Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Cinta tumbuh di saat perjuangan


__ADS_3

Kemudian Yang Tek dan Gui Siong mengajak Han Wen dan Tan Li menuju ke markas mereka. Selain untuk menyusun rencana mereka, juga untuk beristirahat memulihkan kekuatan mereka yang sudah hampir terkuras saat melawan Perwira Mo Yo dan juga pasukannya.


Pemerintah Goan adalah pemerintah penjajah, kaisarnyapun seorang asing. Kaisar kerajaan Goan kedua, yaitu Kubilai Khan, boleh jadi seorang kaisar yang besar dan pandai. Akan tetapi iapun tidak memperdulikan nasib rakyat jelata, rakyat kecil dan miskin.


Bukan saja tidak memperdulikan, bahkan dia membutakan mata terhadap kenyataan betapa semua perintah perintahnya dilaksanakan oleh para penguasa dengan jalan memeras, menginjak, dan memperkuda rakyat jelata.


Pembuatan saluran dan terusan yang dimaksudkan untuk memperlancar hubungan dari selatan ke utara, dilaksanakan secara keji. Rakyat dipaksa bekerja rodi dipaksa mengalami hidup seperti dalam neraka, kerja berat secara paksa kadang kadang tanpa ransum dan sanpai mati di tempat kerja, dikubur begitu saja oleh teman teman senasib di tempat kerja, ada kalanya dicambuk sampai mati.


Tidaklah mengherankan apabila banyak diantara rakyat yang sudah tidak dapat menahan kesengsaraan jadinya mereka memberontak.


Di sana sini muncul pemberontakan dan di sana sini muncul kekacauan kekacauan.


Pemerintah Mongol (Goan) berusaha menggencet pemberontakan ini dengan kekerasan.


Memang di banyak tempat mereka berhasil membasmi kaum pemberontak, namun tak bisa membasmi rasa dendam dan benci dari hati rakyat.


Negara tidak akan dapat menjadi tenteram, damai dan makmur kalau rakyatnya gelisah diamuk benci dan dendam. Akibatnya, kekacauan terus menerus, padam di sini timbul di sana, reda di sana bergolak di sini.


Yang Tek, Gui Siong, Han Wen dan Tan Li terus menerus memimpin pasukannya mengadakan kekacauan di daerah penjagaan di sekitar terusan yang digali. Makin banyak pengikut pasukan ini, sampai mencapai jumlah lebih dari dua ratus orang. Sebagian besar dari mereka adalah pekerja pekerja yang berhasil lolos keluar dengan bantuan pasukan ini.


Karena mereka semua telah mengalami penyiksaan dan penderitaan yang amat hebat di dalam neraka dunia ketika menggali terusan itu maka rasa dendam dan kebencian mereka membuat mereka semua ini menjadi sebuah pasukan berani mati yang amat luar biasa.


Mereka tidak mempunyai markas tertentu, selalu berpindah pindah tempat di daerah lembah sungai yang banyak hutannya, dan selalu muncul di saat yang tidak tersangka sangka lawan, di tempat tempat yang selalu kurang penjagaannya sehingga banyaklah para penjaga yang terbunuh.


Kalau pasukan penjaga mengadakan penyergapan dengan pasukan yang besar dan kuat, mereka hilang seperti ditelan bumi untuk kemudian muncul di tempat lain yang penjagaannya kurang kuat lalu menghancurkan pasukan penjaga di situ.


Dalam perjuangan itu, dua pasang orang muda itu makin lama makin saling tertarik. Bagi Yang Tek dan Gui Siong memang dua orang pemuda murid biksu Ji itu bukan pemuda-pemuda biasa saja, tapi semenjak pertama ketika bertemu hati mereka telah dicuri. Apa lagi ketika guru mereka, menyatakan merasa bahagia sekali kalau dua orang muridnya itu dapat mengikat perjodohan dengan dua orang murid laki-laki dari sahabat baiknya itu.


Persoalan ikatan jodoh itu terhenti sampai di situ saja dan selama setahun tidak diusik usik kembali. Kini seolah olah Tuhan sendiri yang mengatur sehingga mereka tidak hanya dapat bertemu di tempat yang tak disangka sangka, bahkan mereka terus dapat berkumpul dan berjuang bahu membahu.

