar Pedang Naga Xiao Chen. Dan satu-satu nya keturunan Xiao Chen yang lolos dari tangan mautnya. Anak yang ditolong oleh Sa shuang. Dan ternyata anak ini setelah menjadi seorang pendekar yang hebat, dan datang untuk mencarinya.


Sudah pasti bisa di tebak kalau niat gadis itu untuk membalas dendam, Siauw Bo jadi bengong biarpun ia tidak merasa takut. Namun teringat kepada Sa Shuang ia merasa ngeri juga.


Itulah sebabnya kenapa seorang Siauw Bo yang biasanya tidak suka mengandalkan bantuan anak buahnya dalam menghadapi musuh, kini membiarkan saja perompak buaya merah mewakilinya melawan gadis itu. Hal itu karena Siauw Bo mau mengukur sampai di mana kemampuan cucu Xiao Chen itu yang ia tahu pasti tak akan mau hidup bersama dia di atas bumi ini.


Perompak buaya merah juga bukan orang orang sembarangan. Mereka adalah bekas kepala kepala bajak sungai yang sudah mempunyai pengalaman bertempur puluhan tahun. Golok yang mereka pegang seolah olah sudah mendarah daging di tangan mereka serta telah minum darah beberapa ratus musuh


.


Merasa bukan orang bodoh dan tanpa adanya keyakinan ini, mereka pun tidak akan mau mengorbankan diri. Mereka dapat menduga bahwa lawannya kali ini cukup lihai, segera memberi tanda rahasia kepada teman-temanya dan serentak mereka melakukan serangan secara bersama-sama, atau setidaknya serangan mereka itu sambung menyambung secara otomatis. Sehingga jika lawan mengelak dari serangan golok pertama tentu ia akan disambut golok kedua dan seterusnya.


Betapapun pandai dan gesit gerakan lawan, menghadapi sambaran golok dari empat jurusan yang sambung menyambang dan menutup "pintu" di empat penjuru ini, kiranya tidak akan mudah membebaskan diri.


Namun Xiao Yu sama sekali tidak mengelak ketika menghadapi serangan ganda yang serentak datangnya ini. Hanya nampak tangannya yang memegang tongkat rotan bergerak cepat sekali sehingga sukar diikuti pandangan mata, begitu cepatnya sehingga mata keempat orang pengeroyoknya menjadi silau tertutup sinar kuning yang menggulung.


"Trang.....! trang....! trang.....!"

__ADS_1


Suara dua senjata beradu dengan serunya, antara golok si perompak buaya merah dan juga tongkat rotan Xiao Yu.


Dengan tiba-tiba empat buah golok itu telah terlepas dari tangan, lalu terlempar dan jatuh berkerontengan di atas lantai.


Keempat perompak buaya merah yang selama hidupnya belum pernah mengalami hal seperti ini, memegangi tangan kanan masing-masing yang tertotok lumpuh. lalu mereka berteriak satu persatu terus jatuh berlutut karena ternyata lutut merekapun tiba-tiba saja lumpuh.


Siauw bo terkejut bukan main, memang ia tahu bahwa jurus perompak buaya merah tidak bisa diandalkan. Namun mereka itu adalah jago jago tua berpengalaman luas.


Dengan cara bagaimana bisa dirobohkan begitu mudahnya oleh gadis itu dan Siauw Bo bisa melihat gerakan tongkat rotan yang bergetar menjadi banyak sekali, lalu secara berturut turut telah menyambar secepat kilat mendahului gerakan perompak buaya merah, dan menotok pergelangan tangan keempat perompak buaya merah itu yang sedang memegang golok sehingga golok tersebut terlepas.


Kemudian memakai kesempatan selagi keempat orang itu kaget memegangi tangan kanan, ujung rotan dengan menotok jalan darah di dekat lutut sehingga hal itu tak dapat dicegah lagi oleh perompak buaya merah dan mereka jatuh berlutut di depan si gadis berpakaian merah muda itu.


Tapi ternyata totokan-totokan itu hanya membuat lumpuh sementara saja. Para perompak buaya merah kini sadar akan situasi dan dengan cepat melompat bangkit dengan muka merah karena malu dan marahnya.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2