Balas Dendam Sang Pendekar

Balas Dendam Sang Pendekar
Siok Lan Mengintai Xiao Yu


__ADS_3

Tindakan ini amat menguntungkan pemerintah Goan sendiri, karena setelah para pekerja mendapat makan cukup dan istirahat cukup, dan kinerja mereka meningkat.


Juga jangka waktu kerja paksa ini diatur, yang lama dibebaskan untuk diganti yang baru, sedangkan istilahnya juga dirobah, bukan lagi kerja paksa, melainkan kerja bakti.


Perjuangan para pejuang yang masih menyembunyikan diri di hutan-hutan sebelah barat An bun berhasil amat baik. Walaupun mereka tidaklah mungkin dapat mengusir penjajah atau mengalahkan barisan penjajah yang amat banyak itu.


Namun memang bukan itu tujuan utama mereka melainkan disesuaikan dengan keadaan mereka yang hanya terdiri dari ratusan orang. Tujuan mereka adalah mencegah terjadinya penindasan-penindasan dan menolong rakyat.


Kalau keadaan rakyat tidak tertindas lagi, dan kalau mereka dapat bergabung dengan barisan pejuang lain yang lebih besar, barulah mungkin mereka akan memikirkan perjuangan untuk membebaskan tanah air dari tangan penjajah.


Sementara itu Siok Lan melamun seorang diri di dalam hutan.


Biasanya ia tidur bersama Tan Li dan Han Wen di bawah sebatang pohon besar akan tetapi malam itu ia menyendiri di tempat gelap.


Hatinya risau mengingat Yu Tian, juga penasaran mengingat Pendekar tanpa gelar. Malam-malam yang lalu ia tidak begitu sedih karena terhibur oleh pekerjaan mengacau An bun.


Akan tetapi semenjak Sum Thian merobah peraturan dan memperketat penjagaan, para pejuang menjadi menganggur dan mulai ia teringat akan urusan pribadi, ia harus menemui Pendekar tanpa gelar.


Tan Li pernah bercerita bahwa pendekar itu kalau datang di waktu malam, datang dan pergi tanpa di ketahui orang lain kecuali mereka yang hendak dijumpainya.


Karena itulah Siok Lan lalu bangkit dan bergerak menyelinap di antara pepohonan di malam yang gelap.


"Biarlah aku akan melakukan perondaan dan pergintaian. Masa aku tidak akan dapat bertemu dengan nya? Kalau ia datang menemui seseorang di hutan ini, tentu aku akan dapat melihatnya dan aku akan keluar, langsung menantangnya! Atau terus saja menyerangnya!" gumam dalam hati Siok Lan yang kini jantungnya berdebar dan tanpa disadarinya lagi, jari tangan kanannya meraba gagang pedangnya.


Malam itu tidak terlalu gelap. Sinar bulan menerobos di antara celah celah daun pohon dan Siok Lan dapat melihat ke depan dalam jarak sepuluh tombak. Ia terus menyelidik dan menyelinap di tempat-tempat gelap.


Para pejuang sudah banyak yang tidur dan hanya mereka yang bertugas jaga saja yang masih berdiri di tempat penjagaan dan ada pula yang meronda. Akan tetapi tak seorangpun dapat melihat Siok Lan yang bergerak hati-hati dan melangkah dengan kaki ringan sekali.

__ADS_1


Tiba tiba gadis ini menghentikan gerakan nya karena ia melihat sesosok bayangan putih berkelebat cepat di sebelah depan. Tubuh yang ramping dan pakaian yang putih itu segera dikenalnya baik-baik.


"Setan kipas merah!" seru dalam hati Siok Lan yang juga berdebar hebat melihat si setan kipas merah bergerak seperti dia, tidak sewajarnya berjalan biasa melainkan menyelinap dan dengan hati-hati seperti orang hendak mengintai.


Kemudian diam-diam Siok Lan mengikuti dari belakang dan cepat menyelinap di balik pohon


ketika ia melihat setan kipas merah melayang naik ke atas pohon dan diam tak bergerak.