__ADS_1


Yang Tek makin lama makin tertarik kepada Han wen, pemuda pendiam yang tampan dan gagah perkasa itu.


Dan Gui Siong yang halus lembut dan hati hati itu makin lama makin tergila gila kepada Tan Li, pemuda manis yang jenaka itu.


Akan tetapi mulut mereka tetap membungkam, berat dan sukar rasanya untuk membuka kata menyampaikan rasa cinta dengan suara. Apalagi bagi Ouwyang Tek yang memang pendiam dan tidak pandai bicara, tiap kali hendak mengaku cinta, lehernya seperti tercekik tangan yang tak tampak sehingga jangankan mengeluarkan kata kata bahkan bernapaspun sukar rasanya, sedangkan Gui Siong yang biasanya pandai bicarapun kalau berhadapan dengan Tan Li, seperti mati kutu.


Pada suatu malam empat orang muda ini mengadakan sebuah serbuan pada sebuah tempat penjagaan yang cukup kuat dijaga oleh seratus orang lebih penjaga, sedangkan jumlah penyerbu yang dipimpin keempat orang muda itu hanya ada tujuh puluh orang.


Akan tetapi karena penyerbuan dilakukan pada tengah malam secara tiba-tiba dan tak terduga duga, maka pasukan penjaga menjadi panik.


Apalagi karena pasukan penyerbu yang dipimpin empat orang muda perkasa itu adalah pasukan pilihan yang sudah terlatih, sudah belajar jurus-jurus pokok dalam perang campuh seperti itu, diambil dari jurus jurus ilmu silat tinggi keempat orang muda itu.


Terjadilah pertempuran hebat atau lebih tepat tahanan rakyat itu dan para penjaga di tahanan rakyat itu dihancurkan malam itu juga.


Mereka berusaha melawan namun sia sia dan mulailah tempat itu banjir darah dan mayat mayat roboh bergelimpangan.


Pedang Yang Tek, GUI Siong ,Han Wen dan Tan Li meraih jangkauan maut yang sukar dihindarkan musuh. Kemana pedang mereka berkelebat, tentu ada lawan yang roboh.


"Kak Han wen sudah beberapa orang korbanmu?" tanya Yang Tek saat mereka selesai merobohkan beberapa penjaga tahanan rakyat itu.


"Sudah tak terhitung lagi." jawab Han Wen seraya tersenyum. Karena itulah yang selalu ditanyakan gadis pujaannya itu setiap kali mereka bertempur melawan musuh.


Han wen merendahkan tubuh untuk membiarkan sebatang golok terbang lewat di atas kepala, lalu dari bawah pedangnya menusuk perut seorang pengeroyok yang menjerit dan roboh di bawah kaki si pemuda.


Yang Tek miringkan tubuhnya karena ada tombak yang akan menusuk dada, begitu tombak lewat ia menjepit batang tombak di dalam kempitan lengan kiri pedangnya membabat leher si pemegang tombak.


"Adik Yang!" panggil Han wen sambil tetap menyerang lawannya, tanpa menoleh ke arah gadis yang diajak bicara.


"Trang....trang...Trang....!"

__ADS_1


Bunyi senjata yang saling beradu, begitu nyaringnya.


Han wen memutar pedang menangkis dua batang golok yang menyambar dari kanan kiri, kemudian pedangnya menyambar.


Hanya dengan menjatuhkan diri, dua orang pengeroyok itu terlepas daripada bahaya maut, lalu meloncat dan mengeroyok lagi bersama teman-teman mereka.


"Ada apa kak Han?" tanya Yang Tek yang penasaran tapi tetap melakukan perlawanan pada musuh mereka.


"Aku....aku cinta padamu!" ucap Han Wen sembari menusukkan pedangnya pada lawannya.


"Jleb...!"


"Aargh...!" suara erangan penjaga tahanan yang tertusuk pedang Han Wen.


"Mampus kau setan!" seru Han Wen dengan geram.


"Trang...Trang...!"


Yang Tek terkejut bukan main dan memandang dengan mata terbelalak, kiranya pemuda pujaan hatinya itu telah menolongnya dari sebuah serangan musuh yang kedua tangannya penuh dengan senjata rahasia pisau kecil.


Untung didahului oleh Han wen yang merobohkan lawan itu dengan pedangnya.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2