Harus diakuinya bahwa di antara para pejuang yang berkumpul di hutan itu hanya ada tiga orang yang lebih tinggi ilmunya daripadanya. Pertama adalah Cui Hwa kedua Ang Han dan ketiga adalah setan kipas merah. Dan Setan kipas merah-lah yang ia tahu amat lihai, lebih lihai daripada Cui Hwa atau Ang Han.


Sekarang dia tahu kalau setan kipas merah diam-diam juga mengintai, seperti dia dan jantungnya berdebar tegang ketika ia melihat seorang bertubuh kecil dan mungil berpakaian putih berdiri menghadapi Yang Tek dan Gui Siong. Agaknya mereka bertiga sedang bicara dengan keras nadanya seperti orang bertengkar.


Sayang pada saat itu, orang yang berpakaian putih itu memutar tubuh sehingga membelakanginya, akan tetapi biarpun ia hanya melihat dari belakang, ia menduga bahwa dia itulah orang yang dicari-cari. Dialah Pendekar Tanpa gelar tunangan nya yang amat sombong terhadap dirinya.


Ingin ia melompat dan menerjang orang sombong itu, akan tetapi betapa ia dapat melakukan hal ini kalau Pendekar tanpa gelar itu sedang bebicara dengan dua orang hadis itu dan di situ terdapat pula Setan kipas merah yang yang mengintai.


percakapan antara mereka bertigapun amat menarik hatinya.


Seperti halnya dengan we yang berdiam di atas pohon tak bengerak Siok Lan pun diam tak bergerak di balik batang pohon, agak jauh di belakang setan kipas merah.


"Sudahlah, harap saudariku, sudahi saja urusan ini dan harap jangan mendesak aku yang tidak merasa bersalah." ucap Pendekar tanpa gelar.


"Memang anda tidak bersalah saudari Xiao. Kami berduapun tidak menyalahkan saudari Xiao Yu. Tapi kedua pemuda kami sangat menghormati keputusan guru mereka dan memaksa mereka menyukai saudari Xiao." ucap Yang Tek dengan berhati-hati.


"Jadi saudari Xiao harap sudi menerima salah satu dari mereka untuk menjadi suami, kalau tidak...


!" ucap Gui Siong yang melanjutkan ucapan Yang Tek.

__ADS_1


"Kalau tidak bagaimana, saudariku?" tanya Xiao Yu yang penasaran.


Pendekar tanpa gelar bertanya dengan nada suara nya membayangkan kekesalan hati.


"Terpaksa kami menantang Saudari Xiao untuk menyelesaikan urusan ini di ujung senjata! Kami rela mati untuk ini!" seru Yang Tek.


"Harap saudari Xiao Yu dapat mempertimbangkan. Hubungan persahabatan kakek Xiao dan juga Biksu Ji, tentu saja hal ini bukan urusan kecil. Bagi mereka, menepati aturan orang yang lebih tua itu merupakan suatu keharusan." ucap Gui Siong.


"Hm, jika semua sahabat kakek mengharuskan seperti itu? apakah aku harus menikah dengan mereka semua? kalian terang mencintai mereka berdua, mengapa memaksa aku harus menjadi istri mereka?" tanya Xiao Yu dengan mengernyitkan kedua alisnya.


"Tidak saudara Ouwyang dan saudara Gui aku tidak mungkin dapat menerima permintaan kalian ini. Ketahuilah, bahwa urusan jodoh bukan urusan sembarangan. Kalian mencinta mereka dan aku dapat menduga bahwa merekapun mercinta kalian, kenapa tidak kalian berdua yang menjadi suami mereka?" lanjut tanya Xiao Yu yang menatap kedua gadis itu satu-persatu.


"Apakah saudari Xiao tidak mencintai salah satu dari mereka?" tanya Yang Tek tidak percaya. Masa di dunia ini ada laki laki yang tidak mencinta dua orang murid Biksu Ji terutama Han Wen.


"Hm...! akupun seorang manusia biasa saudari Yang. Kalau kalian dapat mencintai orang aku....akupun sudah mempunyai pilihan hati sendiri tak mungkin aku menikah dengan orang lain, apalagi dengan kedua orang yang menjadi pilihan hati saudari-saudariku ini!" jelas Xiao Yu.


...~NR~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